Jakarta, Mercinews.com – Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) mencatat PTPN IV PalmCo sebagai perusahaan paling aktif dalam mendampingi Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) secara nasional.
Plt Kepala Divisi Penyaluran Dana Sektor Hulu BPDP, Dwi Nuswantara, mengungkapkan, hingga saat ini PalmCo mencatat luasan pendampingan terbesar dibandingkan perusahaan lain.
“Peringkat pertama adalah PTPN atau PalmCo seluas 6.672 hektare. Selanjutnya disusul oleh Sinar Mas seluas 4.426 hektare dan Asian Agri seluas 3.204 hektare,” ujar Dwi dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (3/4/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Capaian tersebut mencerminkan perubahan pendekatan dalam pelaksanaan PSR. Program ini tidak lagi hanya berfokus pada pembiayaan, tetapi juga penguatan aspek teknis di lapangan melalui pendampingan langsung kepada petani.
Pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong pola kemitraan antara perusahaan dan petani. Melalui skema ini, perusahaan berperan dalam mentransfer teknologi serta praktik budidaya yang baik guna meningkatkan produktivitas kebun rakyat.
Program PSR dengan dukungan dana BPDP telah berjalan sejak 2017. Setiap tahun, pemerintah mengalokasikan sekitar Rp3 triliun untuk peremajaan sekitar 100.000 hektare kebun sawit rakyat. Namun, pelaksanaannya masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kesiapan petani hingga aspek teknis di lapangan.
Dalam konteks tersebut, peran perusahaan dinilai strategis. Pendampingan tidak hanya memastikan pemanfaatan dana berjalan tepat sasaran, tetapi juga menjaga kualitas pelaksanaan sejak tahap penanaman ulang hingga pengelolaan kebun.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, menegaskan, keterlibatan perusahaan dalam PSR merupakan bagian dari mandat sebagai badan usaha milik negara (BUMN).
“Sebagai BUMN, kami tidak hanya berorientasi pada kinerja korporasi, tetapi juga berperan sebagai agen pembangunan. Pendampingan ini merupakan bentuk komitmen untuk tumbuh bersama petani,” ujar Jatmiko.
Ia menambahkan, melalui skema kemitraan, petani tidak hanya memperoleh dukungan pembiayaan, tetapi juga akses terhadap bibit unggul bersertifikat, pendampingan teknis, serta kepastian pasar hasil panen.
Model pendampingan ini diharapkan mampu menjawab persoalan produktivitas kebun rakyat yang selama ini masih tertinggal dibandingkan kebun perusahaan. Dengan penerapan praktik agronomi yang lebih baik dan dukungan ekosistem yang terintegrasi, hasil panen petani diharapkan meningkat.
Ke depan, pemerintah mendorong pola kemitraan ini diperluas dengan melibatkan lebih banyak perusahaan. Replikasi model yang telah berjalan dinilai penting untuk mempercepat capaian target PSR sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani sawit secara berkelanjutan.(red)






