JAKARTA, MERCINEWS.COM – Produksi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV PalmCo mencapai 2,7 juta ton sepanjang 2025. Kinerja tersebut menunjukkan penguatan produktivitas kebun yang menjadi penopang utama pertumbuhan produksi di tengah fokus industri sawit nasional pada intensifikasi lahan.
Siaran pers PalmCo, Senin (26/1/2026) menyebutkan bahwa sepanjang 2025, produktivitas kebun PalmCo tercatat sebesar 4,8 ton CPO per hektar. Angka ini meningkat sekitar 4 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut mencerminkan perbaikan kinerja budidaya, panen, dan pengolahan, serta efektivitas pengelolaan operasional di seluruh regional perusahaan.
Penguatan produktivitas lahan sejalan dengan arah kebijakan nasional yang menekankan pertumbuhan industri sawit melalui optimalisasi lahan eksisting, bukan ekspansi area. Pendekatan ini dinilai penting untuk menjawab tuntutan keberlanjutan dan tata kelola lingkungan yang semakin ketat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto sebelumnya menegaskan bahwa sektor-sektor strategis nasional, termasuk kelapa sawit, perlu memperkuat produktivitas agar tetap kompetitif. Komoditas sawit dipandang memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian nasional, penciptaan lapangan kerja, serta posisi Indonesia di pasar global.
Presiden juga menekankan bahwa peningkatan produksi ke depan harus bertumpu pada produktivitas per hektar, pemanfaatan teknologi, dan penerapan praktik berkelanjutan. Dengan pendekatan tersebut, industri sawit nasional diharapkan mampu beradaptasi terhadap dinamika global tanpa mengabaikan aspek lingkungan.
Strategi Korporasi Menuju 2026
Di tingkat perusahaan, manajemen PalmCo menilai capaian sepanjang 2025 sebagai hasil dari konsistensi pembenahan fundamental operasional. Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K. Santosa mengatakan, peningkatan produksi dan produktivitas tersebut menjadi landasan penting dalam menyiapkan arah pengelolaan ke depan.
“Capaian produksi dan produktivitas pada 2025 menunjukkan bahwa penguatan dasar pengelolaan kebun dan pabrik memberikan hasil yang nyata. Ini menjadi modal awal bagi PalmCo untuk melangkah ke fase berikutnya,” ujar Jatmiko.
Memasuki 2026, PalmCo menetapkan kerangka pengelolaan perusahaan melalui pendekatan Basic–Consistency–Improvement. Pada tahap Basic, perusahaan memastikan standar dasar budidaya, panen, dan pengolahan dijalankan secara menyeluruh. Tahap Consistency diarahkan untuk menjaga penerapan standar tersebut secara seragam, sedangkan Improvement difokuskan pada peningkatan berkelanjutan melalui inovasi, digitalisasi, dan penguatan sumber daya manusia.
Selain aspek operasional, PalmCo juga menempatkan keberlanjutan sebagai bagian dari strategi jangka panjang. Program peremajaan tanaman, pengelolaan lingkungan, serta pemenuhan standar tata kelola yang semakin ketat terus diperkuat guna menjaga keberlangsungan usaha.
Dengan produktivitas kebun yang terus menguat dan strategi pengelolaan yang terarah, PalmCo optimistis kontribusi sektor sawit nasional dapat terus ditingkatkan. Di tengah tantangan industri global, peningkatan produktivitas per hektar dinilai menjadi kunci menjaga posisi Indonesia sebagai produsen sawit terbesar di dunia.(red)






