“Di Vihara Siddharta, perbedaan justru menjadi ruang untuk memperkuat persaudaraan. Kerukunan mungkin merupakan jalan yang tidak mudah, tetapi tetap layak untuk diperjuangkan demi masa depan Indonesia yang lebih baik.”
Tangsel, Mercinews.com – Langkah Staf Khusus Menteri Agama (Menag) RI, Gugun Gumilar, terhenti sejenak di pelataran Vihara Siddharta, Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Bukan untuk beribadah, melainkan untuk menyusuri makna kerukunan dari satu rumah ibadah ke rumah ibadah lainnya.
“Karena hidup adalah sebuah cerita. Maka saya menulis cerita perjalanan ini dari satu teologi agama ke agama lain,” kata Gugun Gumilar saat berbagi cerita tentang kerukunan bersama anggota Generasi Muda Buddhis Indonesia (Gemabudhi), Sabtu (30/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Bagi Gugun Gumilar, kerukunan bukan sekadar slogan. Pemahaman itu ia peroleh melalui riset disertasi doktoralnya di Eropa yang mengkaji spirit Dharma Buddha dan Pancasila.
Menurut pria kelahiran Purwakarta itu, terdapat tiga nilai utama yang menjadi fondasi kehidupan berbangsa, yakni mindfulness, kasih sayang, dan ketahanan moral.
“Tidak mudah dan sangat menantang. Namun, inilah bekal yang harus dimiliki generasi bangsa untuk menghadapi berbagai tantangan modern,” ujar Duta Muda PBB dan Pendiri IDE Indonesia yang akrab disapa Gugun.
Dalam kesempatan itu, Gugun juga melantunkan Syair 177 Dhammapada yang berbunyi, “Orang bodoh tidak memuji kemurahan hati. Akan tetapi, orang bijaksana senang memberi, dan karena itu ia akan bergembira di alam berikutnya.”
Menurutnya, pesan tersebut menjadi salah satu nilai yang dibawanya dalam menjalankan tugas di Kementerian Agama (Kemenag).
“Kementerian Agama harus menjadi perekat tenun kebangsaan. Saya turun dari hari ke hari, bertemu, menyapa, dan merangkul umat. Tugas kita tidak ringan menuju 2045. Kita adalah bangsa besar yang harus memiliki visi besar,” tutur alumnus Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung itu.
Menjelang peringatan Hari Raya Waisak yang jatuh pada Minggu (31/5), Gugun menutup kunjungannya dengan mengajak umat Buddha menyambut hari suci tersebut dengan penuh sukacita dan ketenangan.
Di Vihara Siddharta sore itu, perbedaan justru menjadi ruang untuk memperkuat persaudaraan.
Kerukunan mungkin merupakan jalan yang tidak mudah, tetapi tetap layak untuk diperjuangkan demi masa depan Indonesia yang lebih baik.(red)






