MERCINEWS.COM – Penyitaan kapal kargo berbendera Iran oleh militer Amerika Serikat (AS) di Teluk Oman memicu ketegangan baru di tengah berlangsungnya gencatan senjata antara kedua negara.
Komando Pusat Amerika Serikat (Centrom) menyatakan, kapal bernama Touska disita pada Minggu (19/4/2026) setelah diduga tidak mematuhi arahan blokade laut yang diberlakukan terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Menurut pihak AS, kapal tersebut telah diperingatkan selama beberapa jam sebelum akhirnya dihentikan dan diambil alih oleh pasukan angkatan laut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Langkah tersebut menuai kecaman keras dari pemerintah Iran. Kementerian Luar Negeri Iran menilai tindakan AS sebagai pelanggaran hukum internasional sekaligus melanggar kesepakatan gencatan senjata dua pekan yang mulai berlaku pada awal April.
Dalam pernyataannya, Teheran menyebut penyitaan kapal dagang itu sebagai bentuk “pembajakan maritim” dan menuntut pembebasan kapal beserta seluruh awaknya.
“Republik Islam Iran akan menggunakan seluruh kapasitasnya untuk membela kepentingan nasional dan keamanannya,” demikian pernyataan resmi pemerintah Iran.
Selain itu, otoritas Iran juga memperingatkan bahwa tindakan tersebut berpotensi memicu eskalasi lebih lanjut di kawasan.
Penyitaan kapal ini merupakan bagian dari kebijakan blokade laut yang diterapkan Amerika Serikat sejak pertengahan April terhadap aktivitas pelayaran yang terkait dengan Iran.
Centrom menyebut sedikitnya 27 kapal komersial telah diminta berbalik arah atau kembali ke pelabuhan Iran sejak kebijakan tersebut diberlakukan. Sejumlah laporan juga menyebut kapal Touska diduga membawa barang dengan kategori “dual-use” atau berpotensi digunakan untuk kepentingan sipil maupun militer.
Ketegangan di Tengah Upaya Diplomasi
Insiden ini terjadi saat upaya diplomasi masih berlangsung untuk meredakan konflik antara kedua negara. Gencatan senjata sementara yang dimediasi pihak ketiga dijadwalkan berlangsung hingga akhir April. Namun, penyitaan kapal tersebut dinilai dapat mengganggu proses negosiasi yang tengah berjalan.
Dalam beberapa pekan terakhir, kawasan Teluk Oman dan Selat Hormuz memang menjadi titik panas konflik, menyusul serangkaian insiden militer dan pembatasan jalur pelayaran strategis dunia.
Pengamat menilai, tindakan saling tuding antara Washington dan Teheran berisiko memperburuk stabilitas kawasan, terutama jika tidak diiringi langkah deeskalasi.
Hingga kini, belum ada kejelasan mengenai nasib kapal Touska maupun awaknya, sementara kedua pihak masih mempertahankan posisi masing-masing. Situasi ini menambah ketidakpastian di kawasan yang menjadi jalur vital perdagangan energi global tersebut.(red)






