Sumut, Mercinews.com – PTPN IV PalmCo menguji pemanfaatan serangga penyerbuk asal Tanzania, Afrika Timur, di Kebun Marihat, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, sebagai upaya meningkatkan produktivitas kelapa sawit nasional.
Uji coba ini dilakukan sebagai proyek percontohan untuk menjawab tantangan dalam pembentukan buah atau fruit set yang selama ini belum optimal pada sejumlah perkebunan sawit.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, mengatakan inovasi berbasis riset diperlukan untuk meningkatkan efisiensi di tengah ketatnya persaingan industri sawit global.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Jatmiko, proses penyerbukan alami di lapangan tidak selalu berjalan optimal akibat faktor cuaca serta keterbatasan populasi serangga penyerbuk lokal.
“Selama ini penyerbukan masih banyak mengandalkan metode manual. Namun cara tersebut membutuhkan biaya dan tenaga kerja yang cukup besar,” ujar Jatmiko.
Dengan introduksi serangga penyerbuk dari Afrika, perusahaan berupaya mengembalikan proses penyerbukan ke mekanisme alami yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Secara terpisah, SEVP Operation PTPN IV, Rediman Silalahi, menjelaskan bahwa kualitas penyerbukan sangat berpengaruh terhadap pembentukan tandan buah sawit.
Ia menyebut penyerbukan yang tidak sempurna dapat menyebabkan “buah ompong”, yakni kondisi ketika sebagian buah tidak berkembang secara optimal sehingga menurunkan produktivitas per hektare.
Menurut dia, kehadiran spesies serangga penyerbuk dari Tanzania diharapkan dapat meningkatkan tingkat keberhasilan penyerbukan dan menghasilkan pembentukan buah yang lebih merata.
Selain berpotensi meningkatkan produksi, inovasi ini juga dinilai dapat menekan biaya operasional yang selama ini digunakan untuk penyerbukan manual.
Program di Kebun Marihat ini akan menjadi proyek percontohan yang hasilnya akan dievaluasi untuk pengembangan lebih luas di berbagai wilayah perkebunan sawit di Indonesia.
Program tersebut juga melibatkan sejumlah pemangku kepentingan, di antaranya Kementerian Pertanian, Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit, Badan Karantina Indonesia, serta lembaga riset dan asosiasi industri sawit.
Melalui kolaborasi tersebut, inovasi ini diharapkan tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga memperkuat aspek keberlanjutan industri sawit nasional di tengah dinamika pasar global.(red)






