Kondisi Libya Era Gaddafi dan Setelah Dia dibunuh Saat Invasi NATO berebut minyak

Kamis, 23 Maret 2023 - 21:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mercinews.com – Libya Era Muammar Khadafi Pada tahun 1969, Dinasti Senussi termasuk Raja Idris I harus lengser dari kursi pemerintahan.

Mereka diturunkan oleh kelompok Kolonel Muammar Gaddafi yang menginginkan perubahan dalam tata kehidupan rakyat Libya.

Ketika Gaddafi mengambil alih kekuasaan, minyak dijadikan sumber penghasilan utama Libya saat itu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Penghasilan minyak Libya dijadikan sebagai alat untuk menyejahterakan rakyat Libya yang saat itu masih sangat tertinggal dibandingan bangsa lain.

Salah satu kebijakan penting Gaddafi adalah nasionalisasi perusahaan minyak swasta British Petroleum (BP) dan membentuk National Oil Corporation (NOC) yang membentuk sistem ekonomi yang lebih sosialis dibandingkan sebelumnya yang sangat kapitalis.

Dengan kebijakan tersebut, Libya menjadi negara yang sangat sejahtera. Perbaikan dari segala sektor seperti pendidikan, kesehatan, perumahan, kebersihan, lapangan kerja, subsidi listrik, dan lain-lain membuat rakyat Libya menjadi sangat sejahtera.

Baca Juga:  Biden muncul di depan umum pertama kalinya sejak mengundurkan diri dari pilpres AS

Hal ini bisa dibuktikan dengan survei Human Development Index 2011 yang dilakukan oleh PBB. PBB menyebut Libya sebagai negara berkembang yang paling progresif perkembangannya. Libya berubah dari negara termiskin di Afrika menjadi negara termakmur di Afrika di tahun 2011 di bawah kekuasaan Gaddafi.

Human Development Index 2011 juga menyebutkan bahwa Libya yang awalnya tingkat literasinya hanya 6%, berubah menjadi 88,4%. Kemudian angka harapan hidup di Libya sangat tinggi yakni 74,5 tahun. Salah satu angka harapan hidup tertinggi di dunia saat itu.

Libya Setelah Era Muammar Gaddafi

Gaddafi dengan segala prestasinya ternyata tidak disukai oleh pemimpin Barat. Pemimpin Barat ini adalah aliansi NATO yang terdiri dari Amerika Serikat, Inggris, Perancis, dan negara sekutu NATO lainnya.

Baca Juga:  Isi Dokumen AS yang Bocor, Mesir Berencana Kirim 40 Ribu Roket ke Rusia

Gaddafi tidak menggunakan dana utang ke IMF seperti negara lain. Hal ini membuat Libya tidak bisa disetir oleh negara-negara adikuasa seperti Amerika Serikat dan Perancis untuk membuat kebijakan tertentu yang hanya menguntungkan segelintir kelompok.

Media Barat pun membuat framing bahwa Gaddafi adalah diktator kejam Libya yang sudah berkuasa 40 tahun lebih.

Media Barat pun juga menyebut Gaddafi membatas hak-hak perempuan Libya tanpa menyebutkan berbagai prestasi Gaddafi yang membuat semua rakyat Libya begitu sejahtera.

Fenomena Arab Spring pada tahun 2010 yang berawal dari Tunisia hingga merembet ke Libya menjadi awal kejatuhan Gaddafi.

Baca Juga:  Belarus tembak jatuh drone Ukraina di wilayahnya

NATO dengan segala sumber dayanya membuat framing bahwa Gaddafi adalah diktator kejam yang harus dihancurkan.

NATO dan pembelot Libya yang tidak suka dengan kepemimpinan Gaddafi akhirnya bergabung untuk menjatuhkan Gaddafi.

Maret dan Oktober 2011 menjadi saksi bisu pemboman yang dilakukan NATO dan pembelot untuk menjatuhkan Gaddafi dengan alasan melindungi rakyat Libya dari kekejaman Gaddafi dengan nama misi “Responsibility to Protect”.

Gaddafi sendiri akhirnya berhasil dibunuh tahun 2012. Negara NATO dan sekutunya pun berebut minyak yang dihasilkan oleh Libya.

Dan hingga sekarang, konflik di Libya belum selesai. Kehidupan rakyat Libya saat ini jauh lebih buruk dibandingkan saat Gaddafi berkuasa.

 

(*)

 

Sumber: Sindonews

Berita Terkait

Indonesia Berperan Besar Membentuk Tata Kelola Global Berkeadilan
PTPN IV PalmCo Hadir di COP30 Brasil, Tampilkan Transformasi Sawit Rendah Emisi melalui Biogas POME
Zohran Mamdani: Wali Kota New York yang Ingin Tegakkan Hukum Internasional
Timor-Leste Resmi Jadi Anggota ke-11 ASEAN, Babak Baru Kerja Sama Kawasan
Polisi Malaysia Gerebek Sindikat Perdagangan Manusia, 49 WNI Disekap
Ricuh di Peru! Pemerintah Umumkan Keadaan Darurat Setelah Demo Gen Z Meluas
Alhamdulillah, Paket Bantuan dari Indonesia Akhirnya Tiba di Gaza
Sultan Banten Apresiasi dan Dukung Global Sumud Flotilla Tembus Blokade Israel

Berita Terkait

Kamis, 27 November 2025 - 23:03 WIB

Indonesia Berperan Besar Membentuk Tata Kelola Global Berkeadilan

Senin, 17 November 2025 - 15:51 WIB

PTPN IV PalmCo Hadir di COP30 Brasil, Tampilkan Transformasi Sawit Rendah Emisi melalui Biogas POME

Rabu, 5 November 2025 - 23:45 WIB

Zohran Mamdani: Wali Kota New York yang Ingin Tegakkan Hukum Internasional

Minggu, 26 Oktober 2025 - 17:18 WIB

Timor-Leste Resmi Jadi Anggota ke-11 ASEAN, Babak Baru Kerja Sama Kawasan

Jumat, 17 Oktober 2025 - 23:19 WIB

Polisi Malaysia Gerebek Sindikat Perdagangan Manusia, 49 WNI Disekap

Berita Terbaru