Jakarta, Mercinews.com – Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menilai industri perfilman Indonesia menunjukkan fenomena yang berbeda dibandingkan tren global. Di saat banyak negara mengalami penurunan jumlah penonton dan berkurangnya bioskop, Indonesia, khususnya Jakarta justru dinilai masih memiliki pasar yang kuat dan menarik perhatian pelaku industri film dunia.
Rano mengatakan, di tengah tantangan yang dihadapi industri perfilman global, Jakarta kini berupaya memanfaatkan momentum pertumbuhan industri kreatif. Hal ini penting full sebagai salah satu sektor yang dapat menopang perekonomian daerah sekaligus memperkuat posisi Indonesia di kancah perfilman internasional.
Hal itu disampaikan Rano Karno saat menghadiri pemutaran film yang diselenggarakan Kulturanesia dalam rangka memperingati Bulan Bung Karno di Metropole XXI, Jakarta, Minggu (7/6/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Rano, kondisi tersebut menjadikan Indonesia sebagai sebuah anomali di tengah perubahan pola konsumsi hiburan masyarakat global yang semakin bergeser ke platform digital.
“Inilah yang membuat Indonesia menjadi anomali. Di dunia terjadi penurunan jumlah penonton di bioskop,” ujar Rano
Rano mencontohkan kondisi industri bioskop di Hong Kong yang mengalami penyusutan cukup signifikan. Berdasarkan informasi yang diterimanya saat kunjungan tim Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta ke Hong Kong, jumlah gedung bioskop di wilayah tersebut kini jauh berkurang dibandingkan sebelumnya.
Ia membandingkan situasi tersebut dengan Jakarta yang menurutnya masih memiliki ekosistem perfilman yang aktif dan terus berkembang.
“Kemarin tim Jakarta berangkat ke Hong Kong untuk market. Di Hong Kong itu bioskop tinggal 25. Ini menjadi anomali. Tiba-tiba banyak investor, produser dan sineas dunia yang datang ke Indonesia, terutama ke Jakarta untuk membuat sesuatu,” kata Rano.
Menurut dia, meningkatnya minat investor dan pelaku industri kreatif internasional menunjukkan bahwa Jakarta memiliki potensi besar sebagai pusat produksi film dan kegiatan kreatif di kawasan.
Untuk mendukung perkembangan industri film nasional, Pemprov DKI Jakarta tengah mempersiapkan pembentukan Jakarta Film Commission.
Lembaga tersebut diharapkan menjadi wadah yang dapat memfasilitasi sekaligus memperkuat ekosistem perfilman di ibu kota.
Rano mengatakan, pemerintah daerah berkomitmen memberikan dukungan kepada para sineas melalui berbagai kemudahan, termasuk fasilitas dan insentif yang dapat membantu proses produksi film.
“Apabila nanti Jakarta Film Commission sudah terbentuk, kita akan banyak memberikan semacam subsidi atau fasilitas-fasilitas agar sineas Indonesia bisa memproduksi lagi,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Rano juga mengaitkan perkembangan industri film dengan pemikiran Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno.
Menurutnya, Bung Karno memandang seni dan film sebagai instrumen penting dalam pembangunan karakter bangsa, bukan sekadar sarana hiburan.
Karena itu, lanjutnya, pemutaran film dipilih sebagai salah satu rangkaian kegiatan untuk memperingati Bulan Bung Karno.
Rano menilai gagasan tersebut masih relevan di tengah upaya memperkuat industri kreatif nasional dan mendorong lahirnya karya-karya perfilman yang berkualitas.
“Tentu di sini yaitu bagaimana relevansi pemikiran Bung Karno. Bung Karno memandang seni dan film bukan sekadar hiburan,” pungkas.(red)






