“Seragam Bhayangkara telah dilepas. Namun, ruang pengabdian tetap terbuka. Di mana pun mengabdi, ruangnya boleh berubah, tetapi semangat memberi manfaat tidak boleh berhenti.”
MERCINEWS.COM – Irjen Pol. (Purn.) Dr. Drs. H. Anton Charliyan, M.P.K.N., dikenal sebagai purnawirawan jenderal polisi yang pernah menduduki sejumlah jabatan strategis di lingkungan Polri. Kini, ia dipercaya memimpin Majelis Adat Sunda (MASDA) Jawa Barat.
Penetapan Anton Charliyan sebagai Ketua Umum MASDA tersebut dituangkan dalam Surat Keputusan (SK) Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi Nomor 430/Kep.120-Disparbud/2026 tertanggal 6 Maret 2026.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam peran barunya, budayawan yang akrab disapa Abah Anton itu mengemban tugas untuk menampung aspirasi masyarakat adat serta mendorong pelestarian nilai, tradisi, dan keberadaan kampung adat di Jawa Barat.
Terkait perjalanan pengabdiannya, Abah Anton tidak bisa dilepaskan dari perjalanan panjangnya di institusi Polri. Lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 1984 itu pernah menjalani berbagai penugasan, mulai dari dunia reserse, jabatan kewilayahan, Kepala Divisi Humas Polri, Kapolda Sulawesi Selatan hingga Kapolda Jawa Barat.
Anton Charliyan merupakan lulusan Akpol 1984. Setelah itu, ia mengikuti sejumlah pendidikan pengembangan kepolisian, antara lain Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), Sekolah Staf dan Pimpinan (Sespim), Sekolah Staf dan Pimpinan Tinggi (Sespati) serta Lemhannas.
Karier awalnya banyak bersentuhan dengan fungsi reserse. Pengalaman tersebut kemudian membawanya menangani sejumlah perkara yang mendapat perhatian publik.
Dilansir dari Pikiran Rakyat, keterlibatan Abah Anton dalam pengusutan kasus Marsinah pada 2000 dan perkara Munir ketika bertugas di lingkungan Polda Metro Jaya.
Pada 2003, Anton juga bertugas di Bareskrim Polri sebagai Kanit III Direktorat I Keamanan dan Kejahatan Transnasional.
Anton juga menduduki 27 posisi jabatan sepanjang kariernya di kepolisian. Jabatan terakhirnya di lingkungan Polri adalah Wakil Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Wakalemdiklat) Polri.
Menjadi Kadiv Humas Polri
Salah satu fase penting dalam perjalanan karier Anton Charliyan adalah ketika dipercaya menjabat Kadiv Humas Polri.
Pengalaman di bidang reserse berpadu dengan tugas komunikasi publik. Setelah menjalani sejumlah penugasan di lingkungan Mabes Polri, Anton kemudian dipercaya menduduki sejumlah jabatan sebagai Kapolda.
Ia pernah menjadi Kapolda Sulawesi Selatan sebelum kemudian mendapat amanah memimpin Polda Jawa Barat.
Kembali ke Tanah Priangan
Pada Desember 2016, Anton resmi menjabat Kapolda Jawa Barat menggantikan Irjen Pol. Bambang Waskito.
Jawa Barat bukan wilayah yang asing baginya. Sebelum menjadi Kapolda, Anton pernah menjabat Kapolwil Priangan.
Saat menerima amanah tersebut, Anton menyatakan akan melanjutkan program yang telah berjalan sekaligus memberikan yang terbaik bagi masyarakat Jawa Barat.
Salah satu pendekatan yang dikenalkannya saat memimpin Polda Jabar adalah konsep PDLTT, yakni Prestasi, Dedikasi, Loyalitas, Terstruktur dan Terukur.
Dalam kepemimpinannya di Jawa Barat, salah satu perhatian Anton adalah membangun hubungan antara kepolisian dan berbagai unsur masyarakat.
Pada 2017, Polda Jabar memberikan penghargaan Honorary Police kepada sejumlah tokoh Jawa Barat yang dinilai berkontribusi terhadap keamanan dan ketertiban masyarakat.
Dokumentasi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat mencatat penghargaan tersebut diberikan kepada tokoh dari berbagai unsur, mulai dari pemerintahan, TNI, kejaksaan, peradilan, agama, adat, pendidikan, pemuda hingga media.
Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kemitraan polisi dengan masyarakat, selain menjalankan fungsi penegakan hukum.
Penanganan Bom Panci Cicendo
Saat Anton menjabat Kapolda Jawa Barat, Bandung menghadapi salah satu peristiwa keamanan yang mendapat perhatian nasional, yakni teror bom panci di kawasan Cicendo pada Februari 2017.
Sebagai Kapolda, Anton menjadi salah satu pejabat yang memberikan keterangan terkait penanganan perkara tersebut.
Polda Jabar kemudian memberikan penghargaan kepada sejumlah personel yang dinilai berprestasi dalam penanganan kasus tersebut. Dokumentasi Pemprov Jabar mencatat 35 personel Polda Jabar menerima penghargaan terkait penanganan kasus bom panci Cicendo.
Tanda Jasa
Perjalanan panjang Anton di Korps Bhayangkara juga ditandai dengan sejumlah penghargaan kedinasan. Beberapa di antaranya, yakni Satyalancana Dwidja Sistha pada 2014, Bintang Bhayangkara Nararya pada 2014 dan Bintang Bhayangkara Pratama pada 2016.
Penghargaan tersebut menjadi bagian dari catatan formal pengabdian Anton selama berkarier di institusi Polri.
Dari Polisi ke Ruang Kebudayaan
Setelah mengakhiri karier di kepolisian, Anton memasuki babak baru dalam perjalanan pengabdiannya.
Perhatiannya terhadap budaya Sunda semakin terlihat melalui berbagai aktivitas sosial dan kebudayaan. Perubahan tersebut menjadi fase baru setelah puluhan tahun menjalani penugasan di lingkungan kepolisian.
Pada 2026, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi melalui SK Nomor 430/Kep.120-Disparbud/2026 tertanggal 6 Maret 2026 menetapkan Anton sebagai Ketua Umum merangkap anggota Majelis Adat Sunda (MASDA) Jawa Barat.
Abah Anton mengungkapkan, MASDA memiliki sejumlah tugas, antara lain menampung aspirasi masyarakat adat dalam rangka pelestarian budaya di kampung adat, melakukan koordinasi dengan masyarakat adat serta merumuskan rekomendasi terkait pelestarian adat.
Dalam kapasitasnya sebagai Ketua MASDA, Abah Anton pada Juli 2026 menyampaikan penguatan kampung adat sebagai salah satu agenda dalam pelestarian budaya Sunda.
Sejumlah pemberitaan yang memuat pernyataannya menyebut pendekatan tersebut diarahkan pada penguatan budaya dari tingkat masyarakat dan kampung adat sebagai basis kehidupan budaya Sunda.
Peran tersebut juga menjadi bagian lain dari perjalanan Anton. Saat masih aktif sebagai pejabat kepolisian, ia membangun kemitraan dengan berbagai unsur masyarakat, termasuk tokoh adat.
Setelah pensiun, keterlibatannya di ruang sosial dan kebudayaan semakin terlihat.
Dua Fase Pengabdian Abah Anton
Perjalanan Abah Anton Charliyan dapat dilihat dalam dua fase. Pertama, pengabdian sebagai Bhayangkara yang dimulai sejak lulus Akpol 1984 dan berkembang melalui fungsi reserse, berbagai jabatan kewilayahan, penugasan di Mabes Polri, hingga menjadi Kadiv Humas Polri, Kapolda Sulsel, dan Kapolda Jabar.
Fase berikutnya berlangsung setelah purnatugas, ketika Anton aktif di ruang sosial dan kebudayaan untuk memimpin MASDAbJabar dengan salah satu agenda penguatan pelestarian adat Sunda.
Perjalanan tersebut tidak hanya mencatat jabatan yang pernah diemban, tetapi juga memperlihatkan perubahan ruang pengabdian dari kepolisian dan keamanan menuju masyarakat, adat, dan kebudayaan Sunda.
“Seragam Bhayangkara telah dilepas. Namun, ruang pengabdian tetap terbuka. Di mana pun mengabdi, ruangnya boleh berubah, tetapi semangat memberi manfaat tidak boleh berhenti,” tutur Abah Anton saat berada di Bandung, baru-baru ini.(Red)






