Kisah Adam Malik: Dari Wartawan hingga Tokoh Diplomasi Dunia

Sabtu, 21 Februari 2026 - 13:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Heru Riyadi, S.H., M.H.(Foto: Mercinews.com)

Heru Riyadi, S.H., M.H.(Foto: Mercinews.com)

“Kisah Adam Malik memperlihatkan bahwa peran pers, diplomasi, dan kepemimpinan dapat saling terhubung dalam perjalanan seorang tokoh bangsa.”

Mercinews.com – Nama Adam Malik tercatat sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah Indonesia. Ia dikenal sebagai wartawan, diplomat, Menteri Luar Negeri, hingga Wakil Presiden ke-3 RI. Perjalanan hidupnya menunjukkan transformasi dari seorang jurnalis muda menjadi figur yang diperhitungkan di panggung internasional.

Adam Malik lahir di Pematangsiantar, Sumatera Utara, pada 22 Juli 1917. Pendidikan formalnya tidak panjang, ia pernah menempuh pendidikan di Sumatera Thawalib Parabek. Pada usia 20 tahun, ia merantau ke Jakarta dan mulai aktif dalam kegiatan pergerakan.

Di dunia jurnalistik, Adam Malik menjadi salah satu pendiri Kantor Berita Antara. Melalui Antara, ia dan rekan-rekannya menyebarkan berita perjuangan kemerdekaan Indonesia ke dalam dan luar negeri. Peran pers saat itu menjadi instrumen penting dalam memperkuat posisi Indonesia di mata dunia internasional.

Kariernya kemudian berkembang ke bidang diplomasi. Pada 1971, ia terpilih sebagai Presiden Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam sidang ke-26 di New York. Ia menjadi orang Indonesia pertama dan hingga kini satu-satunya yang pernah menduduki posisi tersebut. Kepemimpinannya dalam forum internasional itu memperkuat reputasi Indonesia di kancah global.

Baca Juga:  Kedaulatan Rakyat di Persimpangan Jalan: Mengapa Demokrasi Kita Perlu Diselamatkan dari Oligarki Politik?

Selain itu, ia turut berperan dalam proses kembalinya Indonesia menjadi anggota PBB pada 1966 serta menjadi salah satu tokoh yang terlibat dalam pendirian Association of Southeast Asian Nations melalui Deklarasi Bangkok pada 1967.

Setelah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri selama lebih dari satu dekade, ia dilantik sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia pada 1978. Adam Malik wafat pada 5 September 1984 dan dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 1998.

Baca Juga:  Membaca Korupsi dari Perspektif Kekuasaan

Kisah Adam Malik memperlihatkan bahwa peran pers, diplomasi, dan kepemimpinan dapat saling terhubung dalam perjalanan seorang tokoh bangsa.

Seperti pepatah, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama dan nama Adam Malik tetap tercatat dalam sejarah Indonesia.

*Dilansir dari berbagai sumber, ditulis ulang oleh Heru Riyadi, S.H., M.H., Penasihat Asosiasi Media Konvergensi Indonesia (AMKI) Pusat, Dosen Universitas Pamulang 

Berita Terkait

Rebahan yang Ditakuti Negara
Hilangnya Disiplin Kelembagaan
Menolak Gugatan Ganti Rugi Immateriil, Pengadilan Negeri Bekasi Menguntungkan PT BKP?
Sipilisasi Polri dan Jalan Panjang Reformasi yang Terlupakan
Don Dasco Layak Jadi Wapres, Apalagi Mendagri
Korupsi Penyakit Kronis yang Meruntuhkan Fondasi Peradaban Bangsa
Membaca Korupsi dari Perspektif Kekuasaan
Menggugat Keberadaan Negara Zionis Israel

Berita Terkait

Sabtu, 18 Juli 2026 - 12:26 WIB

Rebahan yang Ditakuti Negara

Minggu, 28 Juni 2026 - 18:25 WIB

Hilangnya Disiplin Kelembagaan

Sabtu, 27 Juni 2026 - 13:05 WIB

Menolak Gugatan Ganti Rugi Immateriil, Pengadilan Negeri Bekasi Menguntungkan PT BKP?

Rabu, 10 Juni 2026 - 15:48 WIB

Sipilisasi Polri dan Jalan Panjang Reformasi yang Terlupakan

Senin, 8 Juni 2026 - 11:00 WIB

Don Dasco Layak Jadi Wapres, Apalagi Mendagri

Berita Terbaru

Prof. Yolanda Masnita Siagian (Foto: Dok. Pribadi)

Opini

Rebahan yang Ditakuti Negara

Sabtu, 18 Jul 2026 - 12:26 WIB