Prof Bakir Ihsan: Pragmatisme Transaksional dalam Praktik Politik Tantang Demokrasi

Rabu, 30 September 2026 - 13:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Guru Besar Ilmu Politik FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. A. Bakir Ihsan, M.Si. (Foto: istimewa)

Guru Besar Ilmu Politik FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. A. Bakir Ihsan, M.Si. (Foto: istimewa)

MERCINEWS.COM – Guru Besar Ilmu Politik FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. A. Bakir Ihsan, M.Si., menyampaikan pandangannya mengenai demokrasi Indonesia dalam orasi ilmiah pengukuhannya sebagai Guru Besar Ilmu Politik, Rabu (30/9/2026).

Pengukuhan tersebut berlangsung pada Program Studi Ilmu Politik FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dalam kesempatan itu, Bakir menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Ideologi Politik yang Terbelah: Institusionalisasi Pancasila untuk Konsolidasi Demokrasi di Indonesia”.

Dalam orasinya, Bakir mengatakan persoalan demokrasi Indonesia selama ini kerap dikaitkan dengan elite politik, korupsi, dan oligarki. Menurut dia, terdapat persoalan lain yang lebih mendasar, yakni pembelahan ideologi politik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Pancasila hidup dalam konstitusi, pidato, dan seremoni kenegaraan, tetapi pragmatisme-transaksional justru hidup dalam praktik politik sehari-hari,” kata Bakir.

Baca Juga:  SMPN 69 Borong Juara Abnon Cilik dan Remaja Kencur Jakarta Barat 2026

Bakir mengatakan Indonesia tidak mengalami krisis ideologi karena berbagai kekuatan politik masih mengakui Pancasila. Menurut dia, persoalan yang dihadapi adalah pelembagaan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan politik.

Ia menyebut sejumlah praktik politik yang menurutnya menunjukkan menguatnya pragmatisme-transaksional, antara lain politik patronase, biaya politik yang mahal, transaksi kekuasaan, distribusi jabatan berbasis kompromi, oligarki, dan politik dinasti.

“Ketika berbagai lembaga internasional secara konsisten mencatat penurunan kualitas demokrasi Indonesia, persoalannya bukan lagi sekadar siapa yang berkuasa. Pertanyaan yang lebih penting adalah nilai apa yang sebenarnya mengendalikan institusi politik kita,” ujarnya.

Menurut Bakir, kondisi tersebut membuat demokrasi Indonesia berjalan secara prosedural melalui pemilu, tetapi menghadapi persoalan pada aspek substantif. Ia mengaitkan kondisi itu dengan fenomena democratic backsliding.

Institusionalisasi Pancasila

Bakir kemudian menyampaikan gagasan mengenai institusionalisasi Pancasila sebagai bagian dari upaya konsolidasi demokrasi di Indonesia.

Baca Juga:  Izwan El Jaman: Negara Harus Ambil Alih Jika Keluarga Gagal Mendidik Anak

Menurutnya, sila pertama dapat diterjemahkan menjadi etika publik, sila kedua menjadi perlindungan terhadap martabat manusia, dan sila ketiga menjadi politik integrasi.

Sementara itu, sila keempat, kata Bakir, dapat diwujudkan melalui deliberasi dan representasi. Adapun sila kelima dapat menjadi landasan bagi keadilan distributif.

“Menguatkan demokrasi tidak cukup hanya dengan mengganti pemimpin melalui pemilu lima tahunan. Yang harus diperbaiki adalah institusi yang memungkinkan pragmatisme-transaksional terus direproduksi,” kata Bakir.

Ia menyebut reformasi pembiayaan politik, demokratisasi partai, dan penguatan masyarakat sipil sebagai agenda yang perlu dilakukan.

Bakir juga mengatakan Pancasila tidak seharusnya berhenti sebagai slogan dalam kehidupan bernegara.

“Masalah demokrasi Indonesia bukan karena Pancasila ditinggalkan, tetapi karena Pancasila belum sepenuhnya menjadi institusi yang mengatur perilaku politik,” ujarnya.

Baca Juga:  Dirut PTPN IV PalmCo Beri Kuliah Umum di FEB UI, Ajak Mahasiswa Kenali Potensi Diri

“Kita terlalu berhasil menjadikan Pancasila sebagai simbol, tetapi belum cukup berhasil menjadikannya sebagai praktik,” lanjut Bakir.

Menurut Bakir, Pancasila dapat menjadi kekuatan politik ketika nilai-nilainya diwujudkan dalam hukum, birokrasi, partai politik, dan penyelenggaraan kekuasaan.

“Pancasila akan menjadi kekuatan politik yang nyata bukan ketika paling sering diucapkan, melainkan ketika mampu diwujudkan menjadi hukum yang adil, birokrasi yang bersih, partai yang demokratis, dan kekuasaan yang akuntabel. Di situlah sesungguhnya kualitas demokrasi Indonesia diuji,” kata Bakir.

Bakir merupakan akademisi bidang ilmu politik yang menekuni kajian demokrasi, politik Islam, dan kebijakan publik. Ia juga pernah menjabat Wakil Dekan FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta selama dua periode.(red)

Berita Terkait

Jejak Akademik Prof. Hasani Ahmad Said, dari Pesantren Cilegon hingga Guru Besar UIN Jakarta
Dirut PTPN IV PalmCo Beri Kuliah Umum di FEB UI, Ajak Mahasiswa Kenali Potensi Diri
SMPN 69 Borong Juara Abnon Cilik dan Remaja Kencur Jakarta Barat 2026
UNIS Tangerang Gelar Yudisium Pascasarjana, 243 Mahasiswa Lulus dan Siap Wisuda
Kemendikdasmen Didesak Beri Sanksi Tegas bagi Sekolah yang Menahan Ijazah dan SKL
PKBM Langgeng Ikhlas Depok, Sekolah Tanpa Biaya Jadi Harapan Warga Putus Sekolah
KPK Soroti Modus Titipan dan Pungli SPMB, Sekolah Diingatkan Jangan Main-main
SPMB 2026: Anak Belum 7 Tahun Tetap Bisa Daftar SD, Ini Ketentuan dari Kemendikdasmen

Berita Terkait

Rabu, 30 September 2026 - 13:29 WIB

Prof Bakir Ihsan: Pragmatisme Transaksional dalam Praktik Politik Tantang Demokrasi

Rabu, 30 September 2026 - 11:57 WIB

Jejak Akademik Prof. Hasani Ahmad Said, dari Pesantren Cilegon hingga Guru Besar UIN Jakarta

Minggu, 23 Agustus 2026 - 13:08 WIB

Dirut PTPN IV PalmCo Beri Kuliah Umum di FEB UI, Ajak Mahasiswa Kenali Potensi Diri

Senin, 3 Agustus 2026 - 12:47 WIB

SMPN 69 Borong Juara Abnon Cilik dan Remaja Kencur Jakarta Barat 2026

Minggu, 2 Agustus 2026 - 12:56 WIB

UNIS Tangerang Gelar Yudisium Pascasarjana, 243 Mahasiswa Lulus dan Siap Wisuda

Berita Terbaru