Jakarta, Mercinews.com – Kepergian aktor Epy Kusnandar pada Rabu (3/12/2025) menjadi pukulan besar bagi dunia seni peran Indonesia. Industri hiburan kehilangan salah satu sosok yang selama puluhan tahun menjadi rujukan dalam memerankan karakter-karakter bernuansa kuat dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Dunia akting mengenang Epy Kusnandar bukan hanya karena popularitasnya, melainkan karena jejak panjang yang ia tinggalkan di panggung teater, layar kaca, dan film layar lebar. Perannya sebagai Kang Mus dalam sinetron Preman Pensiun menjadi ikon budaya tersendiri, namun kontribusi Epy jauh melampaui satu karakter.
Epy Kusnandar dikenal sebagai aktor yang mampu menghidupkan figur-figur marjinal dengan kejujuran emosional, sesuatu yang jarang dimiliki para pemeran lain.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kabar meninggalnya aktor kelahiran Garut ini pertama kali disampaikan istrinya, Karina Ranau, melalui unggahan di Instagram. Menurut informasi yang dibagikan, jenazah disemayamkan di Harmony Residence 88, Jalan Pasir Jagakarsa, Jakarta Selatan, dan dimakamkan di TPU Jeruk Purut pada Kamis (4/12/2025).
Bagi banyak pelaku seni, Epy Kusnandar merupakan salah satu aktor yang menjembatani generasi lama dan baru. Ia memulai dari panggung teater ruang yang membentuk disiplin dan ketajaman rasa sebelum masuk ke televisi dan film. Pilar-pilar dasar yang ia pelajari di teater terus terbawa dalam setiap perannya: ketelitian membaca karakter, pendalaman emosi, dan komitmen terhadap proses kreatif.
Di layar, Epy memerankan puluhan karakter yang melekat di benak penonton. Kemampuannya membumikan dialog dan menghadirkan gestur yang seolah lahir dari pengalaman nyata menjadikan dirinya rujukan bagi banyak aktor muda. Rekan-rekannya mengenang Epy sebagai sosok pekerja keras yang selalu memberikan ruang diskusi bagi pemain lain, tanpa melihat perbedaan usia atau popularitas.
Di luar panggung, Epy bersama Karina Ranau mengembangkan usaha kuliner jukut goreng Samali yang mereka buka pada Oktober 2025. Meski sempat menghadapi gangguan aksi premanisme, usaha itu tetap berjalan berkat kegigihan keduanya dan dukungan publik yang besar terhadap sosok Epy.
Epy meninggalkan istri dan tiga anak yang selama ini menjadi pusat kehidupan pribadinya. Namun di ruang yang lebih luas, ia juga meninggalkan warisan karya yang akan terus dikenang para penikmat seni peran. Perjalanan panjangnya menjadi bagian penting dari evolusi akting Indonesia, sebuah kontribusi yang tak akan lekang meski ia telah berpulang.
Karya-karya Epy Kusnandar tetap hidup dalam adegan, dalam dialog, dan dalam cara publik memahami karakter-karakter kecil yang justru menjadi pusat cerita. Dunia seni peran kehilangan salah satu penjaga mutunya hari ini, tetapi jejaknya akan terus menjadi panduan bagi generasi berikutnya.(red)






