MERCINEWS.COM – Kepala Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed), Lorie Logan, menilai penutupan Selat Hormuz akibat konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran berpotensi mengancam pasokan minyak dan gas dunia.
Lorie Logan menyatakan kondisi tersebut dinilai dapat memicu gangguan distribusi energi global serta mendorong kenaikan harga minyak apabila jalur pelayaran strategis itu tetap ditutup dalam waktu lama.
“Dengan pasokan yang sangat terbatas, jika pengiriman melalui selat tersebut tidak segera kembali ke tingkat sebelum perang, konsumsi minyak dan gas alam dunia mungkin perlu turun lebih signifikan dibandingkan yang terjadi saat ini,” ujar Logan seperti dikutip dari Reuters, Kamis (28/5/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Logan, dampak ekonomi global nantinya akan sangat bergantung pada kemampuan negara dan pelaku industri dalam beralih ke sumber energi alternatif serta meningkatkan efisiensi penggunaan energi.
Ia menilai tekanan ekonomi dapat ditekan apabila ketergantungan terhadap minyak dan gas berhasil dikurangi tanpa harus memangkas aktivitas ekonomi secara besar-besaran.
“Konsekuensi ekonominya akan bergantung pada sejauh mana pengguna akhir dapat beralih ke sumber energi lain atau menggunakan energi secara lebih efisien dibandingkan mengurangi aktivitas ekonomi,” katanya.
Di sisi lain, Logan juga mengungkapkan hasil survei terhadap perusahaan minyak Amerika Serikat yang memperkirakan kenaikan produksi minyak AS masih terbatas dalam dua tahun ke depan.
Bank Sentral AS menyebutkan produksi minyak negaranya diperkirakan hanya meningkat sekitar 250.000 barel per hari pada tahun ini dan sekitar 500.000 barel per hari pada tahun depan.
Kondisi tersebut dinilai belum cukup untuk menutup potensi kekurangan pasokan energi global akibat terganggunya distribusi minyak selama konflik berlangsung.
Menurut Logan, perang yang terjadi saat ini telah memangkas sekitar 13 juta barel pasokan minyak per hari dari pasar global.
Meski demikian, ia memperkirakan pasar energi dunia tetap akan berupaya mencari titik keseimbangan dalam waktu dekat.
“Jika pasokan energi itu tidak tersedia, dunia memang tidak bisa mengonsumsinya,” ujar Logan.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia karena menjadi lintasan utama ekspor minyak dari kawasan Timur Tengah ke berbagai negara.
Gangguan di kawasan tersebut kerap memicu lonjakan harga minyak dan meningkatkan ketidakpastian ekonomi global.(red)
Sumber Berita : Reuters






