Jakarta, Mercinews.com – Mengantisipasi potensi dampak fenomena yang populer disebut sebagai ‘El Nino Godzilla’, PTPN IV PalmCo memperkuat sistem deteksi dini kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di seluruh wilayah operasionalnya sebagai langkah mitigasi menghadapi musim kemarau tahun ini.
Istilah ‘El Nino Godzilla’ belakangan ramai diperbincangkan di ruang publik, meski secara ilmiah tidak dikenal dalam kajian klimatologi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa fenomena El Nino secara resmi hanya diklasifikasikan menjadi lemah, moderat, dan kuat.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, sebelumnya menyebutkan peluang terjadinya El Nino Godzilla lemah hingga moderat pada paruh kedua tahun ini berkisar 50-60 persen. Kendati tidak ekstrem, kondisi tersebut tetap berpotensi menurunkan curah hujan dan meningkatkan risiko kebakaran di wilayah perkebunan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, menyatakan perusahaan memilih menerapkan langkah mitigasi sejak dini untuk menghindari dampak lebih besar terhadap lingkungan dan operasional.
“Kami tetap menyiapkan langkah antisipatif seolah menghadapi skenario terburuk. Pencegahan menjadi prioritas utama, khususnya terkait potensi kebakaran di area perkebunan,” ujar Jatmiko dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Rabu (1/4/2026).
Untuk memperkuat pencegahan, perusahaan mengandalkan sistem pemantauan berbasis kecerdasan buatan bernama ARFINA (Artificial Intelligence Fire Monitoring Integrated Ground Checking Nusantara). Teknologi ini digunakan untuk mendeteksi titik panas secara waktu nyata sehingga tim di lapangan dapat segera melakukan penanganan sebelum api meluas.
Selain teknologi, perusahaan juga memperkuat infrastruktur pendukung seperti embung dan sekat kanal di wilayah yang rawan kekeringan. Fasilitas ini berfungsi menjaga ketersediaan air sekaligus menghambat penyebaran api apabila terjadi kebakaran.
PTPN IV PalmCo juga berkoordinasi dengan TNI dan Polri dalam patroli terpadu dan kesiapsiagaan penanganan karhutla, khususnya di wilayah Sumatera dan Kalimantan yang memiliki riwayat kejadian kebakaran pada musim kemarau.
Selain risiko kebakaran, kemarau panjang juga berpotensi menurunkan produktivitas kelapa sawit. Kekurangan air dapat menghambat pertumbuhan tanaman, menurunkan kualitas tandan buah segar, serta meningkatkan kerentanan terhadap serangan hama.
Perhatian khusus diberikan pada tanaman belum menghasilkan (TBM) yang dinilai lebih rentan terhadap stres air karena sistem perakarannya belum berkembang optimal.
Terapkan strategi agronomi adaptif
Untuk menjaga stabilitas produksi, perusahaan menerapkan strategi agronomi adaptif, antara lain pengelolaan kelembapan tanah, efisiensi tata kelola air, serta pengendalian hama secara terpadu. Langkah ini diharapkan dapat menjaga kondisi tanaman tetap optimal meskipun menghadapi tekanan iklim.
Dengan kombinasi teknologi deteksi dini, penguatan infrastruktur, dan penyesuaian strategi budidaya, PTPN IV PalmCo berupaya meminimalkan dampak musim kemarau terhadap operasional perusahaan sekaligus menekan risiko kebakaran yang dapat menimbulkan kerugian ekonomi dan lingkungan.
“Dengan berbagai langkah tersebut, PTPN IV PalmCo berharap dapat menjaga stabilitas operasional sekaligus meminimalkan dampak lingkungan dan sosial yang kerap menyertai musim kemarau panjang,” pungkas Jatmiko.(red)






