“Generasi 2045 harus cerdas, tapi juga berkarakter. Harus jago teknologi, tapi tidak kehilangan nilai kemanusiaan.”
Solo, Mercinews.com – Staf Khusus Menteri Agama RI Gugun Gumilar menyampaikan pesan kerukunan dan kebangsaan di hadapan jemaat Gereja Keluarga Allah (GKA) Solo. Kehadiran Stafsus Menag itu menjadi simbol nyata dialog lintas iman dalam rangka menyongsong Indonesia Emas 2045.
Berbicara langsung di mimbar gereja, Gugun menegaskan semangat kerukunan adalah fondasi utama bangsa. Keberagaman iman, suku, dan budaya harus dirawat sebagai kekuatan, bukan alasan untuk terpecah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Alumnus alumnus Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung itu mengapresiasi GKA Solo yang membuka ruang dialog kebangsaan.
Menurutnya, ketika tokoh agama dan jemaat dari keyakinan berbeda duduk bersama membicarakan masa depan bangsa, itu bukti Pancasila hidup.
“Indonesia Emas 2045 hanya bisa kita wujudkan kalau umat beragama kompak menjaga persatuan. Beda iman tidak membuat kita berbeda sebagai anak bangsa. Justru di situlah kekuatan kita,” ujar Gugun di hadapan jemaat GKA Solo, dikutip Minggu (31/5).
Pendidikan Karakter Kebangsaan
Stafsus Menag RI menyorot peran pendidikan dalam mencetak generasi emas. Ia menekankan sekolah, keluarga, dan rumah ibadah punya tugas sama: menanamkan cinta tanah air, toleransi, dan etika.
“Generasi 2045 harus cerdas, tapi juga berkarakter. Harus jago teknologi, tapi tidak kehilangan nilai kemanusiaan,” katanya.
“Kalau anak-anak kita dibesarkan dalam lingkungan yang mengajarkan saling menghormati, baik di sekolah maupun di rumah ibadah, maka 2045 bukan sekadar angka. Itu masa depan yang pasti kita raih bersama,” sambung pria kelahiran Purwakarta yang pernah menjadi salah satu pembicara di Forum Internasional G20.
Gugun menyebut GKA Solo sebagai contoh rumah ibadah yang moderat dan inklusif. Tradisi Solo yang guyub dan toleran dinilai jadi modal penting membangun kohesi sosial nasional.
Pesan penutupnya untuk jemaat, Gugun meminta untuk merawat kerukunan yang dimulai dari hal kecil.
“Tegur sapa tetangga beda keyakinan, lawan hoaks di grup WhatsApp keluarga, dan ajarkan anak untuk bangga jadi Indonesia,” pesan Duta Muda PBB untuk Indonesia dan pendiri Institute of Democracy and Education (IDE) Indonesia itu.(red)






