Wewenang Penyadapan untuk Jaksa Rawan Disalahgunakan

Jumat, 11 Juli 2025 - 11:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Alexius Tantrajaya, S.H., M.Hum.(Foto: Dok.Pribadi)

Alexius Tantrajaya, S.H., M.Hum.(Foto: Dok.Pribadi)

“Penyadapan adalah alat yang sangat sensitif dan bisa menjadi pisau bermata dua. Bila disalahgunakan oleh oknum jaksa yang tidak bertanggung jawab, dampaknya bukan hanya pada korban, tapi juga bisa merusak kepercayaan publik terhadap hukum.”

JAKARTA, MERCINEWS.COM – Praktisi hukum senior, Alexius Tantrajaya, menyatakan keberatannya terhadap rencana pemberian kewenangan penyadapan kepada institusi Kejaksaan dalam Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (RKUHAP). Ia menilai, pemberian kewenangan tersebut sangat berisiko disalahgunakan dan belum tepat diberikan dalam kondisi saat ini.

“Penyadapan adalah alat yang sangat sensitif dan bisa menjadi pisau bermata dua. Bila disalahgunakan oleh oknum jaksa yang tidak bertanggung jawab, dampaknya bukan hanya pada korban, tapi juga bisa merusak kepercayaan publik terhadap hukum,” ujar Alexius kepada wartawan, Jumat (11/7).

Alexius menyoroti kasus konkret yang menunjukkan potensi penyimpangan di tubuh Kejaksaan, yakni kasus penggelapan barang bukti senilai Rp11,7 miliar dari perkara investasi ilegal Robot Trading.

Dalam kasus itu, mantan Jaksa Kejaksaan Negeri Jakarta Barat, Azam Akhmad Akhsya, terbukti bersalah dan dijatuhi hukuman 7 tahun penjara oleh Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta Pusat. Vonis tersebut lebih berat dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta yang hanya menuntut 4 tahun penjara.

“Kasus itu memperlihatkan bahwa bahkan dalam hal penegakan hukum internal, Kejaksaan belum menunjukkan ketegasan maksimal. Kalau pelanggaran berat seperti penggelapan barang bukti saja hanya dituntut 4 tahun, lalu hakim yang harus memperberat, bagaimana kita bisa mempercayakan wewenang penyadapan kepada institusi yang sama?” kritik Alexius.

Ia menilai, masih banyak oknum di lingkungan Kejaksaan yang bisa menyalahgunakan alat penyadapan untuk kepentingan pribadi atau kelompok, terutama jika mekanisme pengawasan internal belum kuat. Oleh karena itu, Alexius menegaskan bahwa pemberian kewenangan penyadapan kepada Kejaksaan dalam RKUHAP sebaiknya ditiadakan.

Baca Juga:  Presiden Prabowo Sahkan UU Penyesuaian Pidana Selaraskan Aturan dengan KUHP

Menurutnya, sebelum diberikan kewenangan baru, Kejaksaan harus terlebih dahulu membersihkan institusinya dari jaksa-jaksa bermasalah serta memulihkan kepercayaan masyarakat.

Ia juga mendesak agar Kejaksaan menindak secara tegas dan tanpa kompromi terhadap semua pihak yang diduga terlibat dalam kasus penggelapan barang bukti, sebagaimana terurai dalam dakwaan Jaksa Penuntut Umum terhadap Azam.

“Kita butuh lembaga hukum yang bersih dan kredibel. Jika lembaga tersebut belum bisa memberikan jaminan integritas dari dalam, maka tak pantas diberi alat kekuasaan tambahan yang rawan disalahgunakan,” tutup Alexius.

Sebelumnya, Kejaksaan Agung (Kejagung) memastikan bahwa fungsi penyadapan dilakukan secara profesional dalam konteks penegakan hukum. Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung, Harli Siregar, menegaskan bahwa penyadapan bukan dilakukan sembarangan atau untuk melanggar privasi masyarakat.

Baca Juga:  LBH IPTI Resmi Dideklarasikan: Suara Keadilan Baru dari Komunitas Tionghoa

“Jadi, tidak sembarang ya,” kata Harli dalam keterangannya kepada wartawan, Kamis (26/6/2025).

Ia menjelaskan bahwa penyadapan dilakukan melalui fungsi intelijen yang dimiliki Kejaksaan dalam rangka mendukung tugas penegakan hukum secara menyeluruh.

Pernyataan tersebut disampaikan menyusul kerja sama Jaksa Agung Muda Intelijen (JAM-Intel) Kejaksaan Agung dengan sejumlah penyedia layanan telekomunikasi seperti PT Telekomunikasi Indonesia Tbk, PT Telekomunikasi Selular, PT Indosat Tbk, dan PT XL Smart Telecom Sejahtera Tbk. Kerja sama ini bertujuan memperkuat pertukaran dan pemanfaatan informasi untuk kepentingan intelijen hukum.

“Ini murni karena dalam konteks penegakan hukum, perlu ada fungsi yang bisa mendukung dan membantu itu, sehingga perlu dikerjasamakan,” ujar Harli.(red)

Berita Terkait

Kejagung Pastikan Pertemuan Kajati dan Kapolda untuk Perkuat Hubungan Kelembagaan
Perwakum Dukung Polresta Denpasar Usut Dugaan Oknum Wartawan Minta Uang
KPK Geledah Rumah Anggota BPK Terkait Dugaan Suap Audit di Muara Enim
Darsuli: Kasus Eks Jampidsus Ujian Integritas Penegak Hukum
Soroti Dinamika Polri dan Kejagung, Ini Saran Alexius Tantrajaya ke Presiden
GMPK Apresiasi Kortastipidkor Polri, Minta Dugaan Korupsi Batu Bara Diusut Tuntas
KOSMAK Minta KPK Ambil Alih Penanganan Dugaan Suap Perkara Sugar Group
Sidang Pendiri Rumah Singgah Clow Berlanjut, Kuasa Hukum Soroti Perbedaan Pasal Dakwaan

Berita Terkait

Rabu, 15 Juli 2026 - 18:18 WIB

Kejagung Pastikan Pertemuan Kajati dan Kapolda untuk Perkuat Hubungan Kelembagaan

Rabu, 15 Juli 2026 - 00:49 WIB

Perwakum Dukung Polresta Denpasar Usut Dugaan Oknum Wartawan Minta Uang

Selasa, 14 Juli 2026 - 19:02 WIB

KPK Geledah Rumah Anggota BPK Terkait Dugaan Suap Audit di Muara Enim

Senin, 13 Juli 2026 - 10:12 WIB

Darsuli: Kasus Eks Jampidsus Ujian Integritas Penegak Hukum

Minggu, 12 Juli 2026 - 12:14 WIB

Soroti Dinamika Polri dan Kejagung, Ini Saran Alexius Tantrajaya ke Presiden

Berita Terbaru