Batu Lingga Gunung Payung: Saksi Sejarah Peradaban Sunda di Tasikmalaya

Kamis, 16 Oktober 2025 - 11:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Budayawan Sunda, Abah H. Anton Charliyan, saat berada di Batu Lingga Gunung Payung, yang terletak di Dusun Awiluar, Desa Sirnajaya, Kecamatan Karangjaya, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.(Foto: istimewa)

Budayawan Sunda, Abah H. Anton Charliyan, saat berada di Batu Lingga Gunung Payung, yang terletak di Dusun Awiluar, Desa Sirnajaya, Kecamatan Karangjaya, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.(Foto: istimewa)

Tasikmalaya, Mercinews.com – Sebuah situs bersejarah yang sarat nilai spiritual dan budaya kembali menyita perhatian publik. Tim Ekspedisi Wisata Sejarah yang dipimpin Abah H. Anton Charliyan mengunjungi Situs Batu Lingga Gunung Payung yang terletak di Dusun Awiluar, Desa Sirnajaya, Kecamatan Karangjaya, Kabupaten Tasikmalaya. Kawasan ini diyakini sebagai bagian penting dari peradaban Kerajaan Nagara Tengah, salah satu kerajaan kuno di Tatar Sunda.

Perjalanan menuju lokasi dimulai dari Lapangan Kiara Korsi, tempat tumbuhnya dua pohon kiara raksasa yang diperkirakan berusia ratusan hingga ribuan tahun. Dari pusat Kota Tasikmalaya, lokasi ini dapat ditempuh dalam waktu sekitar 45 menit menggunakan kendaraan roda empat. Setelah itu, peserta ekspedisi harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sekitar 30 menit melalui jalur terjal dan licin, terutama saat hujan.

Sepanjang jalur pendakian, tim menemukan sejumlah titik bersejarah. Bukit pertama merupakan lokasi Cai Kahuripan, tempat penyucian diri sebelum mencapai puncak. Di bukit kedua terdapat makam Kiayi Jaga Bejo Jaka Supena, dan lebih ke atas lagi Batu Pangasahan Si Belang, yang diyakini digunakan sebagai sarana ritual zaman dahulu. Setelah melewati tanjakan terakhir, rombongan tiba di puncak lokasi utama, Batu Lingga Yoni Gunung Payung.

Batu lingga tersebut berdiri tegak di atas gundukan tanah di sisi kanan puncak bukit. Batu ini memiliki tinggi sekitar 80 sentimeter dengan lebar 20 sentimeter dan ujung berbentuk setengah lingkaran. Di bagian bawahnya terdapat ukiran melengkung di empat sisi, menunjukkan bahwa batu ini adalah hasil karya manusia, bukan batu alami.

Sayangnya, batu yoni atau alas batu lingga kini telah hilang. Berdasarkan keterangan warga dan perangkat desa, dulunya batu tersebut berada di tengah puncak bukit, namun dipindahkan ke posisi sekarang. Tidak ada catatan pasti mengenai waktu dan alasan pemindahan batu yoni tersebut.

Pusat Spiritualitas Leluhur Sunda

Batu Lingga Gunung Payung: Saksi Sejarah Peradaban Sunda di Tasikmalaya
Budayawan Sunda, Abah H. Anton Charliyan bersama Tim Ekspedisi Wisata Sejarah saat berada di Batu Lingga Gunung Payung, yang terletak di Dusun Awiluar, Desa Sirnajaya, Kecamatan Karangjaya, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.(Foto: istimewa)

Pada masa kejayaan Kerajaan Nagara Tengah, Batu Lingga Gunung Payung merupakan tempat suci bagi raja, bangsawan, dan masyarakat untuk berdoa, bertapa, serta memohon perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Hingga kini, masyarakat setempat masih meyakini bahwa doa yang dipanjatkan dengan hati bersih dan tulus di tempat ini akan lebih mudah dikabulkan.

Baca Juga:  26 Tahun Berbagi di Tanah Kelahiran, Anton Charliyan Bersama Mitrapol Gelar Baksos Idulfitri di Tasikmalaya

Gunung Payung juga diyakini menjadi lokasi pertapaan para raja dan tokoh besar dari Kerajaan Nagara Tengah, Kabataraan Galunggung, hingga Galuh Pakuan. Di puncak tertinggi, terdapat dua makam kuno yang dipercaya sebagai makam Eyang Rama Gumulung Putih dan Eyang Ratu Gumulung Putih, leluhur dari Kerajaan Galunggung.

Menurut catatan naskah kuno, situs ini awalnya merupakan punden berundak, bentuk arsitektur sakral pada masa pra-Islam di Nusantara. Namun, letusan gunung dan proses alam mengubur sebagian bentuk aslinya. Para pemerhati sejarah menilai perlu dilakukan ekskavasi arkeologis untuk mengungkap struktur asli situs ini.

Asal-usul pasti Batu Lingga Gunung Payung masih menjadi misteri. Beberapa sumber menyebut batu ini dibuat pada masa awal Kerajaan Galuh sekitar abad ke-7, sementara yang lain meyakini berasal dari masa Kabataraan Galunggung pada abad ke-9, atau bahkan masa Kerajaan Nagara Tengah sekitar abad ke-14. Para peneliti menyarankan uji carbon dating untuk memastikan usianya secara ilmiah.

Baca Juga:  Keteladanan Umat Muslim Bali dalam Menjaga Harmoni di Tengah Ketegangan Timur Tengah

Warisan Leluhur yang Perlu Dilestarikan

Tim ekspedisi kali ini terdiri atas sejumlah tokoh, di antaranya Kapolsek Tanjungjaya Iptu Deny H., tokoh masyarakat H. Iyus, Tim Gasantana Hadi Permana dan Ambu Apong, Kades dan Sekdes Sirnajaya H. Asep Sopandi, Kadus Awiluar, Kapuskesmas Tanjungjaya dr. Kustiana, Karang Taruna, dan warga setempat. Total peserta ekspedisi sekitar 20 orang.

Kegiatan ekspedisi ditutup dengan botram atau makan bersama di Saung Haji Iyus, Karangjaya. Menu tradisional seperti gurame bakar, pepes, ayam kampung goreng, sambal lalap pedas, asin peda, jengkol, dan pete melengkapi suasana kebersamaan usai napak tilas jejak sejarah panjang Gunung Payung.

Situs Batu Lingga Gunung Payung bukan hanya peninggalan masa lalu, tetapi juga saksi peradaban Sunda yang merekam jejak spiritualitas, sistem kepercayaan, dan kehidupan sosial budaya masyarakat pada zamannya. Pelestarian situs ini menjadi penting agar generasi mendatang tetap dapat belajar dan menghargai warisan leluhur Nusantara.(red)

Berita Terkait

Imigrasi Bali Gencarkan Patroli Dharma Dewata, Awasi Aktivitas WNA
Akademisi USK Soroti Konflik PTPN IV Cot Girek, Minta Pemerintah Fasilitasi Dialog
Imigrasi Ngurah Rai Buka Layanan Paspor Akhir Pekan di Discovery Mall Bali
Imigrasi Ngurah Rai Sampaikan Kronologi Kematian WNA Australia di Ruang Detensi
Imigrasi Ponorogo Buka Layanan Paspor CPMI di LTSA, Permudah Pengurusan Dokumen ke Luar Negeri
Imigrasi Ngurah Rai Dekatkan Layanan Publik Lewat Immigration Lounge
400 KK Penambang di Aceh Selatan Desak Percepatan Penetapan Wilayah Pertambangan Rakyat
Bertemu Sael di Manokwari, Gugun Gumilar Dorong Pemuda Papua Kuliah ke Luar Negeri

Berita Terkait

Rabu, 15 Juli 2026 - 21:24 WIB

Imigrasi Bali Gencarkan Patroli Dharma Dewata, Awasi Aktivitas WNA

Selasa, 14 Juli 2026 - 20:43 WIB

Akademisi USK Soroti Konflik PTPN IV Cot Girek, Minta Pemerintah Fasilitasi Dialog

Sabtu, 11 Juli 2026 - 19:21 WIB

Imigrasi Ngurah Rai Buka Layanan Paspor Akhir Pekan di Discovery Mall Bali

Sabtu, 11 Juli 2026 - 18:45 WIB

Imigrasi Ngurah Rai Sampaikan Kronologi Kematian WNA Australia di Ruang Detensi

Jumat, 10 Juli 2026 - 19:07 WIB

Imigrasi Ponorogo Buka Layanan Paspor CPMI di LTSA, Permudah Pengurusan Dokumen ke Luar Negeri

Berita Terbaru