“Global March to Gaza bukan sekadar acara delapan hari. Ini adalah gerakan hidup yang menjadi bagian dari perjuangan panjang membela hidup, kebebasan, dan martabat rakyat Palestina.”
Jakarta, Mercinews – Ketua Koalisi Perempuan Indonesia Peduli Al-Aqsha (KPIPA), Nurjanah Hulwani, bersama ribuan aktivis kemanusiaan dari 80 negara yang tergabung dalam ‘Global March to Gaza’, terpaksa menghentikan aksinya setelah otoritas Mesir menolak memberikan izin menuju perbatasan Rafah.

Rencana menuju perbatasan Rafah untuk menyalurkan dukungan kemanusiaan dan menuntut dihentikannya blokade Gaza gagal terlaksana, namun Ketua KPIPA menegaskan bahwa perjuangan membela Palestina belum usai.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam keterangan resmi KPIPA yang diterima Sabtu (21/6/2025), disebutkan bahwa lebih dari 4.000 peserta aksi kemanusiaan itu dipulangkan ke negara masing-masing setelah gagal melanjutkan perjalanan dari Kairo ke Al-Arish, yang sedianya dilanjutkan dengan long march menuju gerbang Rafah.
Aksi ini membawa misi mendesak dibukanya blokade bantuan untuk Gaza serta menghentikan agresi dan genosida yang dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina. Namun, seluruh rangkaian kegiatan tersebut dihentikan sejak 12 hingga 15 Juni 2025 oleh otoritas Mesir.
Nurjanah Hulwani bersama aktivis Indonesia lainnya, Salman Al-Farisi (MINDA), Maryam Rachmayani (Adara dan ARI BP), dan Indah Kurniati (Adara), terpaksa bertahan di hotel Kairo tanpa kejelasan izin keluar hingga akhirnya dipulangkan.
“Pada hari kedua di Mesir, 13 Juni, kami berencana bergerak ke Ismailiyah. Namun peserta aksi lainnya sudah lebih dulu dicegat aparat Mesir di Distrik 10 Ramadhan. Sebagian ditahan, dan sebagian lainnya dipaksa naik bus untuk dipulangkan. Paspor mereka juga disita,” ungkap Nurjanah.
Perjalanan menuju Ismailiyah yang direncanakan pada Sabtu subuh (14/6) akhirnya dibatalkan atas arahan panitia, demi menjaga keselamatan peserta.
Meski aksi fisik gagal dilakukan, panitia Global March to Gaza menegaskan bahwa perjuangan belum berakhir. Mereka menyerukan agar semangat solidaritas terhadap Palestina tetap digelorakan di negara masing-masing.
“Ini bukan akhir dari perjuangan. Insya Allah akan datang saatnya kita bersama-sama membuka blokade dan menghentikan genosida di Gaza secara permanen atas izin Allah,” ujar Nurjanah memberi semangat.
Panitia juga menyampaikan bahwa jutaan orang di seluruh dunia mendukung perjuangan ini melalui aksi solidaritas yang tersebar di lebih dari 50 kota dan komunitas global.
“Global March to Gaza bukan sekadar acara delapan hari. Ini adalah gerakan hidup yang menjadi bagian dari perjuangan panjang membela hidup, kebebasan, dan martabat rakyat Palestina,” pungkasnya.(red)






