“Kami menaruh harapan kepada NU, rawatlah ulama, pertahankan marwah keulamaan, jauhkan kepemimpinan dari politik uang dan transaksi kepentingan, didik kader, jaga persatuan umat, kawal moral bangsa, dan lahirkan pemimpin-pemimpin terbaik untuk Indonesia.”
Oleh: Samsudin Dayan, S.H., M.Si.
Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang akan diselenggarakan pada 27-31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, bukan sekadar agenda lima tahunan organisasi. Bagi umat Islam dan bangsa Indonesia, muktamar merupakan momentum untuk membaca perjalanan umat, menjawab tantangan zaman, dan merumuskan arah perjuangan ke depan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tambakberas memiliki sejarah panjang dalam keulamaan, pendidikan pesantren, dan perjuangan kebangsaan. Karena itu, umat berharap dari tempat tersebut lahir keputusan besar yang tidak hanya memperkuat NU sebagai jam’iyah, tetapi juga memberikan kontribusi bagi masa depan Indonesia.
Tema “Merawat Jagat, Membangun Peradaban” mengandung pesan penting. Merawat jagat berarti menjaga kehidupan, kemanusiaan, lingkungan, persatuan, dan keadilan. Membangun peradaban berarti menghadirkan manusia yang berilmu, berakhlak, berintegritas, dan mampu mengemban amanah bagi masyarakat, bangsa, dan negara.
NU dan Sejarah Perjuangan Umat
Hubungan sejarah NU dan Masyumi merupakan bagian penting dari perjalanan politik umat Islam Indonesia. Pada awal kemerdekaan, para ulama dan tokoh Islam membangun wadah politik bersama untuk memperjuangkan kepentingan umat dan mempertahankan kemerdekaan.
NU menjadi salah satu kekuatan penting dalam Masyumi. KH Hasyim Asy’ari menjadi Ketua Majelis Syuro Masyumi, sementara KH Abdul Wahid Hasyim dan KH Wahab Chasbullah merupakan tokoh penting dalam perjuangan politik umat.
Masyumi dan NU pernah berada dalam satu rumah perjuangan. Karena dinamika politik, NU kemudian berdiri sebagai partai politik sendiri pada 1952. Sejarah tersebut hendaknya menjadi pelajaran bahwa umat Islam Indonesia memiliki tradisi persatuan, musyawarah, dan perjuangan untuk kemaslahatan umat dan bangsa.
Atas dasar sejarah itu, Partai Masyumi memandang Muktamar ke-35 NU dengan penuh penghormatan dan harapan.
Kepemimpinan dan Marwah Keulamaan
Partai Masyumi berharap Muktamar ke-35 melahirkan kepemimpinan yang berilmu, amanah, berintegritas, independen, dan memiliki visi kebangsaan yang kuat.
Indonesia membutuhkan pemimpin yang tidak menjadikan kekuasaan sebagai tujuan, melainkan amanah untuk melayani rakyat. Pemimpin harus tetap memiliki prinsip ketika berada di luar kekuasaan dan tetap berintegritas ketika berada di dalam kekuasaan.
Di tengah politik yang semakin pragmatis dan transaksional, NU diharapkan mampu menjadi kekuatan moral dan teladan demokrasi. Politik uang tidak boleh menjadi ukuran dalam menentukan kepemimpinan. Pergantian kepemimpinan harus didasarkan pada ilmu, akhlak, rekam jejak, kemampuan, integritas, dan musyawarah.
Keulamaan bukan sekadar gelar atau kedudukan, melainkan keteladanan, kejujuran, kesederhanaan, keberanian menyampaikan kebenaran, dan kemampuan menempatkan kepentingan umat di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.
Karena itu, Muktamar ke-35 hendaknya menjadi teladan bahwa organisasi besar seperti NU mampu menjaga marwah keulamaan dan menghadirkan demokrasi yang bersih, sehat, dan bermartabat.
Dari Pesantren untuk Indonesia
Pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga membentuk akhlak, kedisiplinan, kemandirian, dan tradisi pengabdian. Dari pesantren telah lahir banyak tokoh yang memberikan kontribusi besar bagi Indonesia.
NU diharapkan semakin serius menyiapkan kader terbaik pesantren untuk mengisi berbagai ruang pengabdian nasional, mulai dari pemerintahan, parlemen, pendidikan, ekonomi, politik, teknologi, hukum, diplomasi, hingga media.
Indonesia membutuhkan pemimpin yang tidak hanya mampu mengelola kekuasaan, tetapi juga memiliki moral dan keteladanan. Inilah salah satu kontribusi terbesar pesantren bagi bangsa.
Menjaga Persatuan dan Moral Bangsa
NU diharapkan tetap menjadi kekuatan moral yang mampu menyampaikan amar ma’ruf nahi munkar secara objektif kepada siapa pun yang memegang kekuasaan. Pemerintah harus didukung ketika kebijakannya benar dan berpihak kepada rakyat, tetapi harus diingatkan ketika kebijakannya tidak adil atau merugikan rakyat.
Muktamar ke-35 juga diharapkan memperkuat ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah insaniyah. Perbedaan pilihan politik, mazhab, organisasi, maupun partai tidak boleh menghilangkan persaudaraan.
Energi umat harus diarahkan untuk menjawab persoalan kemiskinan, pendidikan, ketimpangan ekonomi, pengangguran, korupsi, kerusakan lingkungan, dan berbagai persoalan kebangsaan lainnya.
Doa dan Harapan
Partai Masyumi menyampaikan penghormatan dan doa kepada seluruh peserta Muktamar ke-35 NU. Semoga para muktamirin diberikan kejernihan hati, keluasan ilmu, ketajaman pikiran, dan keikhlasan dalam mengambil keputusan.
Semoga dari Tambakberas lahir kepemimpinan NU yang kuat, mandiri, solid, dan berintegritas serta gagasan besar bagi kemaslahatan umat dan bangsa. Semoga dari rahim pesantren terus lahir pemimpin Indonesia yang berilmu, beriman, berakhlak, cinta Tanah Air, dan berani memperjuangkan keadilan.
Partai Masyumi meyakini bahwa masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh siapa yang berkuasa, tetapi juga oleh kualitas manusia yang mengelola kekuasaan.
Karena itu, kami menaruh harapan kepada NU, rawatlah ulama, pertahankan marwah keulamaan, jauhkan kepemimpinan dari politik uang dan transaksi kepentingan, didik kader, jaga persatuan umat, kawal moral bangsa, dan lahirkan pemimpin-pemimpin terbaik untuk Indonesia.
Selamat bermuktamar kepada seluruh keluarga besar Nahdlatul Ulama.
Merawat Jagat, Membangun Peradaban.
Jakarta, 26 Agustus 2026
*Penulis adalah Sekretaris Jenderal Partai Masyumi.
Disclaimer: Tulisan ini merupakan bagian dari diskursus dan pandangan penulis.






