MERCINEWS.COM – Maraknya penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) oleh mahasiswa dalam mengerjakan tugas dan ujian mendorong perguruan tinggi meninjau ulang sistem penilaian akademik. Di tengah kekhawatiran atas kejujuran dan kualitas pembelajaran, ujian lisan kembali dilirik sebagai metode evaluasi yang dinilai lebih mampu mengukur pemahaman nyata mahasiswa.
Survei yang dilakukan Inside Higher Ed-College Pulse menunjukkan, 85 persen mahasiswa di Amerika Serikat mengaku pernah menggunakan AI dalam kegiatan akademik. Pemanfaatan tersebut mencakup diskusi perkuliahan, kuis, hingga penyelesaian tugas secara langsung dengan bantuan platform AI.
Angka ini mencerminkan perubahan signifikan dalam pola belajar mahasiswa, seiring makin mudahnya akses terhadap teknologi kecerdasan buatan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Perubahan perilaku tersebut tak terlepas dari pergeseran budaya belajar sejak pandemi Covid-19. Pembelajaran jarak jauh dan ujian take home membuka celah bagi mahasiswa untuk menyerahkan proses pengerjaan tugas, esai, hingga pemrograman kepada sistem AI.
Kondisi ini semakin menguat sejak kemunculan platform AI generatif pada 2022. Fenomena tersebut dikenal sebagai cognitive offloading, yakni praktik ketika individu menyerahkan sebagian proses berpikir dan analisis kepada teknologi.
Kampus Mulai Mendesain Ulang Sistem Penilaian
Menghadapi realitas tersebut, perguruan tinggi mulai mencari model penilaian yang lebih tahan terhadap intervensi AI. Survei Inside Higher Ed-College Pulse mencatat, sekitar 30 persen kampus merasa perlu mendesain ulang metode evaluasi mahasiswa.
Salah satu pendekatan yang dipertimbangkan ialah mengombinasikan kembali metode penilaian konvensional, seperti ujian tulis tangan berbasis buku, presentasi lisan, serta evaluasi tanpa perangkat digital.
Langkah ini bertujuan mengalihkan fokus penilaian dari sekadar hasil tertulis yang tampak rapi menuju proses bernalar dan kemampuan mahasiswa menjelaskan gagasan secara langsung, sebagaimana dilaporkan eWeek.
Ujian Lisan Dinilai Lebih Tahan terhadap Intervensi AI
Ujian lisan menjadi salah satu metode yang dinilai efektif untuk menyiasati penggunaan AI dalam perkuliahan. Metode ini dapat diterapkan secara tatap muka maupun daring.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa dituntut menjelaskan konsep, mempertahankan argumen, dan menyintesis materi secara spontan. Situasi tersebut membuat ketergantungan pada AI generatif menjadi jauh lebih sulit karena proses penilaian berlangsung secara langsung.
Bagi dosen, ujian lisan menawarkan sejumlah keunggulan. Metode ini memungkinkan pengajar menilai kedalaman pemahaman mahasiswa secara lebih akurat tanpa bergantung pada perangkat pendeteksi AI yang kerap dinilai tidak presisi dan justru menambah beban kerja.
Selain itu, pendekatan ini dinilai mampu memperbaiki relasi dosen dan mahasiswa karena mengurangi pendekatan konfrontatif dalam pembuktian pelanggaran akademik setelah tugas dikumpulkan.
Kendati demikian, ujian lisan bukan tanpa keterbatasan. Metode ini sulit diterapkan pada kelas dengan jumlah mahasiswa besar, membutuhkan waktu lebih lama, dan menambah beban dosen di tengah keterbatasan sumber daya.
Karena itu, para akademisi menilai ujian lisan paling efektif jika dijadikan bagian dari strategi penilaian campuran, bukan menggantikan sepenuhnya ujian konvensional.
Strategi Penilaian Alternatif Mulai Diterapkan
Selain ujian lisan, sejumlah pendekatan lain mulai diterapkan di berbagai kampus. Sebagian dosen kembali menggunakan ujian tulis tangan di kelas dengan buku ujian khusus dan pembatasan akses perangkat digital.
Dosen lainnya merancang ulang tugas dengan menekankan proses, seperti penyusunan draf bertahap, anotasi, serta sesi pemecahan masalah langsung yang mengharuskan mahasiswa menunjukkan alur berpikir mereka. Di beberapa kasus, penilaian melalui presentasi, praktikum, dan kerja kolaboratif dengan pengawasan juga terbukti efektif menekan penggunaan AI.
Di sisi mahasiswa, ujian lisan cenderung mendapat respons positif. Sejumlah mahasiswa melaporkan lebih menyukai metode ini dibanding tes konvensional karena memberi kesempatan untuk terlibat aktif dan menunjukkan pemahaman secara nyata.
Kajian akademik tahun 2025 yang diterbitkan Taylor & Francis merekomendasikan agar pendidik diberi kewenangan institusional untuk merancang sistem evaluasi sesuai kebutuhan pembelajaran.
Meski tidak sepenuhnya membuat sistem penilaian kebal terhadap AI, kombinasi berbagai metode evaluasi dinilai mampu menghadirkan penilaian yang lebih menantang sekaligus mendorong pendidikan tinggi lebih jujur dan jelas dalam merumuskan tujuan pembelajaran di era kecerdasan buatan.(red/berbagai sumber)






