Jakarta, Mercinews.com – Produktivitas kebun kelapa sawit petani mitra PTPN IV PalmCo rata-rata mencapai 20,18 ton per hektare hingga Juli 2026. Angka tersebut berada di atas standar 19 ton per hektare yang menjadi acuan Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS).
Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K. Santosa mengatakan, capaian tersebut didukung kemitraan dengan petani yang mencakup kepastian penyerapan hasil panen dan pendampingan pengelolaan kebun.
“Fokus kami memastikan terciptanya ekosistem kemitraan yang sehat. Kami hadir memberikan kepastian pasar, sekaligus membina sisi agronomi kebun petani,” kata Jatmiko dalam keterangan tertulis, Senin (17/8/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Hingga Juli 2026, PTPN IV PalmCo menyerap lebih dari 2,09 juta ton tandan buah segar (TBS) dari kebun petani mitra. Jumlah tersebut meningkat lebih dari 13 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pada Juli 2026, penyerapan TBS dari kebun rakyat mencapai sekitar 361.000 ton, meningkat lebih dari 40 persen dibandingkan Juli 2025.
Menurut Jatmiko, kemitraan tidak hanya menyediakan pasar bagi hasil panen, tetapi juga mencakup pendampingan pengelolaan kebun.
Salah satu bentuknya melalui koperasi unit desa (KUD) dengan penerapan praktik budidaya kelapa sawit yang baik atau good agricultural practices.
Selain pendampingan, PTPN IV PalmCo telah menyalurkan 6,8 juta bibit sawit unggul bersertifikat. Perusahaan juga mendukung peremajaan kebun sawit rakyat dengan luas lebih dari 47.000 hektare.
Dari sekitar 19.000 hektare areal kemitraan yang telah memasuki masa menghasilkan, petani mitra dengan produksi TBS di atas standar nasional tercatat memperoleh sisa hasil usaha (SHU) rata-rata Rp7 juta-Rp8 juta per bulan.
Sejumlah KUD mitra PTPN IV PalmCo juga memiliki saldo kas tahunan sekitar Rp3 miliar-Rp5 miliar. Total areal kemitraan perusahaan saat ini mencapai sekitar 52.000 hektare.
“Ini menjadi contoh yang ingin terus kami replikasi agar seluruh areal kemitraan kami, termasuk kebun-kebun mitra lain ke depannya, bisa mendapatkan tingkat kesejahteraan yang sama,” ujar Jatmiko.
Peremajaan Sawit Rakyat
Tanaman yang telah melewati usia produktif menjadi salah satu sasaran dalam Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). PTPN IV PalmCo turut mendampingi pelaksanaan program tersebut.
Hingga pertengahan 2026, PTPN IV PalmCo telah merekomendasikan dan memproses peremajaan lahan secara internal seluas lebih dari 10.114 hektare.
Sementara itu, data Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) mencatat pendampingan peremajaan yang dilakukan PTPN atau PalmCo mencapai 6.672 hektare.
Luasan tersebut menjadi yang terbesar dibandingkan perusahaan lain yang tercatat dalam program tersebut.
Pelaksana Tugas Kepala Divisi Penyaluran Dana Sektor Hulu BPDP Dwi Nuswantara mengatakan, berdasarkan catatan BPDP, pendampingan PTPN atau PalmCo merupakan yang terluas dibandingkan perusahaan lainnya.
“Peringkat pertama adalah PTPN atau PalmCo seluas 6.672 hektare,” kata Dwi.
Pendampingan PSR mencakup penyiapan lahan, pemilihan bibit, pemeliharaan tanaman, hingga memastikan kebun kembali produktif.
Ketua DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat (Aspekpir) Indonesia Setiyono mengatakan, kemitraan antara perusahaan, petani, dan pemerintah diperlukan dalam pengembangan perkebunan sawit rakyat.
Menurut Setiyono, salah satu kekuatan kemitraan dengan PTPN IV PalmCo adalah penerapan single management, yakni pengelolaan kebun petani dengan standar yang sama dengan kebun inti.
“Produksi sawit petani meningkat karena kemitraan. Masa depan sawit rakyat Indonesia adalah kemitraan,” ujar Setiyono.(red)






