Denpasar, Mercinews.com – Sebanyak 25 tokoh dari berbagai elemen masyarakat di Bali menyatakan dukungan terhadap Anggota DPD RI Arya Wedakarna (AWK). Dukungan tersebut mengemuka dalam pertemuan perdana Forum Peduli Bali yang juga disiapkan sebagai wadah untuk menyerap dan mengawal aspirasi masyarakat daerah.
Pertemuan yang digagas Semeton Ksatria Pancasila Provinsi Bali itu mempertemukan tokoh agama, tokoh budaya, organisasi kemasyarakatan, pemuda, pecalang, serta elemen masyarakat lainnya di Denpasar, Kamis (20/8/2026).
Selain menyatakan dukungan kepada AWK, Forum Peduli Bali akan menjadi ruang bersama untuk membahas berbagai persoalan yang berkembang di Bali. Forum tersebut juga menaruh perhatian pada adat, budaya, persatuan, toleransi, serta persoalan rasisme dan diskriminasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketua Semeton Ksatria Pancasila Provinsi Bali Gede Oka mengatakan, Forum Peduli Bali terbuka bagi seluruh masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap Bali.
“Forum ini adalah forum peduli dengan Bali. Siapa pun yang peduli dengan Bali, tentu dipersilakan untuk bergabung. Tujuan utama kita adalah menjaga Bali, yang dilandasi oleh niat, kepedulian, dan semangat kebersamaan,” kata Gede Oka.
Menurutnya, kehadiran tokoh dari berbagai latar belakang menunjukkan bahwa kepedulian terhadap Bali tidak dibatasi oleh kepentingan politik maupun kelompok tertentu.
“Ini membuktikan bahwa lintas kepentingan, lintas politik, semua tokoh yang hadir adalah tokoh-tokoh yang peduli dengan Bali. Ini merupakan bentuk terbentuknya sebuah forum yang nantinya akan berlanjut pada kegiatan-kegiatan berikutnya,” ujarnya.
Forum Peduli Bali, kata Gede Oka, juga akan melibatkan tokoh lintas agama dan lintas generasi, mulai dari generasi senior, milenial, hingga Generasi Z. Menurut dia, komunikasi antargenerasi penting untuk mencegah perbedaan cara pandang berkembang menjadi kesalahpahaman.
“Kesalahpahaman itu dimulai dari miskomunikasi. Terkadang gaya komunikasi era milenial dengan era Gen Z itu sedikit berbeda. Karena itu, perlu kiranya kita mengajak tokoh lintas generasi untuk hadir agar bisa menyuarakan niat kita bersama,” katanya.
Dalam pertemuan tersebut, Gede Oka juga menyampaikan dukungan terbuka kepada AWK. Ia menyoroti berbagai kritik dan serangan yang muncul di media sosial terhadap anggota DPD RI asal Bali itu.
“Saya mendengar di media sosial banyak pihak yang tidak berkepentingan terhadap Bali menyerang beliau. Saya tegaskan hari ini, saya siap pasang badan untuk beliau,” tegas Gede Oka.
Gede Oka menilai, Bali membutuhkan figur yang berani menyampaikan kepentingan daerah di tingkat nasional.
“Jarang kita memiliki pejabat yang berani bersuara. Sekarang kita punya figur yang berani sekaligus menjabat. Maka dalam konteks peduli Bali, patut untuk kita dukung dan kawal bersama,” ujarnya.
Gede Oka menegaskan bahwa adat dan budaya merupakan bagian penting dari identitas Bali. Karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk generasi muda, untuk menjaga toleransi, keharmonisan, dan kebersamaan.
“Bali menjadi berbeda dengan pulau-pulau lain di dunia karena ada adat dan pembawaan budayanya. Jika bukan kita orang Bali yang menjaga Bali, tidak akan mungkin orang lain yang melakukannya. Mari tingkatkan toleransi, saling merangkul, dan bersama-sama menjaga Bali,” tutupnya.
Pertanyakan Tudingan Rasisme
Dukungan serupa disampaikan tokoh masyarakat Anak Agung Kartika. Ia mempertanyakan tudingan rasisme yang diarahkan kepada AWK dan menilai anggota DPD RI tersebut selama ini aktif menyuarakan persoalan serta kepentingan masyarakat Bali.
“Yang kami pertanyakan adalah kenapa AWK yang peduli sangat dengan Bali, dengan masyarakat Bali, membela Bali, malah dianggap rasis. Rasisnya di mana? Itu yang kami sayangkan,” kata AA Kartika.
Ia mengatakan, sekitar 25 tokoh yang hadir dalam pertemuan tersebut sepakat mendukung AWK dalam menyuarakan kepentingan Bali. Namun, menurut dia, dukungan tersebut tidak berarti menutup ruang terhadap perbedaan pendapat.
“Kami tetap akan mendukung suara AWK. Kami sepakat bersama tokoh-tokoh Bali menyikapi apa yang terjadi di media sosial terkait tuduhan rasisme yang ditujukan kepada tokoh kita,” ujarnya.
AA Kartika menilai keberanian AWK menyampaikan berbagai persoalan Bali perlu dilihat dari manfaat dan kepentingan yang diperjuangkannya. Meski demikian, ia mengakui gaya komunikasi AWK tidak selalu diterima secara positif oleh semua pihak.
“Beliau juga tidak lepas dari kesalahan-kesalahan. Tetapi kami melihat dari asas manfaatnya. Keberanian beliau menyampaikan kepentingan Bali atau hal-hal yang terjadi di Bali itu menjadi satu kebanggaan,” katanya.
Ia berharap perbedaan pandangan yang berkembang di ruang publik tidak berujung pada konflik yang dapat merugikan masyarakat dan daerah Bali.
“Ini adalah negara demokrasi. Kalau masalah opini, boleh saja. Tetapi mari kita berpikir secara realistis dan membiasakan berpikir positif,” ujar AA Kartika.(red)






