Jakarta, Mercinews.com – Sekretaris Kabinet atau Seskab Teddy Indra Wijaya menegaskan pemerintah terbuka terhadap kritik terkait lawatan luar negeri Presiden Prabowo Subianto. Namun, ia meminta kritik tidak mengaburkan capaian yang sudah diraih selama 1,5 tahun terakhir.
“Ruang untuk setiap masukan tentu kita terima, tetapi jangan sampai kita mengaburkan fakta tentang semua hasil yang telah kita capai,” kata Seskab Teddy dalam tayangan resmi Sekretariat Kabinet di Jakarta, Senin (1/6/2026) malam.
Penegasan itu menjawab kritik Mantan Wamenlu RI sekaligus pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal di media sosial pribadinya. Tayangan 6 menit lebih itu berisi 8 poin jawaban dan klarifikasi Seskab atas kritik Dino.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Teddy mengawali dengan mengapresiasi masukan Dino.
“Terima kasih atas masukan yang telah diberikan, sangat cermat dan terstruktur. Saya pikir beliau adalah diplomat hebat, pernah menjadi Wakil Menteri Luar Negeri, walau hanya diberi kesempatan sekitar tiga bulan,” ujarnya.
Ada empat poin utama yang diklarifikasi Teddy. Pertama, biaya perjalanan yang disebut sangat besar.
Teddy menegaskan, kelebihan biaya di luar anggaran negara ditanggung pribadi Presiden Prabowo.
“Segala kelebihan biaya yang telah dianggarkan oleh negara, itu sepenuhnya ditanggung oleh pribadi Presiden Prabowo,” katanya.
Kedua, jumlah rombongan. Teddy menyebut jumlah delegasi era Prabowo sudah dipangkas 50% dibanding periode sebelumnya. Dulu bisa 120 orang, sekarang maksimal 50-60 orang.
Ketiga soal jadwal lawatan. Soal saran Dino agar jadwal diumumkan sebulan/seminggu sebelum berangkat, Teddy menjelaskan jadwal terbagi dua yakni jadwal tahunan seperti KTT ASEAN, G20, APEC, BRICS, SMU PBB dan jadwal mendesak sesuai dinamika global seperti konflik Ukraina, Timur Tengah, dan situasi Palestina.
Keempat, frekuensi dan gaya diplomasi. Teddy menyebut Prabowo menjabat saat dunia krisis, sehingga perlu bangun ‘kedekatan personal’ antarpemimpin.
“Perlu kedekatan pribadi, kedekatan emosional antarpemimpin. Jadi, salah besar kalau dibilang hanya gagah-gagahan, seremonial. Jadi, kita harus lihat apa yang sudah dicapai dalam 1,5 tahun terakhir ini,” tegasnya.
Menurut Teddy, hubungan dekat antarpemimpin dunia harus dibangun sejak awal, bukan baru saat krisis minta bantuan. (red)






