“Pancasila adalah titik temu kebangsaan yang mempersatukan Indonesia sekaligus pesan moral yang dapat ditawarkan kepada dunia. Indonesia punya tanggung jawab sejarah untuk terus menghadirkan nilai perdamaian, persaudaraan, dan keadilan.”
Jakarta, Mercinews.com – Peringatan Hari Lahir Pancasila yang diperingati setiap 1 Juni tidak sekadar menjadi seremoni tahunan. Momentum ini mengajak bangsa Indonesia untuk meneguhkan kembali nilai-nilai luhur Pancasila sebagai fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara. Di tengah berbagai tantangan global, mulai dari konflik dan peperangan, krisis moral, disrupsi kecerdasan buatan (AI), hingga kerusakan lingkungan.
Pancasila tetap relevan sebagai kompas moral yang menuntun arah pembangunan dan peradaban. Nilai-nilainya menjadi pedoman dalam menjaga kemanusiaan, keadilan, persatuan, serta tanggung jawab bersama demi masa depan yang lebih berkelanjutan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pandangan tersebut disampaikan Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Ahmad Tholabi Kharlie menjelang Hari Lahir Pancasila 2026, Senin, 1 Juni 2026 yang mengusung tema “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia”.
Menurut Ahmad Tholabi, dunia sekarang penuh ketegangan geopolitik, perang berkepanjangan, intoleransi, dan polarisasi gara-gara media sosial. Di tengah itu, Indonesia jadi contoh bangsa besar yang merawat keberagaman. Ribuan pulau, ratusan etnik, bahasa, dan agama tetap hidup dalam satu ikatan.
“Prinsip musyawarah, penghormatan terhadap kemanusiaan, dan keadilan sosial merupakan kontribusi penting Indonesia dalam memperkuat peradaban global yang lebih berkeadaban,” ujar Ahmad Tholabi, Minggu (31/5).
Ia menegaskan, Pancasila tetap relevan saat teknologi bergerak cepat. AI, media sosial, dan budaya digital butuh arah etik agar kemajuan berpihak pada kemanusiaan, bukan malah merusak martabat manusia.
“Persatuan Indonesia pada era digital juga berarti membangun ruang publik yang sehat, menjunjung etika komunikasi, melawan hoaks, ujaran kebencian, intoleransi, dan berbagai bentuk polarisasi,” tegasnya.
Ia mengemukakan bahwa tantangan terbesar generasi muda sekarang bukan cuma jago teknologi, tapi punya kebijaksanaan, etika dialog, dan kedewasaan menyikapi perbedaan.
“Pancasila juga punya dimensi ekologis. Nilai gotong royong dan keadilan sosial bisa jadi dasar moral menghadapi perubahan iklim,” katanya.
“Krisis lingkungan bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga persoalan etika peradaban,” sambung akademisi kelahiran Serang Banten itu.
Dalam panggung global, lanjutnya, Indonesia disebut punya posisi strategis sebagai moral middle power. Tradisi musyawarah dan semangat kemanusiaan jadi modal diplomasi perdamaian antarbangsa.
Tholabi mengapresiasi semangat gotong royong di peringatan tahun ini. Kendati demikian, ia mengingatkan bahwa Pancasila harus hidup di kebijakan publik, pendidikan, dan tata kelola pemerintahan.
Ia menyebutkan bahwa kampus juga punya tugas menanamkan budaya dialog, toleransi, dan etika kebangsaan agar lulusan unggul secara akademik sekaligus matang secara moral.
“Pancasila adalah titik temu kebangsaan yang mempersatukan Indonesia sekaligus pesan moral yang dapat ditawarkan kepada dunia. Indonesia punya tanggung jawab sejarah untuk terus menghadirkan nilai perdamaian, persaudaraan, dan keadilan,” pungkasnya.(red)






