Jakarta, Mercinews.com – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dinilai semakin menambah tekanan bagi dunia usaha. Selain menghadapi kenaikan biaya akibat pelemahan kurs, pelaku usaha juga masih dibebani tingginya biaya logistik, energi dan pembiayaan.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani mengatakan, dampak pelemahan rupiah mulai dirasakan sektor riil, terutama industri manufaktur yang masih bergantung pada bahan baku impor.
Menurutnya, sekitar 70 persen bahan baku dan barang antara yang digunakan industri manufaktur masih berasal dari luar negeri. Kondisi tersebut membuat sektor manufaktur sangat sensitif terhadap pergerakan nilai tukar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Tekanan terhadap rupiah ini sudah terjadi secara bertahap sejak awal tahun sehingga dampaknya terhadap sektor riil kini semakin terasa,” kata Shinta, Rabu (10/6/2026).
Ia menjelaskan, dunia usaha saat ini menghadapi tekanan biaya berlapis. Di satu sisi, biaya produksi meningkat akibat naiknya harga bahan baku impor.
Di sisi lain, lanjut, perusahaan memiliki ruang terbatas untuk menaikkan harga jual karena daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih dan persaingan pasar masih ketat.
Menurut Shinta, dampak pelemahan rupiah tidak dirasakan secara merata. Perusahaan yang memiliki kandungan bahan baku lokal tinggi atau berorientasi ekspor relatif lebih mampu bertahan.
Sebaliknya, industri yang mengandalkan bahan baku impor dan menjual produknya di pasar domestik menghadapi tekanan yang lebih besar.
Kondisi tersebut, kata dia, berpotensi menggerus margin keuntungan perusahaan dan membuat pelaku usaha lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi maupun ekspansi.
Karena itu, Apindo mendorong pemerintah dan otoritas moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar serta menekan berbagai biaya ekonomi domestik, mulai dari logistik, energi, hingga biaya pembiayaan.
Rupiah Akan Menguat
Sementara itu, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan rupiah akan menguat secara bertahap pada semester II 2026 setelah menghadapi tekanan dalam beberapa bulan terakhir.
Menurut Purbaya, pemerintah optimistis stabilitas nilai tukar dapat terjaga melalui koordinasi kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan, termasuk perbaikan tata kelola devisa hasil ekspor (DHE).
Ia menyatakan Pemerintah memproyeksikan nilai tukar rupiah pada 2027 berada di kisaran Rp 16.800 hingga Rp 17.500 per dolar AS, seiring harapan membaiknya kondisi ekonomi global dan meningkatnya kepercayaan investor.(red)






