Haedar Nashir: Pers Harus Hadirkan Informasi Independen dan Objektif

Jumat, 14 Agustus 2026 - 00:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir saat menyampaikan Orasi Kebangsaan bertajuk “Pers Berkemajuan: Relasi Media, Agama, dan Semangat Kebangsaan” dalam rangkaian Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah 2026 di Auditorium K.H. Ahmad Azhar Basyir, Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Kamis (13/8/2026). (Foto: Dok. Humas UMJ)

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir saat menyampaikan Orasi Kebangsaan bertajuk “Pers Berkemajuan: Relasi Media, Agama, dan Semangat Kebangsaan” dalam rangkaian Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah 2026 di Auditorium K.H. Ahmad Azhar Basyir, Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Kamis (13/8/2026). (Foto: Dok. Humas UMJ)

Jakarta, Mercinews.com – Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir menegaskan bahwa pers harus menghadirkan informasi yang independen dan objektif sebagai bagian dari perannya dalam kehidupan demokrasi.

Hal itu disampaikan Haedar saat menyampaikan Orasi Kebangsaan bertajuk “Pers Berkemajuan: Relasi Media, Agama, dan Semangat Kebangsaan” dalam rangkaian Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah 2026 di Auditorium K.H. Ahmad Azhar Basyir, Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Kamis (13/8/2026).

Menurut Haedar, pers memiliki peran penting dalam mengungkap realitas yang tidak selalu terlihat di ruang publik. Ia menggambarkan kondisi tersebut melalui perspektif front stage dan backstage, yakni perbedaan antara realitas yang ditampilkan kepada publik dan kondisi yang sebenarnya.

“Panggung depan sering kali penuh drama, rekayasa, dan tidak sepenuhnya menggambarkan realitas yang sebenarnya. Sedangkan panggung belakang itulah yang nyata,” ujar Haedar.

Ia mengatakan, pers perlu menghadirkan pemberitaan yang sedekat mungkin dengan realitas objektif. Namun, kerja jurnalistik tidak hanya berkaitan dengan persoalan benar atau salah, tetapi juga menyangkut nilai baik dan buruk serta pantas dan tidak pantas.

Haedar juga menyoroti tantangan pers di tengah kepentingan pemilik modal dan kekuasaan politik. Tantangan tersebut semakin kompleks dengan berkembangnya media sosial yang memungkinkan setiap orang menyampaikan informasi dan pendapat secara luas.

“Intinya, dulu menulis di media itu penuh proses kurasi dan seleksi. Tidak seperti sekarang, di mana orang bisa asal bicara dan merasa paling benar di media sosial,” katanya.

Baca Juga:  Imigrasi untuk Rakyat, Layanan Paspor CFD Digelar Rutin di Berbagai Wilayah

Pers dan Nilai Agama

Haedar juga menekankan pentingnya nilai agama dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Menurut dia, agama tidak cukup hanya ditempatkan sebagai ritual, tetapi harus mampu memberikan makna, nilai, dan arah kehidupan.

Ia mencontohkan K.H. Ahmad Dahlan yang menjadikan pemahaman agama sebagai kekuatan pembaruan. Pemahaman tersebut kemudian diwujudkan melalui berbagai gerakan di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, dan pemberdayaan masyarakat.

“Agama tidak boleh sekadar menjadi ritual, tetapi harus memberi makna, memberikan nilai, dan membimbing arah,” tegas Haedar.

Dalam konteks kebangsaan, Haedar mengatakan Indonesia dibangun atas kehendak untuk hidup bersama di tengah keberagaman. Kehendak tersebut kemudian dituangkan dalam konsensus nasional, yakni Pancasila dan UUD 1945.

Baca Juga:  NU dan Muhammadiyah Resmi Terima Izin Tambang dari Jokowi

Menurutnya, konsensus kebangsaan perlu dijaga bersama, termasuk oleh pers nasional. Pers harus tetap menjalankan fungsi kontrol sosial, menyuarakan kebenaran dan kebaikan, serta tidak terjebak pada kepentingan pragmatis.

Haedar juga mengungkapkan pengalamannya di dunia jurnalistik selama 42 tahun. Kiprahnya dimulai sebagai wartawan Suara Muhammadiyah. Pengalaman menjadi wartawan lapangan selama hampir lima tahun, kata dia, turut membentuk dirinya sebagai penulis dan jurnalis.

Ia berharap Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah 2026 menjadi momentum memperkuat profesionalisme pers, tradisi literasi, serta kehidupan kebangsaan yang mencerahkan dan membawa kemaslahatan.(red)

Berita Terkait

Haedar Nashir Terima Kartu Wartawan Utama Khusus di Hari Pers Muhammadiyah 2026
KOSMAK Soroti Enam Dugaan Perkara dalam Bedah Buku ‘Memberantas Korupsi Sembari Korupsi’
Menteri PPPA Minta Keamanan Siswa Dijaga Usai Temuan Senjata dan Narkotika di Sekolah
Alexius Tantrajaya Ungkap Alasan ST Burhanuddin Masih Layak Pimpin Kejagung
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Usai Diperiksa Kejagung Terkait Dugaan Korupsi dan TPPU
Hotman Paris Mundur sebagai Kuasa Hukum Febrie Adriansyah, Ini Alasannya
KPK Ungkap Dugaan Aliran Rp 12,4 Miliar ke Bupati Lombok Barat
Kejagung Pastikan Pertemuan Kajati dan Kapolda untuk Perkuat Hubungan Kelembagaan

Berita Terkait

Jumat, 14 Agustus 2026 - 00:55 WIB

Haedar Nashir: Pers Harus Hadirkan Informasi Independen dan Objektif

Kamis, 13 Agustus 2026 - 23:58 WIB

Haedar Nashir Terima Kartu Wartawan Utama Khusus di Hari Pers Muhammadiyah 2026

Senin, 10 Agustus 2026 - 22:45 WIB

KOSMAK Soroti Enam Dugaan Perkara dalam Bedah Buku ‘Memberantas Korupsi Sembari Korupsi’

Minggu, 9 Agustus 2026 - 21:08 WIB

Menteri PPPA Minta Keamanan Siswa Dijaga Usai Temuan Senjata dan Narkotika di Sekolah

Minggu, 26 Juli 2026 - 23:55 WIB

Alexius Tantrajaya Ungkap Alasan ST Burhanuddin Masih Layak Pimpin Kejagung

Berita Terbaru