“Teknologi boleh mengubah cara kita menyampaikan berita, tetapi integritas, keberanian, dan nurani tetap menjadi jiwa jurnalisme. Pers mahasiswa harus terus berpikir kritis, berani bersuara, dan setia merawat kebenaran di tengah derasnya arus informasi.”
Oleh: Sayid Iskandarsyah
Kondisi industri media saat ini sedang menghadapi tekanan besar akibat disrupsi digital dan perkembangan kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI). Teknologi AI menghadirkan efisiensi dalam proses produksi, kurasi, dan distribusi informasi. Namun, perubahan tersebut sekaligus menggeser ekosistem persaingan media, mulai dari ketidakpastian algoritma media sosial hingga krisis kepercayaan publik terhadap informasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT

Di tengah gelombang perubahan tersebut, keberadaan persma menjadi sorotan. Apakah pers mahasiswa akan ikut tergerus arus digitalisasi, atau justru mengambil peran sebagai salah satu kekuatan yang mendorong kebangkitan jurnalisme yang berintegritas?
Pertanyaan ini penting karena pers mahasiswa tidak sekadar menjadi wadah publikasi di lingkungan kampus. Lebih dari itu, pers mahasiswa merupakan ruang pembelajaran demokrasi, pengasahan nalar kritis dan penyampaian aspirasi yang independen.
Ruang Penyampaian Pendapat Independen
Pers mahasiswa memiliki karakter dan tantangan tersendiri dibandingkan dengan media arus utama. Di tengah tekanan komersialisasi, pers mahasiswa memiliki peluang untuk menjaga independensi editorial dan mengutamakan kepentingan publik di atas pertimbangan bisnis.
Ruang redaksi pers mahasiswa menjadi tempat bagi mahasiswa mengasah nalar kritis melalui karya jurnalistik yang berpijak pada fakta dan realitas sosial. Keberanian mengungkap kebenaran, mengawasi kekuasaan, serta memberi ruang bagi kelompok marginal merupakan bagian penting dari peran tersebut.
Namun, idealisme saja tidak cukup untuk mempertahankan keberadaan pers mahasiswa. Di era yang ditandai oleh dominasi algoritma dan perubahan pola konsumsi informasi, pers mahasiswa dituntut mampu beradaptasi. Tantangannya bukan hanya menyangkut ketersediaan waktu, tenaga, dan biaya, tetapi juga kemampuan memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan jati diri jurnalistik.
Kecerdasan Artifisial: Peluang dan Tantangan
Saat ini, kecerdasan artifisial semakin banyak dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, termasuk produksi dan penyebaran informasi. Dalam hitungan detik, teknologi AI dapat membantu menyusun tulisan, mengolah data, dan merangkum informasi. Namun, teknologi yang sama juga dapat disalahgunakan untuk memproduksi konten menyesatkan, menyebarkan disinformasi, serta memperkuat propaganda di ruang digital.
Banjir informasi yang tidak diimbangi kemampuan verifikasi berpotensi mengaburkan batas antara fakta dan manipulasi. Dalam situasi ini, pers mahasiswa tidak cukup hanya mempertahankan pola kerja redaksi konvensional. Mereka perlu mengembangkan kompetensi digital agar mampu bekerja secara efektif tanpa mengabaikan prinsip jurnalistik.
AI dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk menganalisis data, menelusuri dokumen, memetakan pola disinformasi, serta mendukung liputan mendalam dan investigatif. Teknologi tersebut juga dapat membantu redaksi memahami kebutuhan pembaca dan memperluas distribusi karya jurnalistik kepada generasi muda.
Meski demikian, penggunaan AI harus disertai sikap kritis dan tanggung jawab editorial. Informasi yang dihasilkan teknologi tetap harus diperiksa, sumbernya diverifikasi dan akurasinya dipastikan sebelum dipublikasikan. AI tidak boleh menggantikan proses konfirmasi, penilaian jurnalistik, maupun tanggung jawab manusia atas isi pemberitaan.
Di sinilah keunggulan pers mahasiswa perlu dipertahankan. Teknologi dapat membantu mempercepat pekerjaan, tetapi kepekaan sosial, empati, keberanian, dan tanggung jawab terhadap masyarakat harus tetap menjadi landasan kerja jurnalistik.
Kembali ke Khitah Jurnalistik
Pers mahasiswa perlu kembali meneguhkan khitahnya sebagai ruang pengembangan jurnalisme yang berpihak pada kebenaran dan kepentingan publik.
Prinsip tersebut diwujudkan melalui verifikasi informasi, keberimbangan, independensi, serta penerapan kaidah dan etika jurnalistik, baik dalam pemberitaan di lingkungan kampus maupun di tengah masyarakat.
Pada era konvergensi media, algoritma platform digital kerap mendorong penyebaran konten yang memancing emosi dan memperkuat polarisasi. Sementara itu, tuntutan kecepatan publikasi dapat membuat proses pemeriksaan fakta terabaikan.
Pers mahasiswa harus mampu menjawab tantangan tersebut dengan menghasilkan karya jurnalistik yang kontekstual, reflektif, dan humanis. Kecepatan tidak boleh mengalahkan akurasi, sedangkan popularitas konten tidak semestinya menjadi ukuran tunggal keberhasilan sebuah pemberitaan.
Isu yang diangkat pun perlu menyentuh persoalan nyata, mulai dari kondisi kelompok marginal, kebijakan kampus yang membatasi kebebasan berekspresi, hingga persoalan lingkungan di tingkat lokal, nasional, dan global.
Melalui liputan yang berbasis fakta dan kepentingan publik, pers mahasiswa dapat menjalankan fungsi kontrol sosial sekaligus memperluas ruang dialog.
Di tengah tantangan disrupsi media, kolaborasi antarpers mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi juga semakin diperlukan. Kerja sama dapat memperluas perspektif, memperkuat kapasitas liputan, dan mendorong lahirnya karya jurnalistik yang lebih mendalam.
Menghilangkan Ego Sektoral
Salah satu tantangan dalam membangun gerakan pers mahasiswa adalah ego sektoral antarorganisasi dan perguruan tinggi. Perbedaan latar belakang, kepentingan, maupun tradisi organisasi seharusnya tidak menjadi penghalang untuk membangun jejaring dan solidaritas.
Persma perlu memiliki visi bersama untuk mengambil peran dalam ekosistem pers Indonesia. Langkah tersebut dapat dimulai melalui pertukaran pengetahuan, pelatihan jurnalistik lintas kampus, kolaborasi liputan, serta penguatan kapasitas redaksi dalam menghadapi perkembangan teknologi.
Solidaritas tidak cukup dibangun melalui pertemuan atau pernyataan bersama. Solidaritas perlu diwujudkan dalam kerja nyata yang memperkuat independensi, integritas, dan kemampuan persma dalam menjalankan fungsi jurnalistiknya.
Pada saat yang sama, adaptasi terhadap teknologi harus berjalan beriringan dengan komitmen terhadap kaidah jurnalistik dan kode etik. Kemampuan menggunakan AI dan platform digital akan kehilangan maknanya apabila tidak disertai tanggung jawab dalam menyampaikan informasi kepada publik.
Pada akhirnya, era AI dan disrupsi media bukanlah lonceng kematian bagi persma, melainkan tantangan untuk memperkuat relevansi dan perannya. Kampus tidak seharusnya hanya menjadi tempat mencetak sarjana untuk memenuhi kebutuhan industri, tetapi juga menjadi ruang pembentukan warga negara yang kritis, mandiri, dan peduli terhadap persoalan masyarakat.
Selama integritas, keberanian dan nurani tetap terpelihara di ruang-ruang redaksi, persma akan selalu memiliki alasan untuk bertahan dan berkembang. Di tengah derasnya arus informasi digital, persma juga harus terus menjaga independensi, menolak bungkam, dan merawat kewarasan publik.
*Penulis adalah wartawan senior yang saat ini menjabat Pemimpin Redaksi Media Owrite.id






