“Dalam sejarahnya, seni tidak bisa berkembang jika hanya diatur tanpa diberi ruang untuk bergerak. Melarang ondel-ondel tampil di jalanan saja tidak cukup jika ingin membawa budaya Betawi naik kelas.”
JAKARTA, MERCINEWS.COM – Anggota Komisi A DPRD DKI Jakarta Fraksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Kevin Wu, mengkritik kebijakan Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, yang melarang ondel-ondel dimainkan di jalanan. Ia menilai kebijakan gubernur tersebut perlu diimbangi dengan solusi agar tidak berdampak pada keberlangsungan para seniman.
Kevin Wu menilai, larangan tersebut berpotensi menghambat perkembangan budaya Betawi, khususnya seni ondel-ondel yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jakarta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Dalam sejarahnya, seni tidak bisa berkembang jika hanya diatur tanpa diberi ruang untuk bergerak. Melarang ondel-ondel tampil di jalanan saja tidak cukup jika ingin membawa budaya Betawi naik kelas,” ujar Kevin Wu dalam keterangan tertulis, Selasa (14/4/2026).
Kevin berharap kebijakan tersebut tidak hanya berfokus pada pelarangan, tetapi juga disertai langkah konkret untuk menjaga keberlanjutan budaya Betawi serta kesejahteraan para pelaku seninya.
“Larangan ondel-ondel perlu diiringi langkah konkret yang mendukung para pelaku seni agar tetap dapat berkarya dan memperoleh penghasilan,” katanya.
Menurut Kevin, aspek ekonomi para seniman harus menjadi perhatian pemerintah. Ia mengingatkan bahwa pelaku seni ondel-ondel menggantungkan hidup dari aktivitas tersebut.
“Para pelaku seni ini juga manusia. Mereka membutuhkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan keluarga. Karena itu, setelah larangan diterapkan, pemerintah harus memastikan para seniman tetap bisa berkarya,” katanya.
Kevin mengusulkan agar Pemprov DKI Jakarta memprioritaskan pelibatan seniman tradisional Betawi, termasuk ondel-ondel, dalam berbagai acara resmi.
Selain itu, ia mendorong kerja sama dengan sektor swasta, khususnya industri perhotelan, guna memperluas ruang tampil bagi para seniman.
“Pemprov DKI dapat menjalin kerja sama dengan pihak swasta untuk mempromosikan ondel-ondel sehingga kesenian ini tetap hidup dan dikenal lebih luas,” ujarnya.
Perlu Pelatihan dan Dukungan
Kevin juga menekankan pentingnya dukungan dalam bentuk pelatihan dan bantuan pendidikan bagi para pelaku seni ondel-ondel.
Menurut dia, langkah tersebut diperlukan agar kualitas karya terus berkembang.
“Ketika satu pintu ditutup, harus ada pintu lain yang dibuka. Setelah ondel-ondel dilarang tampil di jalanan, perlu ada kompensasi berupa pelatihan dan bantuan pendidikan,” katanya.
Ia mencontohkan, Pemprov DKI dapat menjalin kerja sama dengan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) untuk meningkatkan kapasitas para seniman.
“Jakarta memiliki Institut Kesenian Jakarta. Pemprov DKI seharusnya bisa bekerja sama dengan kampus tersebut dan komunitas ondel-ondel agar kesenian ini terus berkembang. Ke depan, bukan tidak mungkin ondel-ondel bisa menjadi seni kelas dunia,” ujarnya.
Penjelasan Pramono Anung
Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyampaikan larangan penggunaan ondel-ondel untuk mengamen di jalanan ibu kota.
Larangan itu disampaikan usai membuka Lebaran Betawi 2026 di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Sabtu (11/4/2026).
Ia menyebut Pemprov DKI akan mengedepankan pendekatan edukasi kepada masyarakat yang masih memanfaatkan ondel-ondel untuk mengamen, sementara sanksi belum akan diberlakukan.
“Yang pertama tentunya kami akan memberikan edukasi bagi pengamen ondel-ondel. Saya juga minta Satpol PP melarang di lapangan,” ujar Pramono.
“Mengenai sanksi belum, tetapi yang jelas akan dilarang,” katanya.(red)






