Rupiah di Level Rp 18.000, Purbaya Ungkap Dampaknya ke APBN

Jumat, 5 Juni 2026 - 01:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa (Foto: istimewa)

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa (Foto: istimewa)

Jakarta, Mercinews.com – Nilai tukar rupiah yang berada di kisaran Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) memunculkan pertanyaan mengenai dampaknya terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa pelemahan kurs masih berada dalam skenario yang telah diperhitungkan pemerintah sehingga belum mengganggu pengelolaan fiskal negara.

Purbaya menjelaskan, salah satu alasan dampak pelemahan rupiah terhadap APBN masih relatif terbatas adalah karena sebagian besar surat utang pemerintah dalam denominasi dolar AS menggunakan skema kupon tetap (fixed rate).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dengan demikian, lanjutnya, perubahan nilai tukar tidak memengaruhi besaran bunga yang harus dibayarkan pemerintah kepada investor.

“Kuponnya fix. Pembayaran utang lewat bond, kuponnya konstan,” kata Purbaya di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (4/6/2026).

Baca Juga:  Ahmad Tholabi: Dana APBN untuk Kurban Presiden Lebih Tepat Disebut Shadaqah Negara

Meski demikian, ia mengakui pelemahan nilai tukar tetap berdampak pada besarnya kewajiban yang harus dibayar ketika dikonversi ke dalam rupiah.

Namun, menurut dia, kondisi tersebut masih berada dalam rentang perhitungan yang telah disusun pemerintah sebelumnya.

Pemerintah Antisipasi Risiko

Purbaya mengatakan pemerintah telah melakukan berbagai simulasi fiskal untuk mengantisipasi perubahan kondisi ekonomi global, termasuk potensi pelemahan rupiah dan kenaikan harga minyak dunia.

Langkah tersebut dilakukan sejak meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga energi dan menambah tekanan terhadap pasar keuangan global.

Menurut Purbaya, berbagai kemungkinan yang dapat memengaruhi APBN telah dimasukkan ke dalam perencanaan fiskal sehingga pemerintah memiliki ruang untuk merespons dinamika yang terjadi.

Dalam kerangka ekonomi makro APBN 2026, pemerintah menetapkan asumsi nilai tukar sebesar Rp 16.500 per dolar AS. Meski kurs saat ini telah melampaui asumsi tersebut, pemerintah menyatakan kondisi yang terjadi masih dalam batas yang telah diperhitungkan.

Baca Juga:  Laba Naik Jadi Rp 6,19 Triliun pada 2025, PTPN IV PalmCo Ungkap Strategi Produktivitas dan Efisiensi

Pemerintah dan Otoritas Keuangan Terus Berkoordinasi

Sementara itu, Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengatakan pemerintah terus memantau perkembangan nilai tukar bersama Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Menurutnya, koordinasi dilakukan secara intensif guna menjaga stabilitas sektor keuangan dan mengantisipasi dampak dari gejolak ekonomi global.

“Kami pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan, kemudian Bank Indonesia, kemudian juga Otoritas Jasa Keuangan terus berkoordinasi secara intens untuk terus memonitor dan kemudian melakukan langkah-langkah,” ujar Prasetyo.

Prasetyo menambahkan bahwa pemerintah tetap mencermati sejumlah indikator ekonomi, termasuk pertumbuhan ekonomi dan inflasi, dalam menjaga stabilitas nasional.

Faktor Global Jadi Pemicu

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menjelaskan tekanan terhadap rupiah dipengaruhi oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong penguatan dolar AS dan meningkatkan ketidakpastian di pasar global.

Baca Juga:  Rupiah Terancam Rp 18.000, Sentimen Global dan Domestik Dorong Dolar AS Menguat

Selain itu, tingginya harga minyak dunia dinilai turut meningkatkan risiko inflasi global dan memicu perpindahan modal dari negara berkembang ke aset yang dianggap lebih aman.

Dari dalam negeri, menurutnya, kebutuhan dolar AS juga masih cukup besar untuk keperluan repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri.

“Selain itu kebutuhan domestik masih cukup besar sesuai dengan pola repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri,” kata Destry.

BI mencatat pelemahan rupiah juga terjadi seiring tekanan yang dialami sejumlah mata uang negara lain di kawasan.

Hingga akhir April 2026, cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar 146,2 miliar dollar AS, yang digunakan untuk mendukung stabilitas nilai tukar dan menjaga ketahanan sektor eksternal nasional.(red)

Berita Terkait

Kebun Bah Jambi PTPN IV Perkuat Ekonomi Simalungun, Serap Lebih dari 500 Tenaga Kerja Lokal
PTPN IV PalmCo Catat Produktivitas Kebun Sawit Mitra 20,18 Ton per Hektare
SIEXPO 2026, PTPN IV PalmCo Perkenalkan Inovasi Digital dan Teknologi Sawit
PTPN IV PalmCo Serap 1.328 Peserta Magang
Laba Bersih KAI Turun Jadi Rp 314 Miliar pada Semester I 2026
PTPN IV PalmCo Borong Tiga Penghargaan Tata Kelola, Bukti Penguatan Kinerja dan Efisiensi
PTPN IV PalmCo Percepat Sertifikasi SDM, Targetkan 5.120 Tenaga Kerja Kompeten
Prabowo Sebut Tim BRIN Temukan Cadangan Emas dan Mineral Baru di Pegunungan Papua

Berita Terkait

Selasa, 1 September 2026 - 17:42 WIB

Kebun Bah Jambi PTPN IV Perkuat Ekonomi Simalungun, Serap Lebih dari 500 Tenaga Kerja Lokal

Senin, 17 Agustus 2026 - 21:09 WIB

PTPN IV PalmCo Catat Produktivitas Kebun Sawit Mitra 20,18 Ton per Hektare

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 11:14 WIB

SIEXPO 2026, PTPN IV PalmCo Perkenalkan Inovasi Digital dan Teknologi Sawit

Rabu, 5 Agustus 2026 - 17:56 WIB

PTPN IV PalmCo Serap 1.328 Peserta Magang

Minggu, 2 Agustus 2026 - 18:34 WIB

Laba Bersih KAI Turun Jadi Rp 314 Miliar pada Semester I 2026

Berita Terbaru

Konsolidasi perdana jajaran pengurus DPD Partai Golkar Sumsel masa bakti 2025-2030 di Aula DPD Partai Golkar Sumsel, Palembang, Minggu (30/8/2026). (Foto: istimewa)

Daerah

Golkar Sumsel Fokus Konsolidasi Internal Pasca-Musda

Senin, 31 Agu 2026 - 17:47 WIB