Jakarta, Mercinews.com – Direktur Eksekutif Indonesia Development Research (IDR) Fathorrahman Fadli mendorong Presiden Prabowo Subianto memperkuat pemberantasan korupsi dan mewujudkan pendidikan gratis dari jenjang sekolah dasar hingga perguruan tinggi.
Kebijakan tersebut dinilai dapat menjadi terobosan yang memberikan dampak jangka panjang bagi pembangunan bangsa dan kesejahteraan masyarakat.
Pandangan itu disampaikan Fathorrahman Fadli merespons kondisi negara yang kian dipenuhi praktik korupsi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Korupsi sudah berada di luar ambang batas kesabaran rakyat yang semakin susah memenuhi kebutuhan hidupnya, saya yakin Presiden tahu betul hal itu,” katanya dalam keterangan tertulis, Kamis (4/6).
Pria yang akrab disapa Mr.Ong itu mengingatkan kembali cita-cita dan legacy Prabowo untuk memperbaiki nasib bangsa.
Ia menilai Presiden harus lebih keras dan dramatis dalam memberantas korupsi, namun tetap mempertimbangkan aspek kepantasan secara etika.
“Prabowo harus mampu memberi efek kejut yang menakutkan para koruptor,” tegasnya.
Benahi Polisi dan Jaksa
Fathorrahman menilai itikad baik Prabowo harus terlihat lewat pembenahan kinerja penegakan hukum di kepolisian dan kejaksaan.
Ia mendesak Presiden segera mengeksekusi rekomendasi Komisi Percepatan Reformasi Polri (KPRP) yang dinilai sudah bekerja bagus menata Polri jadi alat negara bebas intervensi bisnis dan politik.
“Jika Presiden tidak sungguh-sungguh melaksanakan, maka ada potensi dia sedang memancing amarah rakyat yang tak mungkin bisa dibendung,” ujar Fathorrahman yang tercatat sebagai Anggota Pokja KPRP.
Gratiskan Pendidikan, Legacy Baru Prabowo
Selain berantas korupsi, IDR menyoroti pentingnya pendidikan gratis dari SD hingga perguruan tinggi sebagai langkah strategis masa depan bangsa. Menurut Fathorrahman, program itu sama populisnya dengan Makan Bergizi Gratis (MBG), tapi efek jangka panjangnya jauh lebih berguna.
“MBG mengenyangkan, sedang pendidikan itu mencerdaskan,” jelas Dosen di salah satu perguruan tinggi terbesar dengan 105 ribu mahasiswa itu.
Ia menyebut, lewat pendidikan gratis Prabowo berpeluang ditulis sejarah sebagai Bapak Pendidikan Nasional baru setelah Ki Hajar Dewantara.
Ia berargumen masyarakat cerdas akan mampu menyelesaikan masalahnya secara mandiri. Pendidikan gratis juga dinilai lebih akuntabel karena anggarannya mudah dihitung.
“Jadi tidak ada lagi cerita rakyat tidak bisa sekolah akibat miskin dan tidak punya biaya,” ujarnya.
Fathorrahman juga meminta kebijakan penerimaan mahasiswa jalur mandiri Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang membuat Uang Kuliah Tunggal (UKT) makin mahal segera dikaji ulang.
“Harapannya, tidak ada lagi masyarakat yang kehilangan kesempatan melanjutkan pendidikan karena keterbatasan biaya,” pungkasnya.(red)






