Refleksi Akhir Tahun 2025 Forum Senja-AMKI Pusat: Paradoks Digitalisasi Layanan Publik Pemda

Minggu, 28 Desember 2025 - 09:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dr. Drs. M. Harry Mulya Zein, M.Si.(Foto: Dok.Mercinews.com)

Dr. Drs. M. Harry Mulya Zein, M.Si.(Foto: Dok.Mercinews.com)

“Digitalisasi menjadi paradoks, teknologi berkembang cepat, tetapi kualitas layanan publik tidak selalu ikut bergerak maju.”

Oleh Dr. Drs. M. Harry Mulya Zein, M.Si.

Digitalisasi layanan publik di lingkup pemerintah daerah (Pemda) selama ini sering dipromosikan sebagai bagian dari modernisasi birokrasi. Janjinya menggiurkan, layanan lebih cepat, transparan, ringkas, dan mudah dijangkau warga. Namun, dalam praktiknya, digitalisasi justru menghadirkan paradoks.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di banyak daerah, teknologi yang diperkenalkan tidak sepenuhnya menjawab persoalan mendasar. Alih-alih memudahkan, sebagian layanan justru memperlihatkan jarak antara visi reformasi birokrasi dan realitas pelaksanaan di lapangan.

Paradoks: Antara Ambisi dan Kesiapan

Pertama, infrastruktur digital yang belum merata menjadi hambatan paling nyata. Pemda meluncurkan berbagai aplikasi layanan, namun di banyak wilayah jaringan internet masih lemah, perangkat tidak memadai, dan ruang server kerap tidak siap. Akhirnya, inovasi hanya menjadi etalase modernisasi tanpa kekuatan operasional.

Baca Juga:  Pengurus AMKI Musi Rawas Periode 2026-2031 Dilantik, Inovasi Digital Jadi Fokus

Kedua, layanan digital berjalan dalam pola yang terfragmentasi. Banyak Pemda mengembangkan puluhan aplikasi tanpa integrasi data. Warga harus berkali-kali membuat akun, mengunggah dokumen serupa, dan berpindah aplikasi hanya untuk satu urusan dasar pemerintahan. Digitalisasi menjadi birokrasi baru yang melelahkan.

Ketiga, kesiapan sumber daya manusia belum mengikuti laju teknologi. Pelatihan aparatur sering tidak memadai. Alur layanan memang berpindah ke platform digital, tetapi eksekusi tetap dilakukan secara manual, formulir digital tetap diminta dalam bentuk fisik, antrean online tetap mengharuskan warga hadir di lokasi. Akarnya adalah budaya kerja yang belum berubah.

Keempat, warga jarang ditempatkan sebagai pusat desain. Banyak aplikasi sulit digunakan, tampilan membingungkan, petunjuk tidak jelas, dan fitur tidak inklusif bagi lansia maupun masyarakat dengan literasi digital terbatas. Dalam situasi seperti ini, warga justru kembali bergantung pada bantuan informal atau calo.

Baca Juga:  Rehabilitasi Presiden Harus Menjadi Isyarat Institusi Berbenah

Digitalisasi menjadi paradoks, teknologi berkembang cepat, tetapi kualitas layanan publik tidak selalu ikut bergerak maju.

Menuju Digitalisasi yang Bermakna

Memasuki tahun 2026, Pemda membutuhkan langkah korektif yang lebih terarah:

Integrasi layanan menjadi kunci. Penerapan single sign-on, portal terpadu, dan satu pintu layanan akan memutus rantai fragmentasi aplikasi dan menurunkan beban administratif warga.

Investasi pada infrastruktur digital perlu diprioritaskan. Tanpa konektivitas yang kuat dan perangkat yang andal, digitalisasi hanya berfungsi sebagai dekorasi birokrasi.

Peningkatan kapasitas aparatur harus dilakukan secara sistematis. Literasi digital, keterampilan mengelola data, dan budaya pelayanan menjadi fondasi transformasi yang sesungguhnya.

Inovasi digital berbasis kebutuhan pengguna harus ditempatkan sebagai orientasi utama. Prinsip aksesibilitas, kesederhanaan, dan keberpihakan kepada warga wajib menjadi pedoman.

Evaluasi tahunan efektivitas aplikasi perlu dilakukan secara transparan. Pemda harus berani menghapus aplikasi yang tidak digunakan, menggabungkan yang tumpang tindih, dan mengembangkan hanya layanan yang benar-benar memberi manfaat.

Baca Juga:  Akhmad Munir dan Harapan Baru di Rumah Besar Wartawan

Digitalisasi seharusnya bukan tujuan akhir, melainkan sarana untuk menciptakan layanan publik yang lebih manusiawi, inklusif, dan efisien. Paradoks yang muncul hari ini menjadi pengingat bahwa teknologi tidak otomatis menghadirkan kualitas. Ia memerlukan kesiapan ekosistem, perubahan budaya birokrasi, dan orientasi kuat pada kebutuhan masyarakat.

Refleksi menjelang 2026 menjadi momentum memperbaiki arah. Yang dibutuhkan bukan sekadar lebih banyak aplikasi, tetapi layanan yang mudah diakses, tidak diskriminatif, dan benar-benar mempermudah hidup warga.

Dengan cara itu, digitalisasi Pemda dapat kembali pada esensinya sebagai alat meningkatkan kepercayaan publik sekaligus mendorong tata kelola pemerintahan yang lebih transparan dan akuntabel.

*Penulis Dr. Drs. M. Harry Mulya Zein adalah Pakar Ilmu Pemerintahan, Dewan Pakar Ilmu Pemerintahan Asosiasi Media Konvergensi Indonesia (AMKI) Pusat, dan Dosen Universitas Indonesia serta Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN)

Berita Terkait

Merawat Budaya Sunda dalam Semangat Sumpah Pemuda
Mutasi Polri Harus Menjawab Harapan Masyarakat
Pers Mahasiswa di Era AI dan Gempuran Disrupsi Media
Ketika Syarat Wakil Presiden Bermasalah, Jalur Hukum Apa yang Tersedia?
Sengketa Perdata dan Batas Kebebasan di Ruang Digital
Menakar Kesaktian Pancasila dalam Program MBG
Kesaktian Pancasila: Ketika Patriotisme Berhenti di Podium Upacara
OTT KPK dan Pelajaran Pembenahan Sistem

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 14:28 WIB

Merawat Budaya Sunda dalam Semangat Sumpah Pemuda

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 22:55 WIB

Mutasi Polri Harus Menjawab Harapan Masyarakat

Senin, 12 Oktober 2026 - 19:26 WIB

Pers Mahasiswa di Era AI dan Gempuran Disrupsi Media

Jumat, 9 Oktober 2026 - 16:29 WIB

Ketika Syarat Wakil Presiden Bermasalah, Jalur Hukum Apa yang Tersedia?

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 14:27 WIB

Sengketa Perdata dan Batas Kebebasan di Ruang Digital

Berita Terbaru

Foto: Dok. Mercinews.com

Opini

Merawat Budaya Sunda dalam Semangat Sumpah Pemuda

Rabu, 28 Okt 2026 - 14:28 WIB

Tim Seksi Intelijen dan Penindakan Keimigrasian Imigrasi Denpasar mengamankan WNA Nigeria di wilayah Padangsambian Kaja, Kecamatan Denpasar Barat, Kota Denpasar, Jumat (23/10/2026). (Foto: Dok. Kanim Denpasar)

Berita

Overstay 155 Hari, WNA Nigeria Diamankan Imigrasi Denpasar

Selasa, 27 Okt 2026 - 22:47 WIB