Alexius Tantrajaya Ungkap Alasan ST Burhanuddin Masih Layak Pimpin Kejagung

Minggu, 26 Juli 2026 - 23:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kolase foto Mercinews.com

Kolase foto Mercinews.com

“Evaluasi berbasis kinerja lebih tepat daripada mengganti Jaksa Agung di tengah proses hukum eks Jampidsus yang masih berjalan.”

Jakarta, Mercinews.com – Praktisi hukum Alexius Tantrajaya menilai ST Burhanuddin masih layak memimpin Kejaksaan Agung (Kejagung) di tengah mencuatnya kasus yang menjerat mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus). Menurutnya, yang dibutuhkan saat ini bukan pergantian pimpinan, melainkan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja serta pembenahan internal di lingkungan Korps Adhyaksa.

Alexius mengatakan, ST Burhanuddin masih patut diberi kesempatan untuk mengevaluasi jajarannya sekaligus menuntaskan pembenahan di internal Kejagung.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Jaksa Agung ST Burhanuddin sebaiknya dipertahankan guna melakukan evaluasi atas kinerja jajarannya di Kejaksaan Agung ke depan,” ujar Alexius dalam keterangan tertulis, Minggu (26/7/2026) malam.

Baca Juga:  Wewenang Penyadapan untuk Jaksa Rawan Disalahgunakan

Menurutnya, selama kepemimpinan ST Burhanuddin, Kejagung mencatat berbagai keberhasilan dalam pemberantasan tindak pidana korupsi, termasuk mengungkap sejumlah perkara besar dan memulihkan kerugian negara. Karena itu, evaluasi berbasis kinerja dinilai lebih tepat dibandingkan melakukan pergantian pimpinan di tengah proses hukum yang masih berjalan.

Alexius juga berharap ST Burhanuddin diberi kesempatan menuntaskan penanganan kasus eks Jampidsus bersama Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Pengungkapan perkara secara menyeluruh menjadi langkah penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap institusi penegak hukum.

Ia menegaskan, penyelesaian perkara harus dilakukan secara profesional, transparan, dan mampu mengungkap seluruh pihak yang diduga terlibat.

Soroti Respons Awal Kejagung

Di sisi lain, Alexius menilai respons Kejagung pada awal penanganan kasus tersebut seharusnya lebih tegas. Menurut dia, Jaksa Agung ST Burhanuddin semestinya segera memberhentikan sementara mantan Jampidsus pasca tim Mabes Polri menemukan barang bukti berupa emas batangan, valuta asing, dan uang tunai dalam jumlah besar dari hasil penggeledahan serta penyitaan di sejumlah lokasi yang dikaitkan dengan Febrie Adriansyah.

Baca Juga:  Aktivis 98 Laporkan Firli Bahuri ke Dewas KPK, terkait Pencopotan Brigjen Endar

Menurut Alexius, langkah tersebut diperlukan agar proses hukum dapat berjalan secara independen sekaligus memberikan ruang bagi penyidik untuk mengungkap asal-usul barang bukti serta kemungkinan keterlibatan pihak lain.

Ia juga berpendapat Kejagung semestinya tidak menerima pelimpahan perkara dari Mabes Polri. Keputusan tersebut memunculkan berbagai persepsi negatif di tengah masyarakat maupun kalangan akademisi yang mempertanyakan objektivitas penanganan perkara.

Alexius menilai kasus eks Jampidsus harus menjadi momentum evaluasi besar di tubuh Kejagung, terutama dalam proses seleksi dan penempatan pejabat.

“Proses seleksi dan penempatan pejabat perlu dilakukan secara lebih cermat agar peristiwa serupa tidak kembali terjadi pada masa mendatang,” katanya.

Baca Juga:  Aset PT Acset Indonusa Terancam Disita dalam Kasus Korupsi Tol MBZ

Ia menambahkan, penguatan sistem pembinaan dan pengawasan internal juga diperlukan untuk memperkuat integritas institusi sekaligus menjaga kepercayaan publik.

Pelibatan KPK

Selain itu, Alexius menilai pelibatan KPK penting untuk menjaga objektivitas penanganan kasus eks Jampidsus.

Ia menyebut, keterlibatan lembaga antirasuah dapat memperkuat independensi proses hukum sekaligus menghilangkan berbagai persepsi negatif yang berkembang di tengah masyarakat.

“Kasus ini harus diungkap sampai ke akar-akarnya sehingga kepercayaan publik terhadap Kejaksaan Agung tetap terjaga,” harap advokat senior itu.

Alexius pun kembali berharap penanganan perkara dilakukan secara transparan dan akuntabel sehingga dapat memperkuat kepercayaan masyarakat.

“Sekaligus mendukung terwujudnya pemerintahan yang bersih dari praktik korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN pada era pemerintahan Prabowo-Gibran,” pungkasnya.(red)

Berita Terkait

Nusron Wahid Bisa Dijerat Pasal 21 UU Tipikor jika Terbukti Menghalangi Penyidikan KPK 
Alexius Tantrajaya: Penghapusan Unsur Kerugian Negara Berisiko Lemahkan Pemberantasan Korupsi
LPSK: Restitusi untuk 5.102 Korban Dana Syariah Indonesia Sebesar Rp 1,07 Triliun
Tuntutan Jaksa Ditunda 2 Pekan, Kuasa Hukum Terdakwa Optimistis Perjuangkan Rehabilitasi
Kuntadi Ungkap Strategi Kejagung Berantas Korupsi dan Pulihkan Kerugian Negara
Wakil Jaksa Agung Apresiasi Penerapan Plea Bargain di Kejati Sultra
Pakar Hukum Nilai 29 Entitas dalam Dakwaan Febrie Dapat Dijerat TPPU
Penjelasan Pakar Hukum soal Polemik Jabatan Suhartoyo sebagai Ketua MK

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 23:27 WIB

Nusron Wahid Bisa Dijerat Pasal 21 UU Tipikor jika Terbukti Menghalangi Penyidikan KPK 

Minggu, 25 Oktober 2026 - 23:27 WIB

Alexius Tantrajaya: Penghapusan Unsur Kerugian Negara Berisiko Lemahkan Pemberantasan Korupsi

Jumat, 23 Oktober 2026 - 17:07 WIB

LPSK: Restitusi untuk 5.102 Korban Dana Syariah Indonesia Sebesar Rp 1,07 Triliun

Kamis, 15 Oktober 2026 - 23:11 WIB

Tuntutan Jaksa Ditunda 2 Pekan, Kuasa Hukum Terdakwa Optimistis Perjuangkan Rehabilitasi

Kamis, 15 Oktober 2026 - 01:24 WIB

Kuntadi Ungkap Strategi Kejagung Berantas Korupsi dan Pulihkan Kerugian Negara

Berita Terbaru

Konferensi pers Kantor Imigrasi Kelas I TPI Denpasar terkait pengamanan empat warga negara asing (WNA) dalam patroli keimigrasian pada 28-29 Oktober 2026 di Kantor Imigrasi Denpasar, Senin (2/11/2026). (Foto: istimewa)

Berita

Patroli Keimigrasian, Imigrasi Denpasar Amankan Empat WNA

Senin, 2 Nov 2026 - 19:49 WIB