Rupiah Dibuka Melemah, Investor Soroti Pelebaran Defisit Fiskal

Jumat, 9 Januari 2026 - 10:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi

Ilustrasi

JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – Nilai tukar rupiah dibuka melemah pada perdagangan Jumat di Jakarta, terdorong kekhawatiran investor terkait pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025. Rupiah dibuka di level Rp16.829 per dolar AS, turun 31 poin atau 0,18 persen dari penutupan sebelumnya Rp16.798 per dolar AS.

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menjelaskan pelemahan rupiah salah satunya disebabkan oleh realisasi defisit fiskal yang lebih tinggi dari perkiraan pemerintah. “Defisit fiskal tercatat 2,92 persen dari produk domestik bruto (PDB), melebihi proyeksi resmi 2,78 persen,” ujar Josua di Jakarta, Jumat (9/1).

Baca Juga:  Aspek Pajak atas Dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya melaporkan realisasi defisit APBN 2025 sementara sebesar Rp695,1 triliun per 31 Desember 2025. Angka ini melampaui target awal APBN 2025 sebesar 2,53 persen dari PDB dan proyeksi laporan semester yang berada di 2,78 persen. Pelebaran defisit membuat posisi fiskal mendekati batas maksimal 3 persen dari PDB, sebagaimana diatur dalam undang-undang.

Selain faktor domestik, sentimen global turut memengaruhi pergerakan rupiah. Lembaga konsultan ketenagakerjaan Challenger, Gray & Christmas melaporkan jumlah pemutusan hubungan kerja (PHK) di Amerika Serikat pada Desember 2025 turun 8,3 persen secara tahunan menjadi 35.553, level terendah sejak Juli 2024.

Sementara itu, data klaim awal tunjangan pengangguran AS (initial jobless claims) untuk pekan yang berakhir 3 Januari 2025 meningkat menjadi 208.000 dari 200.000 pada pekan sebelumnya, tetapi masih di bawah ekspektasi pasar sebesar 212.000 klaim. Neraca perdagangan AS pada Oktober 2025 juga menunjukkan defisit terkecil sejak 2009, sebesar 29,4 miliar dolar AS, seiring menurunnya impor.

Baca Juga:  Purbaya: Harapan di Tengah Keretakan Anggaran

Josua menambahkan, kombinasi pelebaran defisit fiskal domestik dan dinamika ekonomi global membuat pergerakan rupiah cenderung rentan terhadap tekanan jangka pendek. Pelaku pasar kini menantikan langkah kebijakan pemerintah dan bank sentral untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan fiskal.(red)

Berita Terkait

Purbaya Masih Optimistis Rupiah Menguat pada Semester II 2026
Akulaku Finance dan Danamon Perkuat Sinergi, Dorong Pertumbuhan Pembiayaan Digital
Rupiah Tertekan, Nilai Tukar Diproyeksi Dekati Rp 18.000 per Dolar AS
Purbaya Soroti Koordinasi Kemenhub soal Pajak Kapal Asing
Kamu Pengusaha Kena Pajak? Catat Ini agar Tidak Dicabut Kewenangannya
Aspek Pajak atas Dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan
Aset Perusahaan Terbakar? Begini Aspek Perpajakannya
Purbaya: Harapan di Tengah Keretakan Anggaran

Berita Terkait

Rabu, 10 Juni 2026 - 21:48 WIB

Purbaya Masih Optimistis Rupiah Menguat pada Semester II 2026

Senin, 8 Juni 2026 - 21:08 WIB

Akulaku Finance dan Danamon Perkuat Sinergi, Dorong Pertumbuhan Pembiayaan Digital

Kamis, 28 Mei 2026 - 20:52 WIB

Rupiah Tertekan, Nilai Tukar Diproyeksi Dekati Rp 18.000 per Dolar AS

Kamis, 29 Januari 2026 - 00:26 WIB

Purbaya Soroti Koordinasi Kemenhub soal Pajak Kapal Asing

Jumat, 9 Januari 2026 - 10:45 WIB

Rupiah Dibuka Melemah, Investor Soroti Pelebaran Defisit Fiskal

Berita Terbaru

Prof. Yolanda Masnita Siagian (Foto: Dok. Pribadi)

Opini

Rebahan yang Ditakuti Negara

Sabtu, 18 Jul 2026 - 12:26 WIB