Aceh

Haji Uma: Soal Revisi Qanun Jangan Sampai Marwah dan Martabat Aceh Jadi Taruhan

Anggota DPD RI asal Aceh Sudirman alias Haji Uma

Lhokseumawe, Mercinews.com – Anggota DPD RI asal Aceh, Sudirman alias Haji Uma meminta jangan gara-gara revisi qanun Lembaga Keuangan Syariah (LKS) marwah dan martabat Aceh menjadi taruhan.

“Kemudian jangan sampai di Aceh ada pihak islam fobia atau kebencian serta ketakutan terhadap islam,” kata Haji Uma, Jumat, 26 Februari 2023.

Menurut Haji Uma, konsep dalam berpikir sekuler sudah mulai menghantui para tokoh dan sebagian oknum dari masyarakat yang mencoba memisahkan antara Aceh dan syariah, serta hal itu secara pelan-pelan dilakukan dengan gaya ala Barat.

Padahal, kata Haji Uma, untuk menghadirkan Bank Syariah di Aceh harus melalui proses panjang yang susah payah di godok dan menghabiskan banyak anggaran negara, namun saat ini malah hendak dihilangkan.

“Dan dalam hal ini, seolah-olah tidak mempunyai prinsip dan konsisten dalam memperjuangkan Bank Syariah di Aceh,” ujarnya.

Baca Juga:  Pasien Berobat Keluhkan Pelayanan RSUTP Abdya

Haji Uma menyebutkan keberadaan Lembaga Keuangan Syariah (LKS) di Aceh adalah hasil dari perjuangan tumpah darah anak bangsa yang terwujud lewat MoU yang diimplementasikan ke dalam Qanun LKS Aceh Nomor 11 Tahun 2018.

Terkait problematika yang dialami oleh Bank Syariah Indonesia (BSI) beberapa waktu lalu, kata Haji Uma, itu terjadi diduga adanya serangan cyber.

Tetapi, kata Haji Uma, apakah ada jaminan bahwa Bank Konvensional tidak akan mengalami kejadian yang serupa seperti BSI. Menurutnya, semua bank berpotensi di hacker, bukan hanya BSI saja.

“Aceh sendiri mempunyai 13 Bank Syariah, selain BSI yang harus dirangkul dan menjadi komitmen bersama, kita jangan kebakaran jenggot, panik dan latah dengan kejadian yang menimpa BSI, kita khawatir nanti akan terjadi politik kepentingan dengan kembalinya Bank konvensional di Aceh,” sebut Haji Uma.

Baca Juga:  PJ Bupati Abdya Lantik 6 Pimpinan Tinggi Pratama

Haji Uma menyarankan apa yang belum bagus dan sempurna dalam pola syari’ah itu yang harus dibenahi dengan cara mengajak kembali ulama, akademisi ekonomi dan praktisi guna menyempurnakan apa yang belum sempurna.

“Bukan sebaliknya mendegradasi kekhususan yang telah diperoleh dengan susah payah,” tegasnya.

“Kita tidak boleh lengah dan saya yakin kalau Qanun LKS Syariah dicabut, jangan bermimpi kita bisa menghadirkan kembali, kendatipun kita akan mengalirkan air mata darah,” tambahnya.

Oleh karena itu, Haji Uma mengajak mari sama-sama menjaga komitmen untuk menjaga Aceh, bukan menghilangkan yang sudah ada.

“Kita secara khusus memberikan apresiasi kepada semua pihak, para santri, ulama, mahasiswa, akademisi dan tokoh cendekiawan lainnya yang telah mendukung dan komitmen mempertahankan syariat islam di Aceh,” pungkasnya. []

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top