MERCINEWS.COM – Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menyoroti peran Amerika Serikat (AS) di tengah gelombang protes yang melanda negaranya sejak akhir Desember 2025. Khamenei menuding Washington menunggangi aksi demonstrasi yang dipicu persoalan ekonomi tersebut untuk melemahkan pemerintahan Iran.
Dalam pernyataan terbarunya, Ali Khamenei menegaskan bahwa unjuk rasa yang berkembang menjadi kerusuhan tidak semata-mata bersifat spontan.
Ia menuduh kekuatan asing, terutama AS, memanfaatkan ketidakpuasan masyarakat guna menciptakan ketidakstabilan politik di Iran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kami tidak meremehkan tuntutan rakyat, tetapi tangan musuh terlihat jelas dalam mengarahkan kekacauan,” ujar Khamenei, seperti dikutip media pemerintah Iran, Selasa (13/1).
Kemarahan Ali Khamenei juga tercermin melalui unggahan di media sosial X pada Senin (12/1/2026). Dalam unggahan tersebut, Khamenei membagikan ilustrasi Presiden AS Donald Trump yang digambarkan menyerupai Firaun, simbol tirani dalam sejarah.
Unggahan itu disertai pernyataan bahwa penguasa arogan pada akhirnya akan digulingkan, sebagaimana nasib para tiran di masa lalu.
Gelombang Protes
Gelombang protes di Iran bermula pada 28 Desember 2025 di kawasan Grand Bazaar, Teheran, dipicu oleh memburuknya kondisi ekonomi dan anjloknya nilai tukar rial.
Aksi tersebut kemudian meluas ke berbagai kota dan berkembang menjadi gerakan yang menuntut perubahan politik lebih luas.
Di tengah situasi tersebut, ribuan warga Iran juga menggelar demonstrasi pro-pemerintah di sejumlah kota. Massa menolak campur tangan asing dan menyatakan dukungan kepada pemerintah serta Pemimpin Tertinggi Iran.
Aksi tandingan itu digelar untuk menunjukkan bahwa tidak semua warga mendukung gerakan protes yang berlangsung.
Ketegangan meningkat setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan meluncurkan operasi militer terhadap Iran. Trump menyatakan opsi militer terbuka menyusul laporan meningkatnya jumlah korban dalam penanganan demonstrasi.
Organisasi pemantau hak asasi manusia yang berbasis di AS, Human Rights Activists News Agency (HRANA), melaporkan sedikitnya 544 orang tewas dalam gelombang demonstrasi Iran.
Korban tersebut terdiri atas 468 demonstran dan 48 anggota pasukan keamanan, sementara sisanya belum teridentifikasi. Ribuan orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka dan ditahan aparat keamanan.
Kecam Trump
Pemerintah Iran mengecam keras pernyataan Trump dan menyebut ancaman tersebut sebagai bentuk tekanan politik dan provokasi. Teheran menegaskan akan mempertahankan kedaulatan negara dan memperingatkan bahwa setiap agresi asing akan mendapat balasan setimpal.
Sementara itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kembali menyerukan semua pihak untuk menahan diri dan menghormati hak asasi manusia. PBB mendesak agar penyelesaian krisis dilakukan melalui dialog, bukan kekerasan, di tengah situasi yang dinilai semakin rawan eskalasi.(red)






