81 Tahun Indonesia Merdeka, Gubernur BI Akan Tetap Menghadapi Lingkaran Setan

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 09:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ichsanuddin Noorsy (Foto: istimewa)

Ichsanuddin Noorsy (Foto: istimewa)

“Persoalannya bukan hanya siapa yang menjadi Gubernur BI, tetapi bagaimana sistem ekonomi Indonesia dibangun secara struktural, fundamental, dan fungsional.”

Oleh Ichsanuddin Noorsy

Pengusulan Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) mengulang kebijakan Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), saat mengusulkan Boediono.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Juga ketika “melempar” Agus Martowardoyo dari Lapangan Banteng ke Thamrin. Ini sama dengan membuat DPR tidak punya pilihan kecuali menyetujui subjektivitas Presiden Prabowo.

Destry adalah bankir Bank Mandiri yang dikenal cermat dalam menganalisis ekonomi. Kecermatan dan kepekaan atas situasi saat ini memang dibutuhkan.

Baca Juga:  Transformasi Reformasi Birokrasi Polri Berbasis Moral, Literasi bagi Kemanusiaan dan Modern

Soalnya, kondisi kekinian seperti yang disampaikan IMF masih penuh ketidakpastian.

Artinya, Destry sebagai Gubernur BI juga menghadapi situasi nan gelap, suatu situasi yang sulit diprediksi. Bayangkan, anjloknya cadangan devisa RI yang pada Januari 2026 US$154,6 miliar menjadi US$145,3 miliar pada Juli 2026.

Artinya, selama tujuh bulan cadangan tersebut terkuras US$9,3 miliar. Atau, per bulannya, kemampuan membayar utang dan impor berkurang US$1,3285 miliar. Anjloknya cadangan itu juga membuktikan bahwa instrumen moneter BI tidak ampuh.

Lihat kenaikan SRBI yang berada dalam kisaran 7,2 persen hingga 7,63 persen. Dampaknya adalah suku bunga tabungan pun naik. Imbal hasil SBN pun ikut melonjak.

Baca Juga:  Putusan MK, Ingatkan Polri Gunakan Manajemen Talenta

Pada level ini terjadi persaingan suku bunga antara SRBI, SBN, bunga tabungan, dan bunga bank sentral AS (Fed fund rate).

 

Pemilik modal pun lantas menoleh pada persentase kejatuhan nilai tukar yang berkisar di atas 10 persen. Saat yang sama, Indonesia tergantung pada impor energi, impor bahan baku dan bahan penolong. Juga impor teknologi dan jasa lainnya.

Maka, kecermatan dan kepekaan atas situasi ekonomi global, regional, dan nasional tidak cukup mampu mengatasi lingkaran setan pelemahan rupiah yang berkesinambungan.

Jelas, soalnya bukan hanya siapa yang menjadi Gubernur BI, tetapi bagaimana sebenarnya sistem ekonomi Indonesia secara struktural, fundamental, dan fungsional.

Baca Juga:  Simposium Dekrit Presiden 5 Juli 1959, Kenapa Kembali ke UUD 1945: Menjawab Tantangan Nasional dan Global

Data yang saya miliki sejak 1964 hingga saat ini, sebagaimana tersaji dalam materi presentasi dan buku-buku saya, membuktikan, dalam aspek fiskal dan moneter, Indonesia masih terjajah.

Ini peringatan sangat mendasar di saat kita merayakan 81 tahun Indonesia merdeka. Mengatasinya? Saya sudah menyampaikan ke jejaring rezim bagaimana Manifesto Ekonomi Konstitusional. Buat Destry Damayanti, selamat menekuni lingkaran setan itu.

*Ichsanuddin Noorsy adalah ekonom yang juga pengamat politik Indonesia.


Disclaimer: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan menjadi tanggung jawab penulis sebagai bahan diskursus publik.

Berita Terkait

Transformasi Mathla’ul Anwar, Dari Warisan Sejarah Menuju Gerakan Masa Depan
Menjemput Fajar Abad Kedua Mathla’ul Anwar
Rebahan yang Ditakuti Negara
Hilangnya Disiplin Kelembagaan
Menolak Gugatan Ganti Rugi Immateriil, Pengadilan Negeri Bekasi Menguntungkan PT BKP?
Sipilisasi Polri dan Jalan Panjang Reformasi yang Terlupakan
Don Dasco Layak Jadi Wapres, Apalagi Mendagri
Korupsi Penyakit Kronis yang Meruntuhkan Fondasi Peradaban Bangsa

Berita Terkait

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 09:05 WIB

81 Tahun Indonesia Merdeka, Gubernur BI Akan Tetap Menghadapi Lingkaran Setan

Selasa, 11 Agustus 2026 - 22:55 WIB

Transformasi Mathla’ul Anwar, Dari Warisan Sejarah Menuju Gerakan Masa Depan

Senin, 10 Agustus 2026 - 13:13 WIB

Menjemput Fajar Abad Kedua Mathla’ul Anwar

Sabtu, 18 Juli 2026 - 12:26 WIB

Rebahan yang Ditakuti Negara

Minggu, 28 Juni 2026 - 18:25 WIB

Hilangnya Disiplin Kelembagaan

Berita Terbaru