Mercinews.com – Serangan kelompok Houthi ke Arab Saudi kembali membuat harga minyak dunia bergejolak di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan kekhawatiran terhadap pasokan energi.
Serangan Houthi yang menyasar sejumlah wilayah Arab Saudi terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Kelompok yang didukung Iran itu dilaporkan melancarkan serangan rudal dan drone ke Riyadh serta sejumlah wilayah lainnya.
Dikutip dari Reuters, Senin (21/9/2026), harga minyak mentah Brent berada di kisaran US$103 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) AS sekitar US$99 hingga US$100 per barel.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kelompok Houthi mengklaim telah menyerang sejumlah lokasi yang disebut sensitif di Riyadh, termasuk fasilitas milik Saudi Aramco di Yanbu, kota pelabuhan di pesisir Laut Merah yang menjadi salah satu pusat ekspor minyak Arab Saudi.
Pemerintah Arab Saudi menyatakan pertahanan udaranya berhasil mencegat serangan rudal balistik yang diarahkan ke Riyadh.
Serangan Houthi tersebut memicu peringatan keamanan di ibu kota dan suara ledakan sempat terdengar di sekitar kawasan bandara. Tidak ada laporan korban jiwa maupun kerusakan yang dikonfirmasi pemerintah Saudi.
Selain Riyadh, serangan juga dilaporkan menyasar Yanbu, Taif, Bisha, dan Farasan. Otoritas Saudi menyatakan serangan terhadap sejumlah wilayah tersebut berhasil digagalkan.
Houthi menyatakan serangan itu menargetkan sejumlah lokasi penting sebagai bagian dari eskalasi konflik.
Namun, klaim mengenai kerusakan pada fasilitas Saudi Aramco di Yanbu belum disertai bukti yang dapat diverifikasi secara independen.
Yanbu menjadi perhatian pasar karena pelabuhan tersebut merupakan jalur penting bagi ekspor minyak Arab Saudi.
Gangguan terhadap infrastruktur energi dan jalur ekspor berpotensi memengaruhi jumlah minyak yang dapat dikirim ke pasar global.
Reuters melaporkan, serangan terhadap infrastruktur minyak Saudi sebelumnya telah mendorong Saudi Aramco mengalihkan sebagian ekspor melalui Selat Hormuz setelah pengiriman melalui Yanbu sempat dihentikan.
Ekspor minyak Arab Saudi disebut telah kembali meningkat menjadi lebih dari 4 juta barel per hari pada September, dibandingkan sekitar 2,4 juta barel per hari pada Agustus.
Perubahan jalur ekspor tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat pasar tidak hanya memperhatikan serangan terbaru, tetapi juga kemampuan Arab Saudi mempertahankan aliran minyak ke pasar internasional.
Di sisi lain, risiko gangguan pasokan masih menjadi perhatian karena sejumlah jalur energi di kawasan telah mengalami gangguan akibat konflik.
Reuters sebelumnya melaporkan kerusakan pada jaringan pipa East-West Arab Saudi sempat mengancam aliran minyak melalui jalur tersebut yang dapat mengangkut sekitar 4 juta barel per hari.
Kondisi itu membuat pasar minyak bergerak sensitif terhadap setiap perkembangan konflik.
Investor tidak hanya mencermati serangan terhadap fasilitas minyak, tetapi juga perkembangan keamanan jalur pelayaran seperti Selat Hormuz dan Laut Merah.
Pada perdagangan Senin, harga minyak justru bergerak melemah setelah pasar mempertimbangkan kemungkinan pemulihan ekspor Arab Saudi.
Harga Brent turun sekitar 0,78 persen menjadi US$103,06 per barel, sedangkan WTI turun sekitar 0,89 persen menjadi US$99,41 per barel pada awal perdagangan.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa pasar minyak saat ini berada di antara dua tekanan, yakni risiko gangguan pasokan akibat konflik dan harapan terhadap pemulihan distribusi minyak Arab Saudi.
Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada situasi keamanan di kawasan serta kemampuan Arab Saudi menjaga fasilitas dan jalur ekspornya. Setiap gangguan baru terhadap infrastruktur energi berpotensi kembali memengaruhi harga minyak dunia.(Red)






