Jakarta, Mercinews.com – Konsistensi dalam menjaga dan mengembangkan warisan budaya Nusantara mengantarkan tokoh pelestari budaya Sunda, Irjen Pol (Purn.) Dr. Drs. H. Anton Charliyan, M.P.K.N., atau yang akrab disapa Abah Anton Charliyan, menerima Anugerah Kehormatan Sri Raksa Kalpa Budaya dari Majelis Adat Budaya Keraton Nusantara (Madukara).
Melalui keterangan tertulis yang diterima Mercinews.com di Jakarta, Senin (19/12/2025), Abah Anton Charliyan menyampaikan bahwa penghargaan tersebut diserahkan dalam rangkaian Gelar Budaya Segoro Gunung IX yang digelar di Balai Agung Keraton Amarta Bumi, Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (27/12/2025).
Anugerah Sri Raksa Kalpa Budaya disampaikan langsung oleh Ketua Umum Madukara SA Prabu Punto Djoyonegoro, didampingi Sultan Indra Usman dari Kesultanan Indrapura, Sumatera Barat, serta Raja Anak Agung Ngurah Putra Darma selaku Penglingsir Puri Bali.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain Abah Anton Charliyan, Madukara juga menganugerahkan penghargaan serupa kepada sejumlah tokoh nasional, antara lain Mayjen TNI Rido Hermawan, Mayjen TNI Rionardo, Laksda TNI Gandawilaga, S.E., M.M., CRMP., Laksda TNI Eddy Tarjono, M.Tr.Opsla., dari Lemhannas, Prof. Dr. Dewi Anggraeni (Wakil Rektor IV Universitas Pamulang), Rd Dicky Sastradikusuma dari Sukapura, serta Kombes Pol. Dinnar Widargo, S.I.K, M.M., dari Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Banten.
Rekam Jejak Pelestarian Budaya
Madukara menilai Abah Anton Charliyan sebagai figur yang memiliki rekam jejak panjang dan konsisten dalam pelestarian budaya, khususnya budaya Sunda. Kiprah tersebut telah ditunjukkan sejak masih aktif sebagai perwira Polri hingga memasuki masa purnatugas.
Semasa menjabat Kapolwil Priangan pada 2008 hingga Kapolda Jawa Barat periode 2016–2017, Abah Anton dikenal aktif mendorong berbagai program yang mengintegrasikan nilai budaya dengan tata kelola pemerintahan dan keamanan. Upaya tersebut dilakukan melalui pelindungan situs sejarah, penguatan identitas budaya lokal, hingga pembinaan kampung adat.
Sejumlah program dan karya yang pernah digagas di antaranya pendirian Tugu Kujang Pusaka setinggi 15 meter di Kampung Adat Naga, Tasikmalaya, serta penggagasan Gong Perdamaian Dunia di Situs Karangkamulyan, Ciamis. Ia juga mendorong penggunaan Aksara Sunda Kaganga pada papan nama satuan kepolisian di wilayah Priangan.
Selain itu, Abah Anton terlibat dalam pembinaan kampung adat Naga, Dukuh, dan Kuta, pendirian Padepokan dan Museum Pasulukan Lokaganda Sasmita di Garut, pembangunan Museum Galunggung di Tasikmalaya, serta pelindungan berbagai situs sejarah dan museum di Jawa Barat dan Sulawesi Selatan.
Kontribusinya juga tercatat dalam bidang literasi budaya, antara lain melalui penyusunan pedoman penulisan Aksara Sunda Kaganga, pelatihan bagi guru sekolah dasar dan menengah, serta penerbitan sejumlah buku bertema sejarah dan budaya Sunda.
Melalui Kajian Mendalam
Madukara menegaskan bahwa Anugerah Sri Raksa Kalpa Budaya diberikan melalui proses kajian mendalam. Penghargaan ini tidak didasarkan pada jabatan atau pangkat, melainkan pada kontribusi nyata, keberlanjutan program, serta dampak pelestarian budaya yang dirasakan masyarakat.
Atas Anugerah Sri Raksa Kalpa Budaya dari Madukara, Abah Anton Charliyan menyampaikan apresiasi dan mengucapkan terima kasih.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada Madukara dan Keraton Amarta Bumi atas kepercayaan yang diberikan. Pelestarian budaya adalah tanggung jawab bersama, dan saya berharap dapat terus berkontribusi untuk menjaga warisan budaya Nusantara,” ucap budayawan Sunda kelahiran Kota Tasikmalaya itu.
Acara Gelar Budaya Segoro Gunung IX turut dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kendal dan Semarang, perwakilan trah Keraton Surakarta dan Yogyakarta, Keraton Sumenep, Madura serta para budayawan Nusantara lainnya. Prosesi berlangsung khidmat dalam suasana kekeluargaan dan sarat nilai tradisi.(red)






