Ali Khamenei Soroti Peran AS di Tengah Gelombang Protes Iran

Selasa, 13 Januari 2026 - 19:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.(Foto: Dok.Eyes On Iran)

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.(Foto: Dok.Eyes On Iran)

MERCINEWS.COM – Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menyoroti peran Amerika Serikat (AS) di tengah gelombang protes yang melanda negaranya sejak akhir Desember 2025. Khamenei menuding Washington menunggangi aksi demonstrasi yang dipicu persoalan ekonomi tersebut untuk melemahkan pemerintahan Iran.

Dalam pernyataan terbarunya, Ali Khamenei menegaskan bahwa unjuk rasa yang berkembang menjadi kerusuhan tidak semata-mata bersifat spontan.

Ia menuduh kekuatan asing, terutama AS, memanfaatkan ketidakpuasan masyarakat guna menciptakan ketidakstabilan politik di Iran.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kami tidak meremehkan tuntutan rakyat, tetapi tangan musuh terlihat jelas dalam mengarahkan kekacauan,” ujar Khamenei, seperti dikutip media pemerintah Iran, Selasa (13/1).

Baca Juga:  EMT MER-C ke-7 Berhasil Masuk Gaza Utara Bersama dengan Ratusan Ribu Warga

Kemarahan Ali Khamenei juga tercermin melalui unggahan di media sosial X pada Senin (12/1/2026). Dalam unggahan tersebut, Khamenei membagikan ilustrasi Presiden AS Donald Trump yang digambarkan menyerupai Firaun, simbol tirani dalam sejarah.

Unggahan itu disertai pernyataan bahwa penguasa arogan pada akhirnya akan digulingkan, sebagaimana nasib para tiran di masa lalu.

Gelombang Protes 

Gelombang protes di Iran bermula pada 28 Desember 2025 di kawasan Grand Bazaar, Teheran, dipicu oleh memburuknya kondisi ekonomi dan anjloknya nilai tukar rial.

Aksi tersebut kemudian meluas ke berbagai kota dan berkembang menjadi gerakan yang menuntut perubahan politik lebih luas.

Baca Juga:  Presiden baru Iran Masoud Pezeshkian Resmi Dilantik

Di tengah situasi tersebut, ribuan warga Iran juga menggelar demonstrasi pro-pemerintah di sejumlah kota. Massa menolak campur tangan asing dan menyatakan dukungan kepada pemerintah serta Pemimpin Tertinggi Iran.

Aksi tandingan itu digelar untuk menunjukkan bahwa tidak semua warga mendukung gerakan protes yang berlangsung.

Ketegangan meningkat setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan meluncurkan operasi militer terhadap Iran. Trump menyatakan opsi militer terbuka menyusul laporan meningkatnya jumlah korban dalam penanganan demonstrasi.

Organisasi pemantau hak asasi manusia yang berbasis di AS, Human Rights Activists News Agency (HRANA), melaporkan sedikitnya 544 orang tewas dalam gelombang demonstrasi Iran.

Baca Juga:  Presiden Iran menuduh kelompok politik dalam negeri mencegah pekerjaannya

Korban tersebut terdiri atas 468 demonstran dan 48 anggota pasukan keamanan, sementara sisanya belum teridentifikasi. Ribuan orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka dan ditahan aparat keamanan.

Kecam Trump

Pemerintah Iran mengecam keras pernyataan Trump dan menyebut ancaman tersebut sebagai bentuk tekanan politik dan provokasi. Teheran menegaskan akan mempertahankan kedaulatan negara dan memperingatkan bahwa setiap agresi asing akan mendapat balasan setimpal.

Sementara itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kembali menyerukan semua pihak untuk menahan diri dan menghormati hak asasi manusia. PBB mendesak agar penyelesaian krisis dilakukan melalui dialog, bukan kekerasan, di tengah situasi yang dinilai semakin rawan eskalasi.(red)

Berita Terkait

ISTAF Imposes Interim Bans on Eight Thai Sepaktakraw Officials Over World Cup Final Incident
Iran Bantah Klaim Trump soal Penandatanganan Kesepakatan Timur Tengah
Iran Kecam Serangan AS, Ketegangan di Kawasan Teluk Kembali Memanas
Ketika Stafsus Menag Bertemu Dubes Chile, Ini yang Bahas
Trump Klaim Iran Ingin Capai Kesepakatan dengan AS
Momen Hangat Prabowo di Paris, Ajak Pengawal Prancis Foto Bersama Sebelum Pulang
Prabowo Disambut Hangat Macron saat Tiba di Istana Elysee Paris
Bank Sentral AS: Penutupan Selat Hormuz Ancam Pasokan Minyak dan Gas Dunia

Berita Terkait

Senin, 22 Juni 2026 - 22:12 WIB

ISTAF Imposes Interim Bans on Eight Thai Sepaktakraw Officials Over World Cup Final Incident

Minggu, 14 Juni 2026 - 10:25 WIB

Iran Bantah Klaim Trump soal Penandatanganan Kesepakatan Timur Tengah

Minggu, 7 Juni 2026 - 00:11 WIB

Iran Kecam Serangan AS, Ketegangan di Kawasan Teluk Kembali Memanas

Jumat, 5 Juni 2026 - 08:48 WIB

Ketika Stafsus Menag Bertemu Dubes Chile, Ini yang Bahas

Senin, 1 Juni 2026 - 16:48 WIB

Trump Klaim Iran Ingin Capai Kesepakatan dengan AS

Berita Terbaru

Prof. Yolanda Masnita Siagian (Foto: Dok. Pribadi)

Opini

Rebahan yang Ditakuti Negara

Sabtu, 18 Jul 2026 - 12:26 WIB