MERCINEWS.COM – Dunia kembali diguncang ketegangan besar setelah pasukan udara Israel dilaporkan melancarkan serangan ke wilayah Iran pada Jumat (13/6) dini hari waktu setempat. Ledakan keras terdengar di sejumlah titik, termasuk ibu kota Teheran, memicu kepanikan warga dan gelombang kecemasan global atas potensi eskalasi perang terbuka antara dua negara besar di Timur Tengah.
Laporan dari media AS Axios menyebut bahwa serangan ini merupakan aksi militer langsung Israel terhadap Iran, menyusul ancaman dan persiapan yang telah disebutkan sebelumnya oleh sumber-sumber militer Amerika. Sehari sebelumnya, CBS News mengabarkan bahwa Israel telah berada dalam kondisi siap tempur penuh untuk menggempur target-target strategis di Iran.
Meskipun belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah Israel maupun Iran soal titik serangan, sumber dari The New York Times menyebut bahwa para pemimpin tinggi Iran telah menggelar rapat darurat untuk menyiapkan respons. Seorang pejabat Iran bahkan menyatakan bahwa serangan balasan akan dilakukan “segera setelah serangan pertama terjadi.”
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, telah mengumumkan status darurat nasional. Dalam pernyataannya, ia memperingatkan potensi serangan balasan berupa rudal dan drone yang menyasar wilayah Israel dan penduduk sipilnya.
“Menyusul serangan pendahuluan Negara Israel terhadap Iran, kami bersiap untuk segala bentuk respons militer dari Teheran,” ujar Katz dalam pernyataan resminya.
Dampak Global: Pasar, Minyak, dan Ketegangan Internasional
Serangan Israel ke Iran memicu reaksi cepat di seluruh dunia. Harga minyak mentah melonjak tajam di pasar Asia, menandai kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global. Iran merupakan salah satu produsen minyak terbesar di dunia, dan ketegangan di wilayah tersebut hampir selalu berdampak langsung pada harga energi dan pasar saham global.
Negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Rusia, dan China juga dikabarkan tengah memantau situasi dengan seksama. Beberapa analis memperingatkan bahwa konflik ini bisa menyeret kekuatan regional lain, seperti Hizbullah di Lebanon, dan bahkan melibatkan koalisi militer yang lebih luas.
Organisasi-organisasi internasional seperti PBB dan Uni Eropa telah menyerukan deeskalasi segera. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengimbau kedua pihak untuk menahan diri dan mengutamakan dialog demi mencegah bencana kemanusiaan.
Apa yang Harus Diwaspadai Dunia?
Pengamat hubungan internasional menilai bahwa dampak dari serangan ini bisa menjalar ke berbagai sektor, mulai dari geopolitik dengan meningkatnya risiko konflik kawasan yang berpotensi meluas ke Suriah, Irak, bahkan Yaman. Ekonomi global akibat lonjakan harga minyak dan terganggunya distribusi energi, stabilitas regional yang terancam karena potensi gangguan di jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz, hingga keamanan global, dengan munculnya kemungkinan aksi terorisme dan serangan siber sebagai bentuk respons tidak langsung.
Serangan ini menjadi salah satu peristiwa militer paling mengkhawatirkan di tahun 2025, yang bisa mengubah peta politik dan keamanan global. Dunia kini menahan napas, menunggu apakah akan ada jalan damai, atau babak baru perang besar yang akan meletus di Timur Tengah.(red)






