Komisi I DPR Ingatkan Bahaya Judol, Syahrul Aidi Maazat: Siapa Pun Bisa Jadi Korban

Rabu, 29 Juli 2026 - 11:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Anggota Komisi I DPR RI, Syahrul Aidi Maazat, saat diskusi publik bertema

Anggota Komisi I DPR RI, Syahrul Aidi Maazat, saat diskusi publik bertema "Bijak Digital Tanpa Judi Online" yang digelar secara daring, Selasa (28/7/2026). (Foto: Dok. DPR RI)

Jakarta, Mercinews.com – Anggota Komisi I DPR RI, Syahrul Aidi Maazat, mengingatkan bahwa praktik judi online (judol) dapat menjerat siapa saja tanpa memandang latar belakang profesi, usia, maupun status sosial. Karena itu, ia mengajak masyarakat meningkatkan literasi digital dan memperkuat pengendalian diri agar tidak terjebak dalam aktivitas ilegal yang merugikan tersebut.

Pernyataan itu disampaikan Syahrul saat menjadi narasumber dalam diskusi publik bertema “Bijak Digital Tanpa Judi Online” yang digelar secara daring, Selasa (28/7/2026). Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) bersama Komisi I DPR RI sebagai bagian dari upaya memperkuat kesadaran masyarakat terhadap penggunaan ruang digital yang sehat dan bertanggung jawab.

Menurut Syahrul, perkembangan teknologi informasi telah membawa banyak manfaat dalam kehidupan masyarakat. Namun, kemudahan akses internet juga menghadirkan tantangan baru, salah satunya maraknya praktik judol yang semakin mudah dijangkau melalui perangkat digital.

“Internet ibarat pisau bermata dua. Jika dimanfaatkan dengan baik akan memberikan manfaat besar, tetapi jika disalahgunakan dapat menimbulkan dampak yang merugikan. Salah satunya adalah judi online,” ujarnya.

Ia menjelaskan, saat ini seseorang cukup memiliki telepon seluler, akses internet, dan sejumlah uang untuk dapat mengakses situs judol. Kondisi tersebut membuat risiko terpapar praktik perjudian semakin tinggi sehingga diperlukan pengendalian diri serta pemahaman yang baik mengenai bahaya aktivitas tersebut.

Syahrul menilai anggapan bahwa judol hanya menyasar kelompok masyarakat tertentu merupakan persepsi yang keliru. Menurutnya, siapa pun dapat menjadi korban apabila tidak mampu mengendalikan diri dalam memanfaatkan teknologi digital.

“Pelaku maupun korban judi online berasal dari berbagai kalangan. Karena itu, setiap orang harus memiliki kesadaran untuk tidak mencoba ataupun terlibat dalam aktivitas tersebut,” katanya.

Baca Juga:  Jakarta Terasa Lebih Gerah, Ini Penjelasan BMKG

Ia menambahkan, dampak judol tidak hanya dirasakan oleh pelakunya, tetapi juga keluarga dan lingkungan sekitar. Persoalan ekonomi, konflik rumah tangga, gangguan psikologis, hingga potensi munculnya tindak pidana merupakan sejumlah risiko yang dapat ditimbulkan akibat kecanduan berjudi secara daring.

“Ketika seseorang sudah mengalami kecanduan, dampaknya bisa sangat luas. Keharmonisan keluarga terganggu, kondisi keuangan memburuk, bahkan dapat memicu tindakan melanggar hukum,” ujarnya.

Syahrul juga menilai kecanduan judol memiliki karakteristik yang menyerupai bentuk kecanduan lainnya sehingga memerlukan kesadaran, dukungan keluarga, dan lingkungan untuk membantu proses pemulihan.

85 Persen Pengguna Internet

Dalam kesempatan yang sama, pegiat literasi digital Gun Gun Siswandi menyampaikan bahwa penetrasi internet di Indonesia terus meningkat. Berdasarkan data terbaru, sekitar 85 persen penduduk Indonesia atau sekitar 234 juta jiwa telah menggunakan internet.

Baca Juga:  Gempa NTT, BNPB Catat 53 Orang Meninggal Dunia dan 135 Luka

Menurut Gun Gun, dominasi pengguna internet dari kalangan generasi muda menjadi tantangan tersendiri dalam membangun budaya digital yang sehat.

“Teknologi digital harus dimanfaatkan untuk kegiatan yang produktif, meningkatkan kapasitas diri, dan membuka peluang ekonomi, bukan digunakan untuk aktivitas yang merugikan seperti judi online,” katanya.

Ia menambahkan, upaya menciptakan ruang digital yang aman tidak dapat dilakukan pemerintah sendiri, tetapi memerlukan kolaborasi keluarga, lembaga pendidikan, komunitas, dan masyarakat luas.

Diskusi tersebut juga menghadirkan praktisi hukum Fadhel Arjuna Adinda yang memaparkan aspek hukum terkait praktik judol serta pentingnya penegakan hukum dan langkah-langkah preventif untuk menekan penyebaran aktivitas ilegal tersebut.

Melalui forum ini, Komisi I DPR RI bersama Komdigi berharap masyarakat semakin memahami risiko judol serta mampu memanfaatkan teknologi digital secara cerdas, aman, dan bertanggung jawab.(red)

Berita Terkait

Imigrasi Ngurah Rai Deportasi 7 WNA, Kasus Paspor Palsu hingga Prostitusi
Patroli Keimigrasian, Imigrasi Denpasar Amankan Empat WNA
Pesan Nasi Padang Berujung Penipuan, Konsumen Kecewa dengan RM Pagi Sore BSD
Stafsus Menag Ungkap Status Lembaga Hamalatul Quran yang Digerebek Polisi
Konser Andrea Bocelli di Borobudur, Polda Jateng Siapkan Rekayasa Lalu Lintas
Imigrasi Ngurah Rai Deportasi WNA India Pemilik Dua Paspor Berbeda
Gerak Cepat Imigrasi Ngurah Rai, 12 WNA Dideportasi dari Bali dalam Dua Pekan
Diduga Terlibat Sindikat Judol, 21 WNA Diamankan Imigrasi di Kuta Bali

Berita Terkait

Senin, 2 November 2026 - 20:03 WIB

Imigrasi Ngurah Rai Deportasi 7 WNA, Kasus Paspor Palsu hingga Prostitusi

Senin, 2 November 2026 - 19:49 WIB

Patroli Keimigrasian, Imigrasi Denpasar Amankan Empat WNA

Minggu, 1 November 2026 - 18:33 WIB

Pesan Nasi Padang Berujung Penipuan, Konsumen Kecewa dengan RM Pagi Sore BSD

Minggu, 1 November 2026 - 18:18 WIB

Stafsus Menag Ungkap Status Lembaga Hamalatul Quran yang Digerebek Polisi

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 14:12 WIB

Imigrasi Ngurah Rai Deportasi WNA India Pemilik Dua Paspor Berbeda

Berita Terbaru

Konferensi pers Kantor Imigrasi Kelas I TPI Denpasar terkait pengamanan empat warga negara asing (WNA) dalam patroli keimigrasian pada 28-29 Oktober 2026 di Kantor Imigrasi Denpasar, Senin (2/11/2026). (Foto: istimewa)

Berita

Patroli Keimigrasian, Imigrasi Denpasar Amankan Empat WNA

Senin, 2 Nov 2026 - 19:49 WIB