Tasikmalaya, Mercinews.com – Sebuah situs bersejarah yang sarat nilai spiritual dan budaya kembali menyita perhatian publik. Tim Ekspedisi Wisata Sejarah yang dipimpin Abah H. Anton Charliyan mengunjungi Situs Batu Lingga Gunung Payung yang terletak di Dusun Awiluar, Desa Sirnajaya, Kecamatan Karangjaya, Kabupaten Tasikmalaya. Kawasan ini diyakini sebagai bagian penting dari peradaban Kerajaan Nagara Tengah, salah satu kerajaan kuno di Tatar Sunda.
Perjalanan menuju lokasi dimulai dari Lapangan Kiara Korsi, tempat tumbuhnya dua pohon kiara raksasa yang diperkirakan berusia ratusan hingga ribuan tahun. Dari pusat Kota Tasikmalaya, lokasi ini dapat ditempuh dalam waktu sekitar 45 menit menggunakan kendaraan roda empat. Setelah itu, peserta ekspedisi harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sekitar 30 menit melalui jalur terjal dan licin, terutama saat hujan.
Sepanjang jalur pendakian, tim menemukan sejumlah titik bersejarah. Bukit pertama merupakan lokasi Cai Kahuripan, tempat penyucian diri sebelum mencapai puncak. Di bukit kedua terdapat makam Kiayi Jaga Bejo Jaka Supena, dan lebih ke atas lagi Batu Pangasahan Si Belang, yang diyakini digunakan sebagai sarana ritual zaman dahulu. Setelah melewati tanjakan terakhir, rombongan tiba di puncak lokasi utama, Batu Lingga Yoni Gunung Payung.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Batu lingga tersebut berdiri tegak di atas gundukan tanah di sisi kanan puncak bukit. Batu ini memiliki tinggi sekitar 80 sentimeter dengan lebar 20 sentimeter dan ujung berbentuk setengah lingkaran. Di bagian bawahnya terdapat ukiran melengkung di empat sisi, menunjukkan bahwa batu ini adalah hasil karya manusia, bukan batu alami.
Sayangnya, batu yoni atau alas batu lingga kini telah hilang. Berdasarkan keterangan warga dan perangkat desa, dulunya batu tersebut berada di tengah puncak bukit, namun dipindahkan ke posisi sekarang. Tidak ada catatan pasti mengenai waktu dan alasan pemindahan batu yoni tersebut.
Pusat Spiritualitas Leluhur Sunda

Pada masa kejayaan Kerajaan Nagara Tengah, Batu Lingga Gunung Payung merupakan tempat suci bagi raja, bangsawan, dan masyarakat untuk berdoa, bertapa, serta memohon perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Hingga kini, masyarakat setempat masih meyakini bahwa doa yang dipanjatkan dengan hati bersih dan tulus di tempat ini akan lebih mudah dikabulkan.
Gunung Payung juga diyakini menjadi lokasi pertapaan para raja dan tokoh besar dari Kerajaan Nagara Tengah, Kabataraan Galunggung, hingga Galuh Pakuan. Di puncak tertinggi, terdapat dua makam kuno yang dipercaya sebagai makam Eyang Rama Gumulung Putih dan Eyang Ratu Gumulung Putih, leluhur dari Kerajaan Galunggung.
Menurut catatan naskah kuno, situs ini awalnya merupakan punden berundak, bentuk arsitektur sakral pada masa pra-Islam di Nusantara. Namun, letusan gunung dan proses alam mengubur sebagian bentuk aslinya. Para pemerhati sejarah menilai perlu dilakukan ekskavasi arkeologis untuk mengungkap struktur asli situs ini.
Asal-usul pasti Batu Lingga Gunung Payung masih menjadi misteri. Beberapa sumber menyebut batu ini dibuat pada masa awal Kerajaan Galuh sekitar abad ke-7, sementara yang lain meyakini berasal dari masa Kabataraan Galunggung pada abad ke-9, atau bahkan masa Kerajaan Nagara Tengah sekitar abad ke-14. Para peneliti menyarankan uji carbon dating untuk memastikan usianya secara ilmiah.
Warisan Leluhur yang Perlu Dilestarikan
Tim ekspedisi kali ini terdiri atas sejumlah tokoh, di antaranya Kapolsek Tanjungjaya Iptu Deny H., tokoh masyarakat H. Iyus, Tim Gasantana Hadi Permana dan Ambu Apong, Kades dan Sekdes Sirnajaya H. Asep Sopandi, Kadus Awiluar, Kapuskesmas Tanjungjaya dr. Kustiana, Karang Taruna, dan warga setempat. Total peserta ekspedisi sekitar 20 orang.
Kegiatan ekspedisi ditutup dengan botram atau makan bersama di Saung Haji Iyus, Karangjaya. Menu tradisional seperti gurame bakar, pepes, ayam kampung goreng, sambal lalap pedas, asin peda, jengkol, dan pete melengkapi suasana kebersamaan usai napak tilas jejak sejarah panjang Gunung Payung.
Situs Batu Lingga Gunung Payung bukan hanya peninggalan masa lalu, tetapi juga saksi peradaban Sunda yang merekam jejak spiritualitas, sistem kepercayaan, dan kehidupan sosial budaya masyarakat pada zamannya. Pelestarian situs ini menjadi penting agar generasi mendatang tetap dapat belajar dan menghargai warisan leluhur Nusantara.(red)






