Jakarta, Mercinews.com – PTPN IV PalmCo memperkuat kemitraan dengan petani untuk menjaga pasokan bahan baku kelapa sawit bagi pengolahan crude palm oil (CPO) melalui peremajaan kebun, peningkatan produktivitas dan penyerapan hasil panen.
Kemitraan tersebut dilakukan untuk menjaga kesinambungan pasokan bahan baku CPO PTPN IV PalmCo dari kebun petani rakyat.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K. Santosa mengatakan, peningkatan kebutuhan sawit untuk sektor energi perlu diikuti dengan peningkatan produktivitas kebun rakyat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Jatmiko, sekitar 30 persen pasokan bahan baku pengolahan industri di PalmCo berasal langsung dari kebun petani rakyat.
“Petani sawit adalah pilar utama industri ini. Sekitar 30 persen pasokan bahan baku pengolahan industri di PalmCo berasal langsung dari hasil kebun petani rakyat. Karena itu, peningkatan produktivitas kebun rakyat menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan industri sawit sekaligus menjawab kebutuhan energi nasional,” kata Jatmiko dalam keterangan tertulis, Rabu (16/9/2026).
Berdasarkan data PalmCo, pembelian tandan buah segar (TBS) dari petani mitra hingga Juli 2026 mencapai 2,095 juta ton.
Khusus Juli 2026, pembelian TBS dari petani mitra tercatat 361.494 ton. Jumlah tersebut meningkat 40,78 persen dibandingkan Juli 2025.
Rendemen CPO PTPN IV PalmCo dari TBS petani mitra yang dibeli hingga Juli 2026 tercatat sebesar 18,56 persen.
PalmCo juga mencatat margin kontribusi dari pembelian TBS petani mitra hingga Juli 2026 sebesar Rp125,29 miliar.
Nilai tersebut tercatat 226 persen dari target RKAP 2026 dan meningkat 216 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Dalam kemitraan dengan petani, PalmCo menerapkan sejumlah skema, antara lain pengelolaan kebun bersama atau single management, penyediaan bibit unggul bersertifikat, pembelian hasil panen, dan penguatan kelembagaan koperasi tani.
Pendampingan kepada petani juga mencakup penerapan praktik perkebunan berkelanjutan melalui dukungan sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO).
Jatmiko menambahkan, peremajaan kebun merupakan bagian dari pengembangan usaha petani dan industri sawit.
“Peremajaan harus kita lihat sebagai investasi jangka panjang bagi petani dan industri. Ketika kebun rakyat kembali produktif, petani memperoleh basis usaha yang lebih kuat, sementara perusahaan mendapatkan kepastian pasokan TBS yang lebih berkelanjutan,” terang Jatmiko.
Menurut Jatmiko, peningkatan produktivitas kebun rakyat juga berkaitan dengan kebutuhan bahan baku sawit untuk sektor energi, termasuk program B50.
“Ketika kebun rakyat kembali produktif, petani memperoleh basis usaha yang lebih kuat, sementara perusahaan mendapatkan kepastian pasokan TBS yang lebih berkelanjutan,” katanya.
Ia kembali menegaskan bahwa kemitraan dengan petani akan terus dikembangkan. Pengembangan melalui peningkatan produktivitas dan kualitas hasil panen, penguatan akses pasar, kelembagaan petani, serta penerapan praktik perkebunan berkelanjutan.
“Pengembangan kemitraan tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri sawit PalmCo dan mendukung kebutuhan sawit untuk sektor pangan serta energi,” katanya.(red)






