BMKG Ungkap Dampak Debu Vulkanik Anak Krakatau terhadap Kualitas Udara Jakarta

Selasa, 8 September 2026 - 15:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, Mercinews com – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengungkap dampak debu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau terhadap kualitas udara Jakarta berdasarkan hasil analisis periode 1-7 September 2026.

Dalam analisis tersebut, BMKG menemukan konsentrasi PM2,5 di Lampung dan Jakarta sama-sama meningkat pada 5 September 2026 dibandingkan hari-hari sebelumnya.

Namun, BMKG mencatat konsentrasi PM2,5 di Jakarta memang telah berada pada tingkat tinggi sebelum 5 September. Kondisi tersebut berkaitan dengan polusi udara yang umum terjadi di wilayah perkotaan.

Berdasarkan analisis parameter partikel udara, intrusi debu vulkanik berupa partikel kasar terdeteksi meningkat tajam pada 6 September 2026. Konsentrasi partikel tersebut kemudian berangsur menurun pada 7 September.

Pada 7 September, BMKG juga mencatat volume distribusi partikel aerosol halus dan kasar mengalami penurunan secara menyeluruh.

“Kurva melandai mendekati level terendah, menandakan terjadinya peluruhan aerosol di atmosfer,” tulis BMKG melalui akun media sosialnya, Selasa (8/9/2026).

Meski konsentrasi partikel mulai menurun, BMKG mengingatkan masyarakat di Jakarta tetap mewaspadai kondisi kualitas udara. Debu vulkanik sisa erupsi dapat bercampur dengan polusi udara yang telah ada di wilayah perkotaan.

Baca Juga:  Gunung Raung Meletus Lagi! Abu Capai 1.000 Meter, Warga Diminta Menjauh

“Apalagi saat ini kita masih berada di puncak musim kemarau yang kering. Belum turunnya hujan membuat campuran partikel berbahaya ini tertahan dan melayang lebih lama di udara,” kata BMKG.

Sebaran Abu Vulkanik

Sementara itu, berdasarkan informasi per 8 September 2026 pukul 07.00 WIB, sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau berada pada ketinggian sekitar 6.000 kaki atau 1,8 kilometer.

Informasi tersebut berdasarkan data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Volcanic Ash Advisory Centre (VAAC) Darwin, serta analisis citra Red Green Blue (RGB) Himawari-9.

Baca Juga:  Imigrasi Bali Jaring 62 WNA Bermasalah dalam Patroli Dharma Dewata

Abu vulkanik terpantau bergerak ke arah selatan-barat daya. Sebarannya mencakup sebagian wilayah Banten bagian barat laut serta perairan Samudra Hindia di sebelah barat laut Banten.

BMKG mengingatkan kondisi atmosfer setelah erupsi perlu terus dipantau karena sebaran abu vulkanik dapat berubah mengikuti arah dan kecepatan angin.

Masyarakat, khususnya di wilayah yang terdampak sebaran abu vulkanik, diimbau mengikuti informasi dan perkembangan terbaru darpi BMKG serta instansi terkait.(red)

Berita Terkait

Erupsi Gunung Anak Krakatau Ganggu Penerbangan, 7 Bandara Masih Ditutup
Imigrasi Ngurah Rai Deportasi 12 WNA Hasil Patroli Keimigrasian
TETO hingga Menteri Koperasi Raih Penghargaan, Penasihat FAI Apresiasi Sudut Pandang Award 2026
Maulid Nabi di Pejagalan, Warga Mandar Lestarikan Tradisi di Perantauan
11 Tokoh dan Lembaga Raih Sudut Pandang Award 2026, Ada Menkop Ferry Juliantono dan OC Kaligis
Dewan Pers Kumpulkan Konstituen untuk Bahas Penyelenggaraan HPN
Cuaca Jakarta Hari Ini Cerah Berawan, Suhu Capai 36 Derajat Celcius
Sukses Gelar Fun Walk di Ancol, Patra M. Zen: PERADI SAI Jakarta Utara Paten

Berita Terkait

Selasa, 8 September 2026 - 15:08 WIB

BMKG Ungkap Dampak Debu Vulkanik Anak Krakatau terhadap Kualitas Udara Jakarta

Senin, 7 September 2026 - 11:13 WIB

Erupsi Gunung Anak Krakatau Ganggu Penerbangan, 7 Bandara Masih Ditutup

Senin, 7 September 2026 - 09:20 WIB

TETO hingga Menteri Koperasi Raih Penghargaan, Penasihat FAI Apresiasi Sudut Pandang Award 2026

Minggu, 6 September 2026 - 11:50 WIB

Maulid Nabi di Pejagalan, Warga Mandar Lestarikan Tradisi di Perantauan

Jumat, 4 September 2026 - 23:29 WIB

11 Tokoh dan Lembaga Raih Sudut Pandang Award 2026, Ada Menkop Ferry Juliantono dan OC Kaligis

Berita Terbaru