PBB: Gaza Palestina Butuhkan Bantuan Besar-besaran untuk Hindari Bencana

Sabtu, 13 April 2024 - 14:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JENEWA,Mercinews.com – Seorang pejabat senior Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan akan terjadinya “bencana dahsyat” bagi ratusan ribu warga Palestina yang hidup dalam kondisi berbahaya di Gaza yang dilanda perang, jika pengiriman bantuan kemanusiaan ke wilayah tersebut tidak diperluas secara besar-besaran dalam beberapa hari mendatang.

“Kita harus memiliki sistem yang memungkinkan kita merasa aman dan terlindungi ketika kita mengirimkan bantuan, dan itu adalah tanggung jawab Israel ketika kita beroperasi di wilayah yang mereka duduki,” kata Jamie McGoldrick, koordinator kemanusiaan PBB untuk wilayah pendudukan Palestina.

Berbicara pada Jumat (12/4) dari Yerusalem, McGoldrick mengatakan kepada wartawan di Jenewa bahwa sulit dan berbahaya bagi pekerja bantuan untuk bergerak dan mengirimkan bantuan di Gaza, dan menambahkan bahwa sebuah kendaraan Dana Anak-anak PBB atau UNICEF (United Nations Children’s Fund) pada Selasa (9/4) terkena peluru tajam ketika menunggu untuk memasuki Gaza utara.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Insiden tersebut menyusul pembunuhan tujuh pekerja World Central Kitchen yang sedang mengantarkan bantuan ke Gaza pada tanggal 1 April oleh Israel, dan penyerangan serta penjarahan konvoi 14 truk Program Pangan Dunia (WFP) yang bertujuan ke Gaza utara bulan lalu.

Perkembangan seperti ini menggambarkan bahwa “sistem yang kita gunakan bagi perlindungan dan keselamatan para pekerja bantuan tidak berfungsi,” katanya.

Baca Juga:  China Tuntut Penjelasan AS, Terkait Dokumen Rahasia yang Bocor

Merujuk pada konvoi yang diserang, McGoldrick mengatakan, “Saya pikir para pekerja kemanusiaan di sana kemudian mengkhawatirkan keselamatan mereka sendiri. Dan sejauh yang kami tahu, sistem dekonflik dan notifikasi memiliki kelemahan.”

“Kami tidak memiliki peralatan komunikasi di Gaza untuk beroperasi dengan baik seperti yang Anda miliki dalam situasi lain, dan kedua, kami tidak memiliki hotline atau nomor darurat untuk dihubungi jika terjadi insiden darurat, dan oleh karena itu penting bahwa kita mencari solusinya.”

McGoldrick mengatakan dia bertemu dengan Mayor Jenderal Yaron Finkelman, kepala Komando Selatan Pasukan Pertahanan Israel (IDF), minggu ini dan memberinya daftar permintaan yang memungkinkan pengiriman bantuan kemanusiaan “dengan aman, efektif dan sesuai kebutuhan berskala besar di seluruh Gaza.”

Dia juga mengatakan kepada Mayor Jenderal Israel itu bahwa “kami bekerja di daerah yang sangat bermusuhan, tanpa kemungkinan untuk menghubungi satu sama lain. Kami tidak memiliki radio. Kami tidak memiliki jaringan seluler.”

Jika kami mengalami insiden keamanan yang serius, kami tidak memiliki hotline. Kami tidak memiliki cara untuk berkomunikasi dengan IDF bahwa kami menghadapi masalah di pos pemeriksaan atau menghadapi masalah dalam perjalanan.”

McGoldrick mengatakan Mayor Jenderal Finkelman menjanjikan kepadanya bahwa dia akan bergerak maju dan bahwa anggota IDF akan menjadi bagian dari sel koordinasi dan dekonflik kemanusiaan baru untuk memperbaiki situasi (penyaluran bantuan) bagi warga Palestina di Gaza.

Baca Juga:  Houthi menyerang kapal induk AS senilai $5,3 miliar di Laut Merah

“Kami mendapat komitmen dari Mayor Jenderal, dan kami akan menuntut komitmen mereka, dan memastikan bahwa kita bisa menyiapkan dan menjalankan (komitmen itu) sesegera mungkin,” katanya.

McGoldrick mencatat bahwa tidak cukup bantuan yang masuk ke Gaza utara untuk memenuhi kebutuhan besar puluhan ribu orang yang kekurangan makanan, perawatan medis, dan kebutuhan penting lainnya untuk menyelamatkan nyawa.

“Kami lihat dari situasi kesehatannya. Kami lihat dari situasi gizinya,” ujarnya.

“Anak-anak menunjukkan tanda-tanda kekurangan gizi yang serius, dan fakta bahwa IPC [Klasifikasi Fase Ketahanan Pangan Terpadu] menyoroti bahwa 70% populasi berada dalam bahaya kelaparan. Kami perlu melihat perubahan dalam hal tersebut, namun (sayangnya) hal tersebut tidak terjadi.”

Kemungkinan serangan Israel ke Rafah

Hal lain yang menjadi perhatian besar, yang paling penting dalam pikiran para aktivis kemanusiaan, adalah potensi serangan Israel ke Rafah. McGoldrick mengatakan orang-orang yang dia temui dalam kunjungannya ke Gaza beberapa hari lalu sangat khawatir tentang kemungkinan serangan tersebut, kekhawatiran yang juga dia sampaikan kepada Mayjen Finkelman.

“Kami telah menegaskan sejak hari pertama bahwa kami memerlukan waktu untuk mempersiapkan dan menempatkan pasokan ke tempat-tempat di mana orang mungkin bermigrasi,” katanya. “Kami tidak dapat melakukan itu sekarang karena kami tidak memiliki cukup pasokan yang datang secara rutin.”

Baca Juga:  Dua tentara Israel tewas akibat ledakan bom di Gaza tengah

“Saat ini kami hampir tidak mampu memberi makan dan mendukung warga (Palestina di Gaza). Dan jika kami menambahkan dimensi lain dari proses perencanaan darurat untuk (kemungkinan terjadinya) serangan di Rafah, kami belum siap untuk itu,” katanya.

Untuk mengatasi sistem kesehatan yang tidak lagi berfungsi, katanya, WHO mendirikan rumah sakit lapangan medis darurat di seluruh utara dan tengah Gaza, untuk mencoba memberikan layanan “jika Rafah terkurung oleh serangan militer (Israel), maka kami tidak dapat beroperasi dari sana.”

“Kita menghadapi situasi dramatis yang nyata di depan kita,” katanya.

“Dan jika memang terjadi serangan di Rafah, angka yang disebutkan adalah evakuasi sekitar 800.000 orang dari Rafah. Seperti yang kita lihat saat ini, tidak ada lagi ruang yang bisa menampung orang sebanyak itu,” katanya.

“Kami membunyikan peringatan bahwa kami belum siap untuk memenuhi kebutuhan. Kami tidak akan membantu orang-orang yang mengungsi atau menjadi bagian dari evakuasi, namun kami harus siap mendukung mereka jika mereka tiba di tujuan lain,” ujarnya.

“Beberapa warga (Gaza di Rafah) telah mengungsi sebanyak lima atau enam kali,” pungkasnya. []

Sumber: VOA

Berita Terkait

ISTAF Imposes Interim Bans on Eight Thai Sepaktakraw Officials Over World Cup Final Incident
Iran Bantah Klaim Trump soal Penandatanganan Kesepakatan Timur Tengah
Iran Kecam Serangan AS, Ketegangan di Kawasan Teluk Kembali Memanas
Ketika Stafsus Menag Bertemu Dubes Chile, Ini yang Bahas
Trump Klaim Iran Ingin Capai Kesepakatan dengan AS
Momen Hangat Prabowo di Paris, Ajak Pengawal Prancis Foto Bersama Sebelum Pulang
Prabowo Disambut Hangat Macron saat Tiba di Istana Elysee Paris
Bank Sentral AS: Penutupan Selat Hormuz Ancam Pasokan Minyak dan Gas Dunia

Berita Terkait

Senin, 22 Juni 2026 - 22:12 WIB

ISTAF Imposes Interim Bans on Eight Thai Sepaktakraw Officials Over World Cup Final Incident

Minggu, 14 Juni 2026 - 10:25 WIB

Iran Bantah Klaim Trump soal Penandatanganan Kesepakatan Timur Tengah

Minggu, 7 Juni 2026 - 00:11 WIB

Iran Kecam Serangan AS, Ketegangan di Kawasan Teluk Kembali Memanas

Jumat, 5 Juni 2026 - 08:48 WIB

Ketika Stafsus Menag Bertemu Dubes Chile, Ini yang Bahas

Senin, 1 Juni 2026 - 16:48 WIB

Trump Klaim Iran Ingin Capai Kesepakatan dengan AS

Berita Terbaru

Prof. Yolanda Masnita Siagian (Foto: Dok. Pribadi)

Opini

Rebahan yang Ditakuti Negara

Sabtu, 18 Jul 2026 - 12:26 WIB