Kesalehan Asesoris, Potensi Eksploitasi Nilai-nilai Keluhuran Agama

Minggu, 4 Januari 2026 - 14:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Zaenal Abidin Syuja’i.(Foto: Dok.Pribadi)

Zaenal Abidin Syuja’i.(Foto: Dok.Pribadi)

“Citra religius diproduksi dan dipertontonkan, sementara praktik korupsi, penyalahgunaan wewenang, dan kebijakan yang abai terhadap keadilan sosial terus berlangsung.”

Oleh Zaenal Abidin Syuja’i

Kesalehan di ruang publik kian sering tampil sebagai asesoris. Ia hadir lewat simbol, slogan, dan gestur religius yang mudah dikenali, namun sering kali terpisah dari tanggung jawab etik. Kesalehan yang dapat disebut kesalehan asesoris ini bukan fenomena sepele. Ia membuka ruang luas bagi eksploitasi nilai-nilai keluhuran agama.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Agama itu sendiri pada dasarnya menuntut konsistensi antara keyakinan dan tindakan. Ia menguji integritas, kejujuran, dan keberanian moral, terutama ketika berhadapan dengan kekuasaan. Namun, kesalehan asesoris justru mereduksi tuntutan itu menjadi tampilan luar.

Baca Juga:  Hak Jawab, Bukti dan Posisi Media dalam Menyikapi Somasi

Simbol menggantikan substansi. Apa yang dinilai bukan lagi dampak etis dari tindakan, melainkan seberapa religius citra yang diproyeksikan. Potensi eksploitasi paling nyata terlihat dalam arena politik. Di tengah masyarakat yang masih menempatkan agama sebagai rujukan moral, simbol kesalehan menjadi instrumen efektif untuk membangun legitimasi.

Citra religius diproduksi dan dipertontonkan, sementara praktik korupsi, penyalahgunaan wewenang, dan kebijakan yang abai terhadap keadilan sosial terus berlangsung. Dalam situasi ini, agama berhenti menjadi sumber koreksi moral dan berubah menjadi tameng kekuasaan. Kesalehan asesoris juga berdampak pada cara publik menilai integritas.

Baca Juga:  Hari Kebebasan Pers Sedunia: Fenomena Si Paling Wartawan

Tampilan religius kerap mengaburkan kebutuhan akan akuntabilitas. Kritik terhadap kebijakan atau perilaku pejabat mudah dipelintir sebagai serangan terhadap iman. Akibatnya, ruang kritik menyempit dan standar etika publik merosot. Agama, yang seharusnya memperkuat keberanian moral, justru dipakai untuk membungkam pertanyaan etis.

Di luar arena politik, kesalehan simbolik bekerja dalam logika pasar. Ia dikemas, diproduksi, dan dijual sebagai identitas. Agama masuk ke wilayah komoditas dan secara nyata kehilangan daya transformatifnya. Nilai-nilai luhur direduksi menjadi citra yang menguntungkan, bukan prinsip yang menuntut pengorbanan dan keberpihakan.

Baca Juga:  Kedaulatan Rakyat di Persimpangan Jalan: Mengapa Demokrasi Kita Perlu Diselamatkan dari Oligarki Politik?

Masalahnya bukan pada simbol keagamaan itu sendiri. Simbol selalu menjadi bagian dari tradisi dan ekspresi iman. Persoalan muncul ketika simbol mengambil alih peran nilai, ketika kesalehan diukur dari apa yang tampak, bukan dari dampaknya terhadap keadilan, kejujuran, dan kesejahteraan bersama.

Kesalehan yang relevan bagi ruang publik adalah kesalehan yang bekerja dan tercermin dalam kebijakan yang adil, pengelolaan kekuasaan yang bersih, serta keberanian menolak penyimpangan. Tanpa itu, kesalehan hanya tinggal asesoris, rapi dipajang, tetapi hampa makna.

*Penulis adalah Pengasuh Pondok Pesantren Mathla’ul Anwar, Kota Serang, Provinsi Banten.

Berita Terkait

OTT KPK dan Pelajaran Pembenahan Sistem
Harapan Umat kepada Muktamar Ke-35 NU
110 Tahun Mathla’ul Anwar: Refleksi Peran Organisasi Keumatan dan Mandat Masa Depan
81 Tahun Indonesia Merdeka, Gubernur BI Akan Tetap Menghadapi Lingkaran Setan
Transformasi Mathla’ul Anwar, Dari Warisan Sejarah Menuju Gerakan Masa Depan
Menjemput Fajar Abad Kedua Mathla’ul Anwar
Rebahan yang Ditakuti Negara
Hilangnya Disiplin Kelembagaan

Berita Terkait

Rabu, 16 September 2026 - 00:17 WIB

OTT KPK dan Pelajaran Pembenahan Sistem

Selasa, 25 Agustus 2026 - 21:43 WIB

Harapan Umat kepada Muktamar Ke-35 NU

Minggu, 23 Agustus 2026 - 16:10 WIB

110 Tahun Mathla’ul Anwar: Refleksi Peran Organisasi Keumatan dan Mandat Masa Depan

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 09:05 WIB

81 Tahun Indonesia Merdeka, Gubernur BI Akan Tetap Menghadapi Lingkaran Setan

Selasa, 11 Agustus 2026 - 22:55 WIB

Transformasi Mathla’ul Anwar, Dari Warisan Sejarah Menuju Gerakan Masa Depan

Berita Terbaru

Lionel Jaden Huang, Siswa Kelas XI IPS Calvin School Sunter Jakarta. (Foto: Dok. Pribadi)

Artikel

Tukša: Ketika Ruang Putih Menjadi Cermin Kehampaan Manusia

Senin, 21 Sep 2026 - 10:25 WIB