MERCINEWS.COM – Kepulangan jemaah haji ke Tanah Air menjadi momen penuh kebahagiaan bagi keluarga dan kerabat yang menanti. Setelah menunaikan rangkaian ibadah di Tanah Suci, setiap muslim tentu berharap dapat kembali dengan predikat haji mabrur, sebuah kemuliaan yang dijanjikan Allah SWT dengan balasan surga.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda, “Haji yang mabrur tidak ada balasan baginya selain surga.”
Karena itu, mendoakan para jemaah yang baru pulang haji agar memperoleh kemabruran merupakan amalan yang dianjurkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Secara bahasa, kata “mabrur” berasal dari kata yang bermakna kebaikan, ketaatan, dan diterima. Para ulama menjelaskan bahwa haji mabrur adalah ibadah haji yang diterima Allah SWT dan tidak dicampuri oleh perbuatan dosa maupun kemaksiatan.
Predikat tersebut menjadi dambaan setiap muslim yang menunaikan rukun Islam kelima. Bahkan ketika Rasulullah SAW ditanya mengenai amalan paling utama setelah iman kepada Allah dan jihad di jalan-Nya, beliau menyebut haji mabrur sebagai salah satu amalan yang paling mulia.
Dalam menyambut kepulangan jemaah haji, keluarga dapat memanjatkan doa agar seluruh ibadah yang telah dijalani diterima Allah SWT dan membawa keberkahan dalam kehidupan mereka.
Salah satu doa yang dapat dibaca adalah:
“Allahummaj’alh hajjan mabruran wa dzanban maghfuran.”
Artinya: “Ya Allah, jadikanlah ia memperoleh haji yang mabrur dan dosa yang diampuni.”
Selain itu, terdapat doa lain yang berisi harapan agar Allah SWT membekali seorang muslim dengan ketakwaan, mengampuni dosa-dosanya, serta memudahkan langkahnya dalam menempuh jalan kebaikan.
Para ulama menegaskan bahwa kemabruran haji tidak hanya terlihat saat seseorang berada di Tanah Suci, tetapi tercermin dalam perubahan sikap dan perilaku setelah kembali ke tengah masyarakat.
Di antara tanda-tanda haji mabrur adalah semakin santun dalam bertutur kata, gemar menebarkan salam dan kedamaian, peduli kepada sesama, menjaga amanah, serta semakin taat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.
Selain itu, seorang haji yang mabrur biasanya menunjukkan kecintaan yang lebih besar terhadap ilmu agama, rajin menghadiri majelis ilmu, mempererat silaturahmi, serta meningkatkan semangat berbagi melalui sedekah dan berbagai amal kebajikan lainnya.
Hal tersebut sejalan dengan sabda Rasulullah SAW yang menjelaskan bahwa salah satu ciri haji mabrur adalah memberi makan kepada yang membutuhkan dan bertutur kata dengan lembut.
Sebaliknya, Islam juga mengenal istilah “haji mardud”, yakni haji yang ditolak oleh Allah SWT. Para ulama menjelaskan bahwa salah satu penyebabnya adalah apabila ibadah haji dilakukan dengan harta yang tidak halal atau disertai perilaku yang bertentangan dengan syariat.
Karena itu, kemabruran haji bukan hanya diukur dari keberhasilan menyelesaikan seluruh rangkaian manasik, melainkan juga dari keikhlasan, kehalalan bekal, serta perubahan akhlak yang semakin baik setelah kembali dari Tanah Suci.
Momen kepulangan jemaah haji hendaknya menjadi pengingat bahwa perjalanan spiritual tidak berakhir ketika seseorang meninggalkan Makkah dan Madinah.
Justru setelah kembali ke kampung halaman, nilai-nilai ketakwaan, kejujuran, dan kepedulian sosial yang diperoleh selama berhaji diharapkan terus tumbuh dan menjadi teladan bagi lingkungan sekitarnya.
Semoga seluruh jemaah haji Indonesia memperoleh haji yang mabrur, dosa yang diampuni, serta kemampuan untuk menjaga kemuliaan ibadah tersebut hingga akhir hayat. Wallahu a’lam.(red)






