Mercinews.com – PTPN IV PalmCo memperluas program pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) pandai besi sebagai bagian dari penguatan rantai pasok alat panen perkebunan. Setelah berhasil membina pengrajin di Provinsi Riau, perusahaan kini mereplikasi program tersebut ke Sumatera Utara (Sumut) dan menjajaki potensi pengembangan di Jambi.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, menjelaskan, program ini merupakan komitmen perusahaan dalam menciptakan nilai tambah bagi perekonomian masyarakat di sekitar wilayah operasional perkebunan.
“Pemberdayaan UMKM pandai besi ini menjadi salah satu strategi penguatan rantai pasok inti perusahaan. Kami ingin memastikan alat panen yang digunakan di kebun-kebun PalmCo diproduksi oleh masyarakat sekitar. Dengan pendampingan yang tepat sasaran, kualitas produk lokal ini tidak kalah dengan pabrikan besar. Pada saat yang sama, kami menciptakan lapangan kerja dan menggerakkan roda ekonomi desa,” ujar Jatmiko, dalam keterangan tertulis, Selasa (3/3/2026).
Jatmiko menjelaskan, standardisasi dan legalitas kelembagaan menjadi fokus utama dalam pendampingan pengrajin. Hal itu merujuk pada keberhasilan pembinaan Koperasi Merah Putih Teratak di Desa Teratak, Kecamatan Rumbio Jaya, Kabupaten Kampar, Riau.
Berawal dari kelompok pengrajin kecil yang mendapat bantuan modal kerja, pelatihan, serta kepastian pembelian (off-taker), koperasi tersebut kini menjadi pemasok alat panen bagi operasional PalmCo di wilayah Riau. Pemerintah Kabupaten Kampar bahkan mengusulkan koperasi tersebut sebagai salah satu koperasi percontohan tingkat nasional.
Bawa Perubahan
Kepala Koperasi Merah Putih Teratak, Desrico Apriyus, mengatakan, pendampingan berkelanjutan dari PTPN IV PalmCo membawa perubahan signifikan bagi pengrajin di desanya.
“Selain simpan pinjam dan perdagangan, kami merupakan kumpulan pandai besi yang dibina PTPN IV sehingga mampu menjadi sentra produsen alat pertanian yang telah merambah ke luar Riau bahkan hingga mancanegara,” ujarnya.
Melihat potensi tersebut, PTPN IV PalmCo mengembangkan program serupa di Sumut. Terdapat empat koperasi yang sedang diinkubasi, yakni Koperasi Berkah Pandai Besi di Kabupaten Labuhanbatu Utara, Koperasi Simpati Maju Bersama di Kabupaten Asahan, Koperasi Produsen Pandai Besi Tanah Jawa di Kabupaten Simalungun, serta Koperasi Produsen Melati Jaya Steel di Kabupaten Serdang Bedagai.
Secara kumulatif, inisiatif di Sumut ini telah merangkul puluhan tenaga kerja lokal yang sebelumnya bekerja secara perorangan.
Pada tahap awal, perusahaan memfasilitasi transisi pengrajin individu menjadi badan hukum koperasi. Pendampingan mencakup penerbitan surat keputusan koperasi, akta pendirian, pengurusan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), pendaftaran Online Single Submission (OSS), penerbitan Nomor Induk Berusaha (NIB), pengurusan tingkat komponen dalam negeri (TKDN), hingga sertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI) produk.
Bersyukur
Kepala Koperasi Berkah Pandai Besi, Asmadi Prayetno, menyebut legalitas dan sertifikasi selama ini menjadi kendala bagi pengrajin kecil.
“Kami bersyukur PTPN IV PalmCo turun tangan merangkul kami. Sebelumnya kami hanya pengrajin perorangan yang belum memahami perizinan maupun SNI. Dengan dibentuk dalam wadah koperasi dan difasilitasi pengurusan legalitasnya, produk kami kini memiliki payung hukum dan standar yang jelas untuk masuk ke perusahaan,” katanya.
Hal senada disampaikan Kepala Koperasi Simpati Maju Bersama, Edy Syafrizal. Ia menilai pendampingan tersebut meningkatkan daya saing pengrajin.
“Dengan adanya legalitas kelembagaan dan pembinaan standar kualitas, semangat pengrajin meningkat. Kini kami memiliki bekal untuk memproduksi alat panen sesuai standar sehingga mampu bersaing di pasar industri perkebunan yang lebih luas,” ujarnya.
Jajaki Pengembangan di Jambi
Setelah berjalan di Riau dan Sumut, PTPN IV PalmCo memastikan program pemberdayaan ini akan terus diperluas ke provinsi lain. Perusahaan tengah melakukan penjajakan awal dengan kelompok UMKM pandai besi di Desa Koto Padang, Kota Sungai Penuh, Jambi, yang bernaung di bawah Koperasi DLN.
“Ekspansi berkelanjutan ini diharapkan dapat mendorong kemandirian pengrajin lokal sekaligus memperkuat ekosistem penyediaan alat pertanian perkebunan nasional,” harap Jatmiko.(red)






