Kuningan, Mercinews.com – Staf Khusus (Stafsus) Menteri Agama (Menag) Gugun Gumilar menyebut kehadirannya di acara Seren Taun masyarakat adat Sunda Wiwitan, Kabupaten Kuningan, sebagai kehormatan sekaligus kebahagiaan. Menurutnya, kegiatan itu bukan sekadar tradisi budaya, tapi momentum menjaga nilai luhur, kebersamaan, rasa syukur, dan warisan kearifan lokal.
“Seren Taun mengingatkan kita bahwa budaya, pendidikan, dan nilai-nilai kebangsaan harus terus berjalan beriringan demi menjaga jati diri bangsa Indonesia,” ujar Gugun, Senin (8/6/2026).
Gugun bernostalgia masa SD yang sering mewakili sekolah lomba cerdas cermat hingga kabupaten dan lomba tembang Pupuh Sunda. Salah satu pupuh yang membekas baginya adalah “Pupuh Sinom”.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Pupuh Sinom menggambarkan rasa senang, kegembiraan atau gumbira, serta kasih sayang atau kadeudeuh. Nama saya Gugun Gumilar artinya a man of happiness,” kata Gugun sembari tersenyum.
Ia menyoroti pesan mendalam dari pupuh tersebut bahwa ilmu lebih penting daripada harta. Ilmu bersifat kekal, menerangi pemiliknya, dan jadi penentu arah hidup.
“Harta jika hanya disimpan lambat laun akan usang. Harta terkadang membuat hati menjadi keras, sedangkan ilmu justru menerangi hati dan membentuk kebijaksanaan,” tegasnya.
Pendidikan Harus Berkarakter dan Berakar Budaya
Gugun menekankan pendidikan tidak hanya soal transfer pengetahuan. Tapi juga pembentukan karakter, penghormatan budaya, dan menyiapkan generasi muda hadapi tantangan masa depan.
“Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang mengakar kuat pada budaya lokal dan nasional, namun tetap terbuka terhadap perkembangan global dan dinamika geopolitik internasional,” pungkasnya.
Sebagai informasi, Seren Taun Sunda Wiwitan rutin digelar sebagai wujud syukur dan pelestarian tradisi adat masyarakat Kuningan.(red)






