Ciamis, Mercinews.com – Kunjungan Ketua Umum Majelis Adat Sunda, Irjen Pol (Purn.) Dr. H. Anton Charliyan atau yang akrab disapa Abah Anton, ke Kampung Adat Kuta, Desa Karangpaningal, Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat menjadi ajang penyampaian aspirasi masyarakat adat.
Melalui keterangan tertulis, Jumat (19/6/2026) Abah Anton menyampaikan, warga Kampung Adat berharap Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi alias KDM dapat berkunjung langsung untuk melihat potensi sekaligus berbagai persoalan yang mereka hadapi.
Kedatangan Abah Anton bersama sejumlah pengurus Majelis Adat Sunda Jawa Barat, Kamis (18/6/2026), disambut Tetua Adat Kampung Kuta Ki Warja, Wakil Tetua Adat Abah Udin, Sekretaris Adat Firman, Ketua DKM Abah Didi, serta tokoh masyarakat setempat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam pertemuan tersebut, para sesepuh adat memaparkan sejarah kampung mereka yang dikenal sebagai salah satu kawasan pelestarian budaya Sunda di wilayah timur Jawa Barat. Mereka juga menjelaskan kondisi geografis, kehidupan sosial masyarakat, hingga berbagai tantangan yang masih dihadapi warga.
Menurut para tokoh adat, Kampung Kuta memiliki nilai sejarah yang erat kaitannya dengan Kerajaan Galuh. Nama Kuta diyakini berasal dari kata “mahkota” dan disebut memiliki hubungan dengan cikal bakal pembangunan Keraton Galuh pada masa Prabu Ajar Sukaresi sekitar abad ke-10.
Saat ini, Kampung Adat Kuta dihuni sekitar 97 kepala keluarga dengan luas wilayah mencapai 185 hektare. Sebagian wilayahnya merupakan kawasan Leuweung Tutupan atau hutan larangan seluas sekitar 31 hektare yang hingga kini tetap dijaga kelestariannya berdasarkan aturan adat.
Selain menjaga warisan budaya, masyarakat Kampung Adat Kuta menggantungkan hidup dari sektor pertanian dan perkebunan. Berbagai komoditas seperti aren, kopi, dan kelapa menjadi sumber penghidupan utama warga. Produk gula aren dan gula semut yang dihasilkan secara tradisional bahkan dikenal memiliki kualitas yang baik.
Kesulitan Air Bersih
Namun, potensi tersebut belum dapat berkembang secara optimal akibat keterbatasan sarana pengairan. Warga mengaku sering mengalami kesulitan air bersih saat musim kemarau, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun pertanian.
“Ketika musim kemarau, warga tidak hanya kesulitan mengelola lahan pertanian, tetapi juga mengalami keterbatasan air untuk kebutuhan sehari-hari seperti mandi, mencuci, dan memasak,” ujar Abah Anton usai berdialog dengan masyarakat.
Selain persoalan air bersih, kondisi infrastruktur juga menjadi perhatian warga. Meski akses menuju Kampung Adat Kuta dari jalur Ketapang-Banjar relatif baik, sebagian ruas jalan melalui jalur Kawali masih mengalami kerusakan. Di dalam kawasan kampung adat, sekitar 1.300 meter jalan lingkungan juga membutuhkan perbaikan.
Dalam dialog tersebut, masyarakat turut menyampaikan sejumlah kebutuhan lain, seperti legalitas tanah ulayat, pembangunan fasilitas adat, termasuk Bale Ageung, Bumi Alit, Bumi Ageung, lumbung padi atau leuit, gerbang adat, hingga perbaikan Monumen Kalpataru yang menjadi bagian dari identitas kampung.
Warga juga mengusulkan program penghijauan melalui penanaman pohon keras dan tanaman produktif bernilai ekonomi, seperti aren, kopi, pala, kelapa hibrida, durian, nanas, buah naga, dan tanaman obat keluarga.
Menurut Abah Anton, berbagai aspirasi tersebut menunjukkan kuatnya komitmen masyarakat adat dalam menjaga kelestarian budaya sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga.
Karena itu, masyarakat berharap Gubernur KDM dapat berkunjung langsung ke Kampung Adat Kuta untuk melihat kondisi yang sebenarnya.
“Selama ini masyarakat mengaku belum pernah menerima kunjungan gubernur ke Kampung Adat Kuta. Mereka berharap Pak Dedi Mulyadi dapat datang dan melihat langsung potensi budaya yang dimiliki sekaligus persoalan yang masih dihadapi warga,” kata Abah Anton.
Ia menilai Kampung Adat Kuta merupakan aset budaya yang penting bagi Jawa Barat. Selain menjaga tradisi leluhur, masyarakat setempat juga memiliki semangat kuat dalam melestarikan lingkungan dan mengembangkan potensi ekonomi berbasis kearifan lokal.
“Melalui perhatian pemerintah dan dukungan berbagai pihak, kita berharap Kampung Adat Kuta dapat terus berkembang tanpa kehilangan identitas budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun,” ujar budayawan Sunda kelahiran Tasikmalaya yang pernah menjabat Kapolda Jabar itu.(red)






