BBPA perluas revitalisasi bahasa Aceh ke Bireuen dan Aceh Barat pada 2025

Senin, 24 Februari 2025 - 14:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi -Sejumlah siswa

Ilustrasi -Sejumlah siswa

Banda Aceh, Mercinews.com
Balai Bahasa Provinsi Aceh (BBPA) memperluas revitalisasi bahasa Aceh ke wilayah Bireuen dan Aceh Barat pada tahun 2025.

“Tahun ini, kami berencana memperluas wilayah sasaran ke Aceh Barat dan Bireuen. Saat ini kami baru tahap mulai merancang untuk kegiatan awal,” kata Kepala Balai Bahasa Aceh Umar Solikhan di Banda Aceh, Senin (24/2/2025).

Umar menjelaskan, bahwa BBPA telah menjalankan program revitalisasi bahasa pada 2023 untuk bahasa Gayo di wilayah Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Gayo Lues.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Program revitalisasi ini dilanjutkan pada 2024 dengan menambahkan bahasa Aceh, yang menyasar penutur di Kota Banda Aceh, Aceh Besar, dan Kabupaten Pidie,” katanya.

Baca juga: BBPA luncurkan kamus bahasa Gayo dan 60 buku antologi cerita anak berbahasa daerah

Baca Juga:  10.085 personel Gabungan akan Amankan PON di Aceh, 3 Posko Keamanan Disiapkan

Pada tahun ini, Umar menyebutkan bahwa program revitalisasi untuk bahasa Gayo dan Aceh akan terus dilanjutkan, dengan memperluas cakupan ke wilayah Bireuen dan Pidie Jaya

“Dengan menambahkan Aceh Barat dan Pidie Jaya, kami ingin distribusi program ini lebih proporsional, agar tidak terpusat hanya di wilayah kota,” katanya.

Ia menambahkan bahwa program ini penting dilakukan karena jumlah penutur bahasa daerah di kalangan generasi muda terus menurun, membuat kedua bahasa tersebut semakin rentan punah.

Menurut dia, generasi muda saat ini lebih memilih menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi sehari-sehari

“Banyak pasangan muda yang tidak mengajarkan bahasa Aceh kepada anak-anak mereka sejak balita. Mereka menganggap bahasa Indonesia lebih modern,” katanya.

Baca Juga:  Panglima Militer Israel Herzi Halevi Dikabarkan Tewas Serangan Hizbullah

Kondisi tersebut, kata dia, terlihat dalam program-program yang telah dilakukan BBPA. Kebanyakan generasi muda merasa kesulitan saat mengikuti penulisan cerita rakyat dalam bahasa daerah.

“Anak-anak yang ikut Festival Tunas Bahasa Ibu tingkat SD dan SMP mengalami kesulitan saat diminta menulis dalam bahasa daerah. Alih-alih menulis langsung dalam bahasa daerah, mereka justru menulis dalam bahasa Indonesia dulu, baru menerjemahkannya ke bahasa daerah,” katanya.

Menurut Umar, hal ini menunjukkan bahwa kemampuan spontanitas anak-anak dalam menggunakan bahasa daerah sudah mulai melemah. Di sisi lain, Umar juga menyoroti pelibatan pemerintah daerah Aceh dalam upaya revitalisasi ini masih belum optimal.

“Menurut Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 Pasal 41, pembinaan, pengembangan, dan perlindungan bahasa daerah adalah tanggung jawab pemerintah daerah. Sayangnya, hingga saat ini, aktivitas tersebut belum berjalan maksimal,” katanya.

Baca Juga:  Bom bunuh diri dan tembakan, puluhan Orang Tewas di pantai kota Somalia

Salah satu hambatan utamanya adalah belum adanya regulasi kurikulum muatan lokal yang mewajibkan pengajaran bahasa daerah di sekolah.

“Pemerintah Aceh belum mengeluarkan peraturan daerah atau qanun yang mengatur kewajiban sekolah untuk menerapkan muatan lokal bahasa daerah,” katanya.

Selain itu, keberadaan guru bahasa daerah juga menjadi tantangan tersendiri. Belum ada guru khusus yang disiapkan untuk mengajar bahasa daerah. Bahkan, status guru bahasa daerah belum diakui secara resmi statusnya.

Ia berharap Pemerintah Aceh bisa bersinergi dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk mengatasi permasalahan tersebut.

“Guru-guru bahasa daerah ini perlu diakui profesionalismenya sehingga mereka bisa mendapatkan tunjangan dan pengakuan yang sama seperti guru-guru lainnya,” katanya.(*)

Sumber Berita : Antara

Berita Terkait

Imigrasi Bali Gencarkan Patroli Dharma Dewata, Awasi Aktivitas WNA
Akademisi USK Soroti Konflik PTPN IV Cot Girek, Minta Pemerintah Fasilitasi Dialog
Imigrasi Ngurah Rai Buka Layanan Paspor Akhir Pekan di Discovery Mall Bali
Imigrasi Ngurah Rai Sampaikan Kronologi Kematian WNA Australia di Ruang Detensi
Imigrasi Ponorogo Buka Layanan Paspor CPMI di LTSA, Permudah Pengurusan Dokumen ke Luar Negeri
Imigrasi Ngurah Rai Dekatkan Layanan Publik Lewat Immigration Lounge
400 KK Penambang di Aceh Selatan Desak Percepatan Penetapan Wilayah Pertambangan Rakyat
Bertemu Sael di Manokwari, Gugun Gumilar Dorong Pemuda Papua Kuliah ke Luar Negeri

Berita Terkait

Rabu, 15 Juli 2026 - 21:24 WIB

Imigrasi Bali Gencarkan Patroli Dharma Dewata, Awasi Aktivitas WNA

Selasa, 14 Juli 2026 - 20:43 WIB

Akademisi USK Soroti Konflik PTPN IV Cot Girek, Minta Pemerintah Fasilitasi Dialog

Sabtu, 11 Juli 2026 - 19:21 WIB

Imigrasi Ngurah Rai Buka Layanan Paspor Akhir Pekan di Discovery Mall Bali

Sabtu, 11 Juli 2026 - 18:45 WIB

Imigrasi Ngurah Rai Sampaikan Kronologi Kematian WNA Australia di Ruang Detensi

Jumat, 10 Juli 2026 - 19:07 WIB

Imigrasi Ponorogo Buka Layanan Paspor CPMI di LTSA, Permudah Pengurusan Dokumen ke Luar Negeri

Berita Terbaru

Prof. Yolanda Masnita Siagian (Foto: Dok. Pribadi)

Opini

Rebahan yang Ditakuti Negara

Sabtu, 18 Jul 2026 - 12:26 WIB