“Mathla’ul Anwar tidak boleh kehilangan akar, tetapi harus berani menjulangkan cabangnya mengikuti perkembangan zaman.”
Oleh Zaenal Abidin Syuja’i
Muktamar XXI Mathla’ul Anwar telah menetapkan kepemimpinan baru Pengurus Besar Mathla’ul Anwar (PBMA) periode 2026-2031 di bawah kepemimpinan Dr. KH Jazuli Juwaini, M.A. Kepengurusan baru ini mengusung visi transformasi “Mathla’ul Anwar Naik Level: Bangkit, Berdaya, dan Berpengaruh.”
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kepemimpinan baru tersebut diharapkan mampu membawa Mathla’ul Anwar menjadi organisasi yang semakin adaptif, progresif, dan relevan dalam menjawab tantangan zaman, tanpa kehilangan jati dirinya sebagai organisasi dakwah, pendidikan, dan sosial keagamaan.
Transformasi organisasi pada hakikatnya merupakan sebuah keniscayaan. Dunia terus berubah dengan sangat cepat. Revolusi digital, perkembangan teknologi informasi, perubahan sosial, tantangan ekonomi global, hingga pergeseran pola pikir generasi muda menuntut organisasi keumatan untuk terus melakukan penyesuaian.
Organisasi yang tidak mampu bertransformasi dan beradaptasi dengan perkembangan zaman akan tertinggal serta kehilangan relevansinya di tengah masyarakat. Namun, transformasi tidak boleh dimaknai sebagai perubahan yang menghilangkan identitas dan ruh perjuangan organisasi.
Di sinilah pentingnya menjaga khittah Mathla’ul Anwar. Organisasi kemasyarakatan Islam ini lahir sebagai gerakan dakwah dan pendidikan yang berlandaskan nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah serta berorientasi pada pencerdasan umat, pemberdayaan masyarakat, dan pengabdian kepada bangsa dan negara.
Khittah itulah yang harus menjadi kompas dalam setiap langkah transformasi. Modernisasi kelembagaan, digitalisasi sistem organisasi, penguatan tata kelola, serta pengembangan jejaring nasional dan internasional merupakan instrumen untuk memperbesar manfaat organisasi, bukan untuk menggeser orientasi pengabdian yang menjadi jati diri Mathla’ul Anwar.
Tantangan terbesar PB Mathla’ul Anwar periode 2026-2031 sesungguhnya terletak pada kemampuannya membangun keseimbangan antara idealisme dan pragmatisme. Organisasi perlu membuka diri terhadap berbagai peluang dan kerja sama strategis, tetapi tetap menjaga independensi, marwah, serta orientasi perjuangannya.
Mathla’ul Anwar yang lahir di Pandeglang, Banten, pada 1916 dan kini telah memiliki perwakilan serta lembaga pendidikan di berbagai daerah di Indonesia harus menjadi organisasi yang modern dalam manajemen, profesional dalam tata kelola, namun tetap kokoh memegang nilai, etika, dan tradisi pengabdian. Hal tersebut sebagaimana disampaikan Ketua Umum PBMA periode 2026-2031 dalam pidato pelantikannya di Gedung Pakuan, Bandung, pada 20 Juni 2026.
Di bidang pendidikan, transformasi menuntut penguatan kualitas sumber daya manusia, inovasi kurikulum, serta pemanfaatan teknologi digital tanpa meninggalkan pembentukan karakter dan akhlak. Pendidikan Mathla’ul Anwar tidak cukup hanya melahirkan manusia yang cerdas secara intelektual, tetapi juga generasi yang memiliki integritas moral, spiritualitas yang kuat, serta kepedulian sosial yang tinggi.
Dalam bidang dakwah, perubahan zaman mengharuskan Mathla’ul Anwar menghadirkan model dakwah yang lebih kontekstual dan inklusif. Dakwah tidak lagi terbatas pada mimbar dan majelis taklim, tetapi juga harus hadir di ruang digital, media sosial, serta berbagai platform komunikasi modern dengan tetap menjunjung tinggi prinsip hikmah, moderasi, dan persatuan umat.
Sementara itu, di bidang sosial dan pemberdayaan, Mathla’ul Anwar dituntut mampu menghadirkan solusi atas berbagai persoalan masyarakat, mulai dari kemiskinan, ketimpangan pendidikan, hingga tantangan kebangsaan. Kehadiran organisasi harus dirasakan secara nyata sebagai kekuatan yang mencerahkan dan memberdayakan masyarakat.
Transformasi PB Mathla’ul Anwar periode 2026-2031 bukanlah pilihan antara menjaga khittah atau mengikuti perkembangan zaman. Keduanya justru harus berjalan beriringan. Khittah memberikan arah dan identitas, sedangkan transformasi menjadi sarana agar cita-cita perjuangan tetap hidup, berkembang dan relevan.
Mathla’ul Anwar tidak boleh kehilangan akarnya, tetapi juga tidak boleh takut menjulangkan cabangnya setinggi mungkin. Sebab, organisasi yang besar adalah organisasi yang mampu menjaga nilai-nilai fundamentalnya sambil terus beradaptasi dengan perubahan.
Dengan demikian, visi “Mathla’ul Anwar Naik Level: Bangkit, Berdaya, dan Berpengaruh” dapat diwujudkan sebagai gerakan pembaruan yang tetap berpijak pada khittah pengabdian kepada umat, bangsa dan agama.
*Zaenal Abidin Syuja’i adalah Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Mathla’ul Anwar (PBMA)/Pemerhati Pendidikan dan Keumatan.






