UGM dan Aktivis Muda Gaungkan Kesadaran Krisis Tanah

Jumat, 13 Juni 2025 - 21:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Diskusi bertajuk “Ngeteh Sore Bareng Sahil” di Kafe Antologi, Yogyakarta, Jumat (13/6/2025).(Foto:IST)

Diskusi bertajuk “Ngeteh Sore Bareng Sahil” di Kafe Antologi, Yogyakarta, Jumat (13/6/2025).(Foto:IST)

“Tanah adalah tempat kita hidup, berbudaya dan sumber pangan kita. Jaga tanah karena tanah adalah masa depan kita.”

YOGYAKARTA, MERCINEWS.COM – Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama sejumlah aktivis muda menggaungkan pentingnya kesadaran terhadap krisis tanah yang kian mengancam keberlanjutan lingkungan dan ketahanan pangan nasional.

Suara para aktivis muda itu disampaikan dalam gelaran diskusi edukatif dan inspiratif yang diselenggarakan UGM bekerja sama dengan Gerakan Global Save Soil.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kegiatan berlangsung di Ruang C1-004 Gedung GIK UGM, Yogyakarta pada Jumat (13/6/ 2025) pagi ini bertujuan mengajak publik, khususnya generasi muda, untuk memahami urgensi menjaga kesuburan tanah sebagai fondasi kehidupan dan keberlanjutan lingkungan.

Acara ini menghadirkan sejumlah pembicara terkemuka, antara lain Sahil Jha (Save Soil Changemaker asal India), Raline Shah (Aktris dan Duta Save Soil), Praveena Sridhar (Chief Science & Technology Officer, Save Soil), serta Prof. Benito Heru Purwanto dari Fakultas Pertanian UGM.

Baca Juga:  Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI Apresiasi Peran Muhammadiyah Batu Bara Dukung Program MBG

Dalam diskusi tersebut, para pembicara menekankan bahwa tanah bukan sekadar lahan, melainkan penyangga kehidupan yang menyimpan peran penting bagi ekosistem dan ketahanan pangan.

“Tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan kesadaran masyarakat dan memberikan informasi tentang langkah nyata untuk melindungi tanah. Saat ini, tanah menghadapi ancaman serius, termasuk degradasi dan kehilangan kesuburan,” ujar Prof. Benito.

Menurut data Bappenas (2021) yang dikutip dalam acara tersebut, sekitar 77% lahan di Indonesia telah mengalami degradasi, yang berdampak langsung terhadap produktivitas pertanian dan ketahanan pangan nasional. Penyebab utamanya antara lain deforestasi, urbanisasi, serta penggunaan pupuk kimia secara berlebihan yang tidak diimbangi dengan pengembalian bahan organik ke dalam tanah.

Ia menyampaikan bahwa tanah merupakan dasar dari ekosistem yang berperan penting dalam menopang ketahanan pangan, menyimpan karbon, serta menjadi habitat bagi keanekaragaman hayati darat. Namun, menurutnya, di Indonesia banyak lahan telah mengalami degradasi akibat deforestasi, urbanisasi, dan faktor lainnya.

Baca Juga:  Festival Bandeng Rawa Belong 2026, Pramono Anung Gagas Haul Ulama Betawi di Monas

Ia berpandangan, jika kondisi ini terus dibiarkan, krisis tersebut dikhawatirkan akan mengancam ketahanan pangan, kualitas air, dan kemampuan hutan dalam menyerap karbon.

“Di Indonesia, banyak lahan pertanian yang mengalami penurunan kesuburan. Kondisi ini disebabkan oleh penggunaan pupuk kimia secara berlebihan dan minimnya pengembalian bahan organik ke dalam tanah. Hal tersebut menyebabkan turunnya produktivitas pertanian, seperti padi dan sayuran dan tanah menjadi keras,” terang Prof. Benito.

Ngeteh Sore Bareng Sahil

Tak hanya berlangsung di lingkungan kampus, semangat kampanye Save Soil juga meluas hingga ke ruang publik. Pada hari yang sama, komunitas anak muda Sahabat Pohon bersama Wikikopi menggelar diskusi bertajuk “Ngeteh Sore Bareng Sahil” di Kafe Antologi.

Diskusi santai tersebut menghadirkan Sahil Jha (19), aktivis muda asal India yang telah berkeliling dunia menyuarakan pentingnya menyelamatkan tanah.

Baca Juga:  Kevin Wu Desak Penertiban Penjual Tramadol Ilegal di Jakarta

“20 tahun ke depan, kita mungkin tak lagi memiliki makanan, air, atau udara bersih jika tanah subur terus menghilang. Menyelamatkan tanah berarti menyelamatkan masa depan,” ujar Sahil.

Salah satu peserta diskusi, Clara Ruel Eugene (15), Koordinator Sahabat Pohon, menyatakan kekagumannya terhadap gerakan yang dibawa Sahil. Ia berharap lebih banyak anak muda di Indonesia yang ikut peduli terhadap kondisi tanah dan lingkungan.

“Gerakan Save Soil oleh Sahil sangat keren. Usianya masih muda, namun ia sudah bisa memiliki kesadaran tersebut. Karena masih muda, ia memiliki banyak tenaga untuk mengajak teman-teman muda lainnya supaya memiliki kesadaran seperti itu juga,” katanya.

“Karena tanah adalah tempat kita hidup, berbudaya dan sumber pangan kita. Jaga tanah karena tanah adalah masa depan kita,” sambung Clara.(red)

Berita Terkait

Pengurus IKA-MUBA 2026-2030 Dikukuhkan, Apriyadi Ajak Warga Muba Perkuat Jejaring di Perantauan
Insinerator PARK PYRO Berkapasitas 20 Ton per Hari Siap Beroperasi di Bandara Internasional Soekarno-Hatta (CGK)
PTPN IV PalmCo Perkuat Patroli Antisipasi Karhutla di Sumatera dan Kalimantan
PTPN IV PalmCo Lindungi 550 Pekerja Rentan di Kalbar dengan BPJS Ketenagakerjaan
Imigrasi dan Polresta Denpasar Bersinergi Awasi Aktivitas WNA
Ribuan Umat Antusias Hadiri HUT ke-14 YM Fab Zhu Kung di Singkawang
Golkar Sumsel Fokus Konsolidasi Internal Pasca-Musda
Pengurus PWI LS Jabar Dikukuhkan, Anton Charliyan dan Rhoma Irama Hadir dalam Dakwah Budaya

Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 23:58 WIB

Pengurus IKA-MUBA 2026-2030 Dikukuhkan, Apriyadi Ajak Warga Muba Perkuat Jejaring di Perantauan

Selasa, 22 September 2026 - 23:09 WIB

Insinerator PARK PYRO Berkapasitas 20 Ton per Hari Siap Beroperasi di Bandara Internasional Soekarno-Hatta (CGK)

Kamis, 10 September 2026 - 20:20 WIB

PTPN IV PalmCo Perkuat Patroli Antisipasi Karhutla di Sumatera dan Kalimantan

Rabu, 9 September 2026 - 19:45 WIB

PTPN IV PalmCo Lindungi 550 Pekerja Rentan di Kalbar dengan BPJS Ketenagakerjaan

Jumat, 4 September 2026 - 22:56 WIB

Imigrasi dan Polresta Denpasar Bersinergi Awasi Aktivitas WNA

Berita Terbaru